Saturday, January 26, 2013

[Fakta] Syahadat Ahmadiyah

         27 - 01 - 2013
         10 : 56 AM




         Berikut saya akan bagikan video yang menarik. Seorang Ahmadiyah selama 12 tahun mengatakan tentang syahadat Ahmadiyah. Seperti yang telah saya katakan sebelumnya, tidak ada syahadat yang berbeda, syahadat Ahmadiyah itu sama seperti yang di ajarkan Rasulullah Muhammad saw. Asyhaduallaa ilaaha ilallah, wa asyhaduanna muhammadar rasullah. Aku bersaksi tidak ada Tuhan selain Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah.
         Lalu pertanyaannya, apakah kalian akan tetap menutup mata dan telinga setelah mendengar pengakuan langsung dari anggota jema'at Ahmadiyah ini?
         Singkat saja, terakhir saya ingin mengutip ayat Al-Qur'an di akhir tulisan ini.

Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak juga akan beriman. (QS. 2:6)

Allah telah mengunci-mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat. (QS. 2:7)






http://www.youtube.com/watch?v=HeIphJunHwg

12 comments:

Manfirgos Chaniago said...

Asyhadu an-Laa Ilaaha Illallah wa Asyhadu an-Na Muhammadarrosuululloh

1. Bagi muslim NU dan muhammadiyah menyakini nabi Muhammad bin
Abdullah bin Abdul Muthalib adalah nabi mereka dan nabi akhir zaman hingga kiamat tiba.

Bagaimana dengan ahmadiah.......????

2.Bagi muslim NU dan muhammadiyah mempunyai kitab suci Al-quran dan kota suci Mekkah

Bagaimana dengan ahmadiah.......????

khalid ahmad said...

Wah, pertanyaan seperti ini patutnya ditanyakan kepada mubaligh Ahmadiyah. Karena saya merasa tidak pantas menjawab pertanyaan untuk mewakili Ahmadiyah.
Tapi kalau ingin mendengar jawaban itu yang mewakili atas diri saya sendiri, bukan mewakili Ahmadiyah. Maka jawaban (sepengetahuan) saya :

1. Sederhana saja jawaban saya, sama. Ahmadiyah meyakini, ayat khaataman nabiyyin. Hanya beda penafsiran saja dengan Islam umumnya di Indonesia. Tetapi penafsiran ini bukanlah penafsiran yang baru, karena sebelum Ahmadiyah muncul. Sudah banyak ulama-ulama salaf / ulama-ulama terdahulu yang menafsirkan sama seperti yang Ahmadiyah tafsirkan.

2. Sederhana saja jawaban saya, sama.

Mhd Hanafi said...

Bagaimana Menurut anda dengan yang ini :

Para ulama islam di negeri Arab dan benua India telah sepakat dalam kekafiran Al-Qadiyaniah diantaranya perwakilan dari organisasi Islam yang menghadiri konferensi Rabithah Alam Islamy yang diadakan di kota suci Mekkah.

Dimana Fatwa Para Ulama ٍٍSedunia SBB :

Sesungguhnya apa yang diklaim Mirza Ghulam Ahmad tentang kenabian dirinya, tentang risalah yang diembannya dan tentang turunnya wahyu kepada dirinya adalah sebuah pengingkaran yang tegas terhadap ajaran agama yang sudah diketahui kebenarannya secara qath’i (pasti) dan meyakinkan dalam ajaran Islam,

yaitu bahwa Muhammad Rasulullah adalah Nabi dan Rasul terakhir dan tidak akan ada lagi wahyu yang akan diturunkan kepada seorangpun setelah itu.

Keyakinan seperti yang diajarkan Mirza Ghulam Ahmad tersebut membuat dia sendiri dan pegikutnya menjadi murtad, keluar dari agama islam.

Aliran Qadyaniyah dan Aliran Lahoriyah adalah sama, meskipun aliran yang disebut terakhir (Lahoriyah) meyakini bahwa Mirza Ghulam Ahmad hanyalah sebagai bayang-bayang dan perpanjangan dari Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam“.

Keputusan Mujamma’ al-Fiqh al-Islami –Akademi Fiqih Islam– Organisasi Konferensi Islam (OKI) Nomor 4 (4/2) dalam Muktamar II di Jeddah, Arab Saudi, pada tanggal 10-16 Rabi’ al-Tsani 1406 H / 22-28 Desember 1985 M).

khalid ahmad said...

Saya ucapkan terima kasih banyak sebelumnya atas komentarnya. Saya suka dengan komentar seperti ini, komentar dengan baik dan tidak langsung emosi tidak jelas.

Begini, sebetulnya kalau saudara membaca semua postingan saya tentang Ahmadiyyah, niscaya saudara akan mendapatkan jawaban saya tanpa perlu bertanya. Tetapi karena saudara menanyakannya dengan baik, maka saya akan jawab juga dengan baik.

Jadi begini menurut saya, kita ini beragama berdasarkan Al-Qur'an dan hadist atau berdasarkan fatwa ulama? Islam itu datangnya dari Allah swt melalui rasulnya Muhammad saw. Pantas tidaknya seseorang di sebut Islam menurut saya yang paling berhak menentukan hal itu adalah Allah swt dan rasulullah saw.

Ingat, ketika jaman rasulullah dahulu pun ada juga yang mengaku Nabi, bahkan ia mengirim surat kepada rasulullah saw dan mengaku bahwa ia berbagi kenabian dengan rasulullah saw, mengaku Islam tetapi ajarannya menghalalkan minuman keras, dsb. Lantas seperti apa sikap rasulullah saw saat itu, apa rasulullah saw langsung menyerang, membunuh, memfatwakan kafir, dsb? Tidak. Silahkan saudara baca-baca lagi sejarahnya.

Lalu soal tidak adanya lagi wahyu setelah Nabi Muhammad saw meninggal. Ingat, dahulu pada saat para sahabat ingin memandikan jenasah rasulullah saw, mereka mendapat wahyu dari Allah swt. Lalu sepengetahuan saya imam Bukhori pun juga pernah mendapat wahyu. Coba saudara baca-baca lagi.

Lalu apakah tafsir yang berbeda mengenai wahyu dan kenabian itu hanya ada pada Ahmadiyyah? Tidak, banyak para ulama-ulama salaf (ulama-ulama terdahulu) bahkan sebelum Ahmadiyyah lahir pun telah ada yang menafsirkan seperti yang Ahmadiyyah tafsirkan. Ulama-ulama sekarang saja yang memang menafsirkan berbeda, yaitu terputusnya wahyu atau kenabian setelah rasulullah saw. Nabi dan wahyu akan tetap ada, sebagaimana Al-Qur'an jelaskan. Allah swt senantiasa mengutus para rasulnya ketika memang keadaan dibutuhkan.

Lalu apakah Tuhan (Allah swt) yang dahulu dengan Tuhan (Allah swt) yang sekarang berbeda atau sama? Kalau dahulu Tuhan memiliki sifat berkata-kata kepada makhluknya, apa lantas Tuhan sekarang (nauzubillahi min zalik) memiliki sifat bisu? Tentu tidak.
Bahkan sepengetahuan saya imam Bukhori pun dalam menafsirkan khaataman nabiyyin juga tidak seperti itu. Yang dimaksud khaataman nabiyyin itu adalah tidak akan nabi pembawa syariat baru. Jadi ketika ada nabi baru, maka nabi itu pasti akan membawa syariat rasulullah saw. Sehingga tidak berlawanan dengan ayat khaataman nabiyyin.

Lalu terakhir, saya kurang setuju kalau dikatakan fatwa para ulama sedunia. Karena setahu saya saat konferensi itu yang hadir hanya ulama dari beberapa negara saja. Dan seperti yang saya jelaskan tadi, tidak semua ulama menafsirkan seperti yang ulama-ulama sekarang tafsirkan. Ulama dahulu saja banyak kok yang menafsirkan berbeda, kalau memang ulama-ulama sekarang mayoritas sudah menafsirkan seperti itu ya biar saja, itu hak-hak mereka.

Ingat, rasulullah saw bersabda "Sudah hampir tiba suatu zaman, kala itu tidak ada lagi dari Islam kecuali hanya namanya, dan tidak ada dari Al-Qur’an kecuali hanya tulisannya. Masjid-masjid mereka indah, tetapi kosong dari hidayah. Ulama mereka adalah sejahat-jahat makhluk yang ada di bawah kolong langit. Dari merekalah keluar fitnah, dan kepada mereka fitnah itu akan kembali."

Mari sama-sama kita mencari kebenaran. Jangan sampai kita terjebak mengikuti ulama-ulama seperti yang di nubuwatkan oleh baginda rasulullah saw :)

Mhd Hanafi said...

Maf ya pak... para ulama ulama ini berkumpul di kota suci mekkah lho... dan para ulama disana berusaha menjaga kesucian ajaran syariat isalam yang dibawah oleh nabi Muhammmad S.A.W.

Dan Juga Dibawah ini ada beberapa sabda Nabi Muhammmad S.A.W, Bgaimana menurut anda?????

Rasulullah Saw bersabda:

“Sesungguhnya kerasulan dan kenabian telah terputus, maka tidak ada rasul dan nabi sesudahku.”
Rasulullah Saw bersabda:

“Adalah Bani Israil, urusan mereka senantiasa diatur oleh para Nabi, setiap Nabinya telah wafat, maka akan diganti Nabi yang lain. Akan tetapi, tidak ada nabi sesudahku; yang ada adalah para khalifah dan jumlahnya sangat banyak.

Rasulullah Saw bersabda:
“Aku adalah Muhammad. Aku adalah Ahmad. Aku adalah al-Mâhiy yang menghapus kekafiran. Aku adalah al-Hâsyir yang mengumpulkan manusia di telapak kakiku. Dan aku adalah al-‘âqib yang tidak ada nabi setelah aku.”

Rasulullah Saw bersabda:
Sesungguhnya, saya adalah Nabi yang paling akhir, dan sesungguhnya masjidku adalah yang paling akhir dari sekalian masjid yang dibangun oleh para Nabi.”

Rasulullah Saw bersabda:
“Tidak ada nabi, di antara aku dan ia, yakni ‘Isa as, sesungguhnya ia adalah tamu. Bila kalian melihatnya, maka kalian akan mengenalnya sebagai seorang laki-laki yang mendatangi sekelompok kaum yang berwarna merah dan putih, seakan kepalanya turun hujan, bila ia tidak menurunkan hujan, maka akan basah, Dan ia akan memerangi manusia atas Islam, menghancurkan salib, membunuhi babi, mengambil jizyah, saat itu Allah menghancurkan seluruh agama kecuali Islam, sedangkan ‘Isa as menghancurkan Dajjal. Dan ia berada di muka bumi selama 40 tahun, kemudian wafat dan kaum muslimin mensholatkannya.”

khalid ahmad said...

Tentu, saya tahu kok hal itu. Kan saya sudah bilang, mau ulama kumpul di mekkah, madinah, dsb. Apa lantas kita harus berpatokan dengan itu dalam beragama? Kita beragama bukan berpatokan dengan orang arab, tapi Al-Qur'an dan hadits.

Bicara soal mekkah, saya jadi teringat akan perkataan sebuah guru saya ketika dahulu saya mengaji tiap minggu di masjid Muhammadiyah. Beliau adalah lulusan terbaik dari sebuah pesantren, saya lupa / tidak tahu pesantren mana, gontor atau mana, karena sudah lama sekali sekitar saat saya SMA kelas 2. Beliau bukan pula orang Ahmadiyyah, mungkin Muhammadiyah. Sebetulnya saya tidak begitu suka sih menggolong-golongkan orang, yah pokoknya beliau itu orang yang dalam pemahaman agamanya. Dan beliau juga sepertinya hafal Al-Qur'an, dan banyak hadist. Karena berdasarkan pengalaman ketika disebutkan potongan ayat beliau bisa melanjutkan dan menyebutkan surat dan ayat keberapa, begitu pula dengan hadits. Bahkan bahasa arabnya pun fasih. Lalu beliau pernah di biayai pergi umroh. Lalu yang saya ingat beliau ketika itu bercerita, bahwa penduduk di negara arab sudah banyak menyimpang dari sunnah. Saat itu saya tidak begitu tertarik dan mengikuti apa yang beliau katakan, sehingga saya tidak bisa menjelaskan dengan detail kenapa beliau berkata seperti itu. Yang pasti beliau tidak mengatakan hal itu tanpa dasar ataupun alasan yang jelas.

Dan lalu soal hadits-hadits yang saudara sebutkan itu. Saya sudah pernah mendengar dan membaca soal penjelasan hadits-hadits tersebut, dari mulai kaidah bahasa arabnya, bahkan sampai masalah perawi-perawinya. Tapi terlalu panjang untuk dijelaskan disini, silahkan saudara baca-baca lagi mengenai itu. Secara singkat saya berikan gambaran, belajar hadits itu jangan hanya dari arti terjemahan seseorang saja. Tanyakan kepada ahlinya kaidah bahasa arabnya seperti apa, pengertian, dsb. Sama seperti halnya khaataman nabiyyin. Betul penutup/cincin/perhiasan para nabi, tapi penutup/cincin/perhiasan yang seperti apa. Al-Qur'an saya mengartikan ada yang berbeda-beda, apalagi hadits.

Kalau saudara ingin minta penjelasan yang lebih atau detail, lebih baik saudara datangi masjid Ahmadiyyah di daerah saudara. Temui mubaligh disana. Lalu tanyakan hal-hal seperti itu, insya Allah mubaligh akan memberikan penjelasan yang jelas dan detail dibandingkan saya. Masjid Ahmadiyyah terbuka untuk siapa saja kok, tidak hanya untuk jema'at Ahmadiyyah saja. Orang-orang saja yang selama ini salah mengartikan. Kalau saudara tidak boleh masuk masjid Ahmadiyyah, atau dianggap najis, dsb. Beritahu kepada saya masjid Ahmadiyyah dimana yang seperti itu.

Yah, yang perlu diingat. Saya ini bukan mubaligh, bisa di bilang saya ini seperti orang yang berbahasa inggris pasif. Saya paham kalau orang inggris mengucap, tapi saya tidak begitu lancar kalau untuk mengucapkannya. Terima kasih.

khalid ahmad said...

Ah saya ingat, kalau tidak salah guru saya waktu itu berkata bahwa di arab itu banyak maksiat, dsb. Sehingga banyak yang jauh dari ajaran sunnah dalam kesehariannya. Yang ingin saya gambarkan dari kata-kata beliau adalah, bahwa arab atau timur tengah itu bukan patokan kita beragama. Jangan salah sangka kalau di arab itu semuanya bersih suci tidak ada maksiat dsb. Bahkan setahu saya rumah rasulullah saw, maupun tempat-tempat bersejarah jaman rasulullah pun banyak yang di gusur karena pembangunan kota. Padahal tempat seperti itu seharusnya menjadi saksi-saksi sejarah.

Lalu saya jg ingin menekankan satu hal. Jangan disalah artikan kalau kata-kata saya ini seperti mengatakan bahwa ulama-ulama arab dsb itu tdk benar dsb. Saya hanya ini menggambarkan, bahwa kalau mereka punya tafsir begitu, lalu ada tafsir yang lain, ya tidak masalah. Selama masing-masing tafsir masih berdasarkan dalil Al-Qur'an dan hadits. Kita tidak perlu mengkafirkan seseorang hanya karena perbedaan tafsir.

Yah seperti itu kira-kira yang ingin saya gambarkan.

muhammad yaqub said...

ahmadiyah-difitnah.blogspot.com

Mhd Hanafi said...

Maf..ya, saya tidak tertarik kepada ahmadiyah.. krn saya sudah punya Nabi Muhammad S.A.W.


Pak.. Ini hanya sharing saja tentang pengalaman saya. kejadian ini sudah lama, pengalaman saya sewaktu pertama sekali sholat di mesjid ahmadiyah ( sayapun tidak tau kalau itu mesjid ahmadiyah).

Yaitu setelah saya sholat, tanpa tidak sengaja saya melihat bekas tempat saya sholat kok di Pel pakai air, hanya diarea bekas tempat saya sholat.. dan saya heran.

saya penasaran, kemudain cari tau dengan bertanya kepada teman teman yang tinggal disekitar mesjid itu, dan teman saya memberi tau kalau mesjid itu mesjid nya umat ahmadiyah.

Dan saya bertanya lagi, kok bekas tempat sholat saya langsung di Pel.. dan teman saya menjawab : Karena setiap muslim yang belum di Baiat dan belum mempercayai kalau Ghulam ahmad itu sebagai Imam mahdi dan al-masih maka muslim itu belum berimam dan NAJIS bagi ahmadiyah, jadi makanya bekas tempat sholat kaum muslim itu harus di bersihkan ulang...

Itu lah kesan pertama kali sama melihat ahmadiyah..

Mhd Hanafi said...

Maf Ya.. Pak saya bertanya tentang sosok ghulam ahmad dimasa beliau masih HIDUP.

Jika benar bahwa Mirza Ghulam Ahmad adalah Al Masih yang dinubuatkan maka, saya boleh bertanya tentang kecocokan sosok Mirza Ghulam Ahmad dengan sosok Isa Al Masih yang dijanjikan Berdasarkan Sabda nabi Muhammad S.A.W:



1.Apakah rambut Mirza Ghulam Ahmad tampak seperti meneteskan air padahal tidak basah?

2. Pada zaman Mirza Ghulam Ahmad masih hidup, adakah sejarah yang menyatakan ghulam ahmad sudah memecahkan salib-salib, membunuh babi-babi, menghapus pajak, dan mengajak seluruh manusia kepada agama Islam dan seluruh umat manusi dibumi mengakui kebenaran agama islam?

3. Apakah Allah sudah binasakan seluruh agama-agama selain Islam pada masa zaman Ghulam Ahmad masih hidup?

4. Apakah pada zaman ghulam ahmad masih hidup, sudah kah dia menegakan kemakmuran dan keadilan dimuka bumi?

5.Apakah Ghulam ahmad sudah membunuh Dajjal ?

6. Pernahkah Mirza Ghulam Ahmad memburu lalu membunuh seseorang “Dajjal” atau sekelompok “Dajjal” di Yerusalem tepatnya di pintu gerbang kota lama Yerusalem Lod Gate?

7. Bangsa perusak Yajuj dan Majuj (Gog dan Magog) telah turun dizamannya Isa Al Masih, maka siapakah Yajuj dan Majuj yang berada di sekitar Mirza Ghulam Ahmad pada masa hidupnya?

8.Apakah ada sejarah yang mencatat bahwa mayat Yajuj dan Ma’juj bergelimpangan di India tempat Mirza Ghulam Ahmad tinggal atau dimanapun di bumi ini?

9. Apakah semasa ghulam ahmad masih hidup, sudah kah dia menunaikan ibadah Haji ke kota suci mekkah?

khalid ahmad said...

Ok komentar pertama.
Masjid daerah mana tuh? Yakin itu Ahmadiyyah? Setahu saya yang habis shalat di pel itu bukan Ahmadiyyah, tapi LDII. Maaf ya, tapi sepertinya saudara perlu banyak-banyak membaca lagi. Bahkan dari jaman saya belum kenal Ahmadiyyah saja saya tahu bahkan sering mendengar kalau yang habis shalat di pel lagi itu masjid LDII, sejak dari dulu saya tidak pernah mendengar ada berita non-Ahmadiyyah shalat di masjid Ahmadiyyah habis shalat di pel lagi. Di google aja udah banyak kok pak, ketik saja keyword "habis shalat di pel". Langsung paling atas berita-berita LDII semua. Mana ada berita Ahmadiyyah.

Kalau saudara tidak percaya, silahkan saja saudara datangi masjid tersebut, lalu tanya langsung itu masjid Ahmadiyyah atau apa. Sekarang saya tanya saja, bapak sekarang berada di daerah mana? Saya bantu cari lokasi masjid Ahmadiyyah terdekat dari daerah bapak. Nanti silahkan bapak cek kesana, tes shalat. Kalau di pel, komentar lagi disini. Saya saja pertama kali shalat di masjid Ahmadiyyah di sambut kok, tidak di pel tidak di apa-apa kan. Paling hanya di tanya datang "dari mana", "tahu masjid ini dari mana", dsb. Karena memang Ahmadiyyah itu minoritas di Indonesia, sehingga kalau ada orang baru yang shalat di situ pasti akan terlihat sekali kalau ia adalah orang baru, sehingga kemungkinan besar akan di sapa dan di tanya seperti itu. Terlebih lagi di Indonesia ini Ahmadiyyah sudah sering menjadi target kekerasan, sehingga wajar kalau Ahmadiyyah waspada kepada orang baru yang datang.

Lalu komentar kedua saya rasa tidak perlu saya jawab, karena saudara mengatakan tidak tertarik, untuk apa saya jawab juga. Terima kasih.

khalid ahmad said...

Kepada bapak Muhammad Yaqub. Waduh bagus sekali pak isi web nya. Terima kasih karena sudah sharing webnya. Bagus sekali, apalagi khusus membahas tentang fitnah-fitnah yang dilemparkan kepada Ahmadiyyah, tidak seperti web saya yang amburadul campur aduk hehee. Kepada orang-orang yang mempunyai pertanyaan-pertanyaan tentang Ahmadiyyah mungkin bisa ditemukan di web bapak Muhammad Yaqub ini, silahkan berkunjung kesana.

Terima kasih banyak pak.

Post a Comment

 
Free Website TemplatesFreethemes4all.comFree CSS TemplatesFree Joomla TemplatesFree Blogger TemplatesFree Wordpress ThemesFree Wordpress Themes TemplatesFree CSS Templates dreamweaverSEO Design