Showing posts with label Ahmadiyah. Show all posts
Showing posts with label Ahmadiyah. Show all posts

Thursday, June 6, 2013

[Review] Bunga Bank, dan Riba

         06 - 06 - 2013
         11 : 34 PM




         Here we go, kali ini saya ingin membahas mengenai sistem bunga di Bank, dan Riba. Menarik sekali ya, kebetulan belum lama juga saya mendengar pertanyaan ini diajukan kepada seorang mubaligh pada kelas tarbiyat kemarin. Jadi kata beliau begini, memang menggunakan bunga di bank itu tidak boleh, karena itu seperti halnya riba. Ada baiknya kalau kita tidak menggunakan bunga bank tersebut. Lalu beliau mengatakan sebuah dalil, bahwa pada akhirnya zaman (tepatnya kira-kira ya saat ini atau sekarang ini, karena memang jema'at Ahmadiyyah mengakui bahwa Imam Mahdi yang dijanjikan muncul di akhir zaman telah turun) dunia akan gelap gulita. Manusia akan di kelilingi oleh kegelapan, tetapi kita harus tetap berlari menuju cahaya, meskipun cahaya itu kecil.
         Jadi pengertiannya menurut saya seperti ini, pada akhir zaman kita akan di kelilingi oleh hal-hal yang bersifat dosa. Seperti halnya perzinaan sudah merajalela bagai sesuatu hal yang sudah tidak asing, memperlihatkan aurat sudah hal yang biasa, pergaulan pria dan wanita sudah tak ada batasan, dsb. Begitu pula tidak menutup kemungkinan pada riba, sistem riba yang dikemas menjadi sebuah tempat penyimpanan uang. Sangat sulit sekali untuk kita terlepas dari kegelapan ini. Karena memang kegelapan ini sudah mengelilingi kita. Mau tidak mau atau suka tidak suka, kita akan masuk dalam kegelapan ini, yaitu akhirnya kita akan menggunakan Bank juga. Akan menyulitkan kalau kita tidak menggunakan Bank, karena perusahaan-perusahaan pun sekarang tidak mau memberi gaji secara cash. Mau nya karyawan harus punya rekening sehingga gajinya dapat di transfer. Yah, seperti inilah akhir zaman. Lalu kita harus bagaimana agar harta kita suci dari riba seperti itu?
         Lebih lanjut beliau menjelaskan, kalau bunga itu tidak apa kalau dibayar juga dengan bunga. Dalam artian begini, misal kita menabung di Bank 100 juta, lalu dapat bunga 1 juta. Lalu kita pinjam uang di Bank 10 juta, dan diberi bunga 1 juta. Maka 1 juta itu kita bayar dengan bunga yang kita dapat tadi, maka itu tidak apa, insya Allah harta kita bersih. Lalu beliau menambahkan lagi, kalau kita dapat mengamalkan atau mensedekahkan bunga tersebut untuk perkembangan agama dan yang membutuhkan, maka insya Allah harta kita juga bersih. Jadi kira-kira inti dari perkataan beliau adalah, kita tidak apa menggunakan bank, tetapi bunga pada bank itu tidak boleh kita gunakan untuk kepentingan kita pribadi. Lalu tentang hal ini, seorang mubaligh yang lain juga mengingatkan bahwa kita perbanyak istighfar saja, memohon ampun kepada Allah. Karena segala petunjuk dan kebenaran hanya datang dari Allah. Kita hanya manusia biasa, hanya bisa berusaha sebisa mungkin menghindari dosa, tetapi kita tidak akan bisa luput dari dosa. Kita hanya bisa berusaha, Allah yang akan menentukan. Karena itu perbanyaklah berdoa dan memohon ampunan kepada Allah.
         Menanggapi pernyataan beliau. Saya setuju sih dengan pendapat beliau, bahwa sebaiknya bunga di bank itu tidak digunakan. Akan tetapi kalau saya boleh sedikit mengutarakan pendapat, menurut saya bunga di bank itu sama saja dengan berbagi keuntungan. Dalam artian begini, kita menabung di bank berarti kita sama dengan memberi pinjaman kepada bank tersebut untuk mengolah kembali uang tersebut menjadi sesuatu yang lebih menguntungkan. Nah bunganya itu seperti suatu pembagian keuntungan yang didapat dari pengolahan tadi. Mirip seperti halnya pengembalian uang yang adil secara Islam. Islam mengajarkan bahwa dalam pembayaran hutang-piutang, kita harus bergantung dengan harga emas saat itu dan sekarang. Misal, si A meminjam uang 10 ribu pada tahun 1900 dimana harga emas 10 ribu/gram. Lalu si A ingin mengembalikan uang pinjaman itu pada tahun 2000 dimana harga emas sudah 20 ribu/gram. Tidak bisa si A mengembalikannya hanya dengan 10 ribu saja, ia harus mengembalikannya 20 ribu. Karena harga emas pada tahun 1900 dengan tahun 2000 sudah berbeda. Seperti inilah Islam, mengajarkan cara-cara keadilan. Akan sangat tidak adil kan, kalau kita dengan sangat susah payah mendapatkan uang 10 ribu lalu di pinjam orang, setelah itu 100 tahun kemudian dimana uang 10 ribu sudah tidak berarti apa-apa orang tersebut baru mengembalikan. Itu kan sangat tidak adil.
         Yah seperti itulah kira-kira yang saya tangkap, walaupun saya juga termasuk orang yang tidak membenarkan sistem bunga di bank. Karena menurut saya, sudah dapat menabung di bank saja itu sudah sesuatu yang Alhamdulillah. Saya jadi tidak perlu lagi membawa uang kertas banyak-banyak kemana-mana, cukup dengan membawa selembar kartu atm saja. Jadi saya rasa tidak perlu lah kita mengambil atau menggunakan bunga yang diberikan oleh bank kepada kita, karena bank sendiri sudah memberikan sesuatu yang cukup menguntungkan buat kita.
         Lalu bagaimana dengan orang yang bekerja di bank? Hmm, jujur saja saya belum pernah ya mendengar pertanyaan yang seperti itu. Kalau begitu saya akan berikan pendapat saya pribadi. Menurut saya hampir sama saja sih dengan sistem bunga tadi, apalagi kalau di telaah, posisi orang yang bekerja di bank berarti kira-kira sebagai si peminjam uang. Dimana si peminjam mengembalikan uang pinjamannya lebih kepada si pemberi pinjaman (nasabah). Bukankah itu sangat baik dan di anjurkan? Bahwa kalau kita meminjam uang, kembalikanlah dengan baik (diberi tambahan bonus atau dengan hadiah dsb), sehingga si pemberi pinjaman senang dengan kita. Tapi yah intinya kalau memang niat kita baik untuk bekerja ya jalani saja. Tetapi kalau kita ragu akan pekerjaan itu baik atau buruk, ya kita perbanyak berdoa dan istighfar saja. Memohon petunjuk agar kalau pekerjaan itu buruk, semoga di berikan pekerjaan pengganti yang baik dan tidak menimbulkan perasaan ragu lagi.
         Yah, kira-kira seperti itulah pendapat dan saran saya mengenai sistem bunga di bank, dan riba. Semoga dapat membantu. Sampai jumpa lagi.

Tuesday, May 28, 2013

[Review] Kelas Tarbiyat 2013 (Jakarta, Bekasi, Bogor)

         28 - 05 - 2013
         06 : 43 PM




         Halo, bertemu lagi dengan saya. Kali ini saya ingin berbagi cerita sedikit tentang event beberapa hari lalu yang saya ikuti. 'Kelas Tarbiyat 2013', ya itulah kira-kira nama acaranya. Acara itu merupakan acara yang diadakan oleh pengurus Ahmadiyyah gabungan dari 3 cabang, yaitu : DKI Jakarta, Bekasi, dan Bogor. Acaranya 2 hari, 25-26 Mei. Agak sedikit membosankan sih acaranya, tapi lumayan seru sih saya jadi dapat ilmu yang lumayan banyak dan beberapa kenalan baru. Sayang sekali sih waktu itu saya tidak dapat mengutarakan pesan dan kesan untuk acara ini di depan banyak orang, karena memang ternyata tiap kelas hanya 1 perwakilan saja yang ditunjuk untuk mewakilkan pesan dan kesan dari acara tersebut. Karena waktu itu saya berada di kelas B, jadi waktu itu diwakilkan oleh seorang anak berumur 16 tahun kalau tidak salah dan bernama Ifad.
         Sedikit bercerita tentang anak ini. Saya akui anak ini cukup hebat dan luas pengetahuannya tentang Ahmadiyyah, tetapi menurut saya pribadi anak itu biasa saja, atau memang sudah seharusnya seperti itu. Entah mungkin karena sifat saya yang tidak begitu suka mengelu-elukan seseorang. Tapi sepenglihatan saya sepertinya anak itu adalah seorang anak wakaf e-nou. Seorang anak yang sudah di wakafkan oleh orang tuanya sebagai anak yang seluruh jiwa dan raganya diberikan untuk jema'at. Tetapi kalau dia ternyata bukan seorang wakaf e-nou, ya tentu saja menurut saya itu sangat hebat. Karena ia hafal beberapa ayat, hadist, dan sejarah tentang Ahmadiyyah.
         Kenapa saya menggangap biasa kalau ia ternyata adalah seorang wakaf e-nou? Ya karena seorang wakaf e-nou memang seharusnya seperti itu. Tidak seperti yang sudah saya lihat dari beberapa orang wakaf e-nou, yang malah perilaku dan pemahamannya tidak begitu begitu baik tentang Ahmadiyyah. Malah ada yang kuliah dan sebagainya. Entah mungkin saya yang salah dan terlalu berlebihan menilainya. Tetapi menurut saya seorang wakaf e-nou itu tidak perlu kuliah. Tidak perlu mendalami ilmu-ilmu duniawi yang spesifik. Cukup ketahui ilmu-ilmu duniawi yang umum saja, setelah itu perdalam ilmu-ilmu keagamaan / kerohanian. Sehingga dapat bertabligh dan meluruskan kekeliruan orang-orang dalam memandang Ahmadiyyah.
         Yah, itu hanya pendapat saya saja sih. Karena sepertinya yang telah saya lihat-lihat, seorang wakaf e-nou itu baru akan mewakafkan dirinya setelah umur 20++. Padahal menurut saya lebih baik dari sejak kecil sudah mewakafkan dirinya, sehingga umur belasan sudah dapat seperti Ifad. Yah, hanya pendapat saya pribadi saja sih. Tidak ada maksud menyalahkan atau membenarkan.
         Sebagai penutup, saya ingin sedikit menambahkan dan sharing tentang proses saya mengenal Ahmadiyyah. Jadi begini, yang dikatakan para mubaligh-mubaligh Ahmadiyyah tentang pernikahan seorang Ahmadi dengan non-Ahmadi yang walaupun seorang non-Ahmadi itu akhirnya baiat / masuk ke jema'at, tetapi akhirnya anak dan keturunannya kebanyakan itu terpencar-pencar atau terputus dari jema'at. Ya, itu adalah benar. Karena saya sendiri adalah orang yang seperti itu. Almarhum Ibu saya adalah seorang Ahmadi dari keturunan Ahmadi, lalu Ayah saya seorang Ahmadi yang masuk ke jema'at (mungkin) karena Ibu saya. Setelah Ibu saya meninggal, saya masih kecil, baru berumur 1 atau 2 tahun mungkin. Lalu Ayah saya tidak begitu lama menikah lagi, dan akhirnya lama-kelamaan terputuslah dari jema'at. Saya pun akhirnya besar dan tumbuh bersama Ayah dan Ibu tiri saya. Saya juga cenderung lebih sering berinteraksi dan lebih dekat dengan keluarga Ayah saya. Saya tidak begitu dekat atau mungkin bisa di bilang jauh dengan keluarga Ibu saya (yang rata-rata adalah orang jema'at semua). Saya pun tumbuh, besar, dan belajar agama di kalangan NU dan Muhammadiyah. Karena di rumah saya memang ada 2 masjid, 1 masjid NU yang lumayan dekat dengan rumah. Dan satu masjid Muhammadiyah yang lumayan jauh dari rumah. Tetapi tiap minggu saya lebih sering ngaji di masjid Muhammadiyah, karena memang jadwal pengajian mingguan di masjid Muhammadiyah itu lebih banyak (Jumat maghrib, Sabtu maghrib, Minggu maghrib, Minggu Isya), dibandingkan di masjid NU (Sabtu maghrib, Minggu subuh).
         Saya bisa di bilang cukup paham tentang ajaran dan perbedaan antara 2 ormas tersebut, dan saya juga mendengar cukup banyak tentang Ahmadiyyah dari lingkungan sekitar juga. Waktu itu saya juga adalah orang yang sependapat bahwa Ahmadiyyah itu adalah sesat, tetapi saya tak pernah sependapat tentang kekerasan dalam masalah beragama. Karena memang yang saya pelajari Islam itu bukanlah mengajarkan kekerasan dalam hal seperti itu. Yang paling saya ingat, di Al-Qur'an banyak atau mungkin ada belasan ayat yang mengatakan tentang 'Bagimu agamamu, bagiku agamaku', 'sembah apa yang ingin kamu sembah, aku pun juga menyembah apa yang ingin aku sembah'. Ya, banyak sekali saya rasa ayat-ayat Al-Qur'an maupun hadits-hadits yang bermakna seperti itu. Jadi mengapa kita harus repot-repot bahkan melakukan kekerasan dalam meluruskan pandangan agama seseorang? Toh di akhirat kita akan di mintai pertanggung jawaban masing-masing.
         Jadi kembali lagi ke topik awal, bagaimana saya bisa kenal Ahmadiyyah? Ya, pada akhirnya saya mengetahui bahwa nenek saya maupun keluarga-keluarga dari Ibu kandung saya rata-rata adalah Ahmadiyyah. Saya pun akhirnya berniat mempelajari agama lebih dalam lagi, agar saya bisa meluruskan nenek saya dan keluarga-keluarga nenek saya. Saya pun akhirnya mempelajari dan menelaah ajaran-ajaran seperti apa saja yang harus di luruskan dari ajaran Ahmadiyyah ini. Tetapi ternyata apa, sepertinya malah pandangan saya selama ini yang keliru dan harus diluruskan tentang Ahmadiyyah, dan terlebih lagi tentang Islam. Sepertinya benar kata-kata seorang mubaligh kemarin yang saya dengar di Kelas Tarbiyat, bahwa ketika masih ada fitrat yang baik pada diri manusia, maka ketika datang kebenaran padanya, ia akan tertarik layaknya magnet kepada kebaikan atau jalan yang benar tersebut.
         Yah, kira-kira seperti itulah cerita bagaimana saya bisa mengenal Ahmadiyyah. Saya pun masih terbilang baru beberapa bulan dan baru belajar ajaran Ahmadiyyah. Tetapi sepanjang saya mempelajari ajaran Ahmadiyyah ini, saya tidak menemui kesalahan atau kemelencengan ajaran yang dapat dikategorikan bahwa Ahmadiyyah ini bukan Islam. Yah seperti itulah kira-kira yang ingin saya sampaikan. Jujur saya sedikit kecewa dengan para jema'at Ahmadiyyah umumnya maupun yang seumuran dengan saya khususnya, yaitu ketika kemarin di tanya apakah ada yang sudah membaca 1 buku karya Hadrat Mirza Ghulam Ahmad, tetapi ternyata belum ada atau mungkin ada tetapi baru segelintir orang. Saya sedikit kecewa karena saya sendiri yang bisa di bilang 'orang baru' di jema'at ini saja sudah selesai membaca buku Bahtera Nuh. Yah, mungkin karena kebanyakan dari mereka adalah jema'at keturunan, sehingga mungkin itu yang membuat mereka agak sedikit cuek dengan ajaran Ahmadiyyah.
         Padahal menurut saya ajaran Ahmadiyyah ini adalah luar biasa, sebuah ajaran rasulullah saw yang hidup. Bahkan sebelum saya yakin betul akan Ahmadiyyah, ketika saya menelaah karya-karya Hadrat Mirza Ghulam Ahmad. Saya pun dapat merasakan, bahwa Hadrat Mirza Ghulam Ahmad itu adalah orang yang cerdas, berpengetahuan luas, dan pemberani / tegas. Yah, harapan saya kepada orang-orang pada umumnya dan jema'at Ahmadiyyah pada khususnya, perdalam atau pelajarilah ajaran Ahmadiyyah / Hadrat Mirza Ghulam Ahmad terlebih dahulu sebelum menjudge diri sendiri seorang Ahmadiyyah, ataupun menjudge orang lain non-Muslim dan sebagainya.
         Yah, hanya itu yang kiranya yang dapat saya sampaikan. Sampai bertemu lagi.

Sunday, May 19, 2013

[Review] Tentang Ahmadiyah


         11 : 40 PM
         19 - 05 - 2013



         Halo, sudah lama sekali tidak ada post baru ya. Ngomong-ngomong ini adalah postingan saya yang ke 100 lho (walau sebenarnya ini yang ke 93, tapi ada 7 yang di draft, tidak terasa ya). Ya, tapi pada postingan kali ini saya ingin mengkopas (copy paste) sebuah tulisan yang saya temukan pada blog seseorang yang beralamat disini :
http://nihayaelka.blogspot.com/2010/09/tentang-ahmadiyah_14.html

         Postingan lama sih, tapi sepertinya worth enough untuk dibaca kembali. Ok, jadi langsung saja ya. Berikut postingannya, selamat membaca :

Pak Guntur Romli kemarin habis berkunjung ke markas Ahmadiyah di London.
Saudara-saudara, saya ingin membagi informasi tentang ajaran Ahmadiyah yang saya baca langsung dari kitab karangan pendirinya: Mirza Ghulam Ahmad (MGA). Kitab yang menjadi rujukan saya adalah "al-khazain al-ruhiyah", "al-mawahib al-rahman" yang merupakan terjemahan dari bahasa Urdu Ahmadiyah. Saya akan membagi pembahasan jadi dua, yaitu ajaran-ajaran apa dari mereka yang sama dan ajaran-ajaran apa dari mereka yang berbeda.
Ajaran Ahmadiyah sama dgn mayoritas umat Islam dalam:
1.       Agama mereka adalah Islam, syahadat mereka adalah La ilaaha illahu wa muhammad rasulullah. Penegasan agama Islam dan syahadat ini ditulis oleh Mirza Ghulam Ahmad di Juz 19 al-Khazain al-Ruhiyah-Kitab Mawahib al-Rahman. "Tidak masuk dlm Jemmat kami,kecuali yg memeluk Islam,mengikuti Kitab Allah,sunnah manusia terbaik (Muhammad saw).. dst (MGA). Maka tidak benar kalau menganggap Ahmadiyah adalah agama baru seperti Bahai, Sikh, dst. Ahmadiyah adalah nama ormas keagamaan bukan agama. Ahmadiyah  seperti Muhammadiyah, atau NU, atau Persis, dll (nama ormas keagamaan bukan agama, bukan madzhab fiqh atau firqah).
Penegasan ini brasal dr pendirinya Mirza Ghulam Ahmad bahwa tidak seorang pun yang boleh masuk jemaat kami (#ahmadiyah) kecuali dia muslim. Penghakiman terhadap Ahmadiyah bersumber dari sas-sus, fitnah untuk tujuan di luar dakwah Islam, tpi soal kekuasaan. Saya telah mengunjungi dua masjid Ahmadiyah di London, yang pertama London Mosque (al-fadl) mesjid tertua di Inggris (thn 20-an) dan Baytul Futuh. Tidak benar kalau pengikut Ahmadiyah hajinya ke Qadian-India atau ke London, ini fitnah besar. Pengikut Ahmadiyah yg ke London atau ke Qadian untuk mengikuti "Jalsa Salanah" annual meeting 'pertemuan tahunan' di Indonesia pun ada.

2.       Ahmadiyah percaya Muhammad SAW sebagai "Khatam al-Nabiyyin" ('penutup nabi2')-sprti ditegaskan oleh MGA dalam "Mir'ah Kamalat Islam".

3.       Ahmadiyah percaya tidak ada kitab suci selain al-Quran yang di dalamnya Kalam Ilahi, syariat sempurna & terakhir. Oleh karena itu, yg menuduh Ahmadiyah punya kitab suci selain al-Qur’an yang disebut-sebut tadzkirah adalah fitnah & dusta besar. Tadzkirah yang berasal dari ucapan, catatan, dan ilhamat Mirza Ghulam Ahmad dibukukan 27 tahun setelah MGA wafat bukan kitab suci Ahmadiyah.

4.       Rukun Islam Ahmadiyah ada (5): syahadat, shalat, puasa, zakat & haji ke baitullah di Mekkah. Dlm ibadat Ahmadiyah  ikut madzhab Hanafi.

5.       Apa yg diharamkan oleh Allah & Rasul-Nya pengikut Ahmadiyah  juga haramkan ini ditegaskan dalam kitab Nur al-Haqq
Kesimpulan, rukun Iman (6) dan rukun Islam (5) pengikuti Ahmadiyah  sama dengan mayoritas umat Islam sedunia.
Ahmadiyah  shalat 5 waktu (bukan 3 waktu seperti Syiah) jumlah rakaat sama, bunyi adzan sama (kalau Syiah beda), dalam subuh tak ada qunut. Dalam shalat Ahmadiyah seperti Muhammadiyah tidak ada zikir setelah shalat, doanya tidak nyaring, tidak ada qunut, tidak ada shalawat di antara 2 khutbah.
1.        Ahmadiyah percaya wahyu itu berlanjut, namun hanya "wahyu tabsyiri wal indzari" (wahyu dakwah) bukan "wahyu tasyrii" (wahyu syariat). Ahmadiyah  percaya Mirza Ghulam Ahmad dapat wahyu, tapi isinya bukan syariat baru, tapi penegasan pada syariat Muhammad SAW. Apakah wahyu bisa diturunkan pada selain Nabi? Jawabnya bisa. Ibu Musa as dapat wahyu di surat al-qashash ayat 8. Selain Ibu Musa, Maryam menerima kalam dari malaikat (al Imran ayat 46), atau al-hawariyun –pengikut setia Isa (al-maidah ayat 112). Wa idz awhaytu ila al-hawariyyina an aminu bi wa bi rusuli  - saat Kuwahyukan pada pengikut setia Isa,untuk beriman pada-Ku & RasulKu" (al-maidah 112).
Kesimpulan dari dalil-dalil tadi wahyu bisa diturunkan Allah pada selain Nabi, Ibu Musa, Maryam, pengikut Isa tapi bukan "wahyu syariat". Benar Mirza Ghulam Ahmad mengaku menerima wahyu, tapi BUKAN WAHYU SYARIAT, wahyu itu tdk membatalkan syariat Muhammad SAW. Mohon anda baca kembali istilah wahyu ayat-ayat Qur’an yang diturunkan selain Nabi, atau bahkan pada tumbuhan dan binatang, tapi bukan wahyu syariat.
2.       Ahmadiyah percaya semua nabi tubuhnya adalah manusia biasa, dan akan berakhir sprti manusia biasa (mati), dmikian jga Isa as. Yang membedakan Ahmadiyah dengan umat Islam yang lain yaitu, bagi ahmadiyah Isa telah wafat, tidak hidup jasmani-rohani nya di langit. Ahmadiyah  dengan argumentasi nalar dan teks menolak bahwa saat ini Nabi Isa masih hidup, berada di langit, tubuh & ruhnya dan akan datang lagi. Ahmadiyah  percaya Nabi Isa as, seperti nabi-nabi yang lain, tubuhnya manusia dan punya ajal, tubuh punya umur. Karena Ahmadiyah percaya nabi Isa telah wafat, maka mesias dan imam mahdi-ratu adil yg dijanjikan-adalah orang lain,bukan Nabi Isa yang wafat. Ahmadiyah  percaya orang yang sudah wafat tidak akan kembali ke dunia ini, sprti halnya Nabi Isa as. Ia tidak akan kembali lagi ke dunia. Keyakinan Ahmadiyah ini lebih rasional dibanding kebanyakan umat Islam yang percaya Isa sebagai manusia masih hidup tubuhnya & berada di langit.
Dibanding Iman Syiah 12 Imam (yang ada di Iran) mereka percaya imam ke-12 yang ada di abad pertengahan masih hidup dan akan kembali ke dunia. Arti "rafa'a" dlm quran untuk Isa as, bukan Allah "mengangkat" jasad  dan ruhnya ke langit, tapi "mengangkat derajatnya" (mulia).
3.       Kalau bagi mayoritas umat Islam, mesias (al-masih) dan Imam Mahdi belum turun, bagi Ahmadiyah sudah turun yaitu Mirza Ghulam Ahmad. Dengan catatan keras: Mesias dan Imam Mahdi ini memperkuat syariat Muhammad SAW, tidak boleh menambah atau mengurangi sedikit pun. Karena nubuat2 ini harus diletakkan dalam doktrin bahwa Mesias itu adalah seorang nabi (tanpa syariat) yg memperkokoh syariat Muhammad saw.
Jadi meski Ahmadiyah percaya Mirza Ghulam Ahmad seorang nabi (Mesias) dan dapat wahyu, tapi TIDAK ADA SYARIAT BARU. Ibadat mereka sama dengan yang lain.
Banyak yang salah paham, dikiranya keyakinan Ahmadiyah, Mirza Ghulam Ahmad sebagai nabi dan mendapat wahyu otomatis mengubah syariat Muhammad? Salah besar itu. Jangan menutup mata, bahwa keyakinan Ahmadiyah terhadap Mirza Ghulam Ahmad ada landasan teks dan rasional, mereka berhak untuk percaya. Keyakinan Mirza Ghulam Ahmad sebagai nabi tidak mengubah syahadat, hanya diucapkan dlm bay'at unt masuk jemaat Ahmadiyah. Nama Mirza Ghulam Ahmad dan wahyunya tidak disebut dalam bacaan shalat, tidak pula di masjid-masjid Ahmadiyah. Foto Mirza Ghulam Ahmad dan penggantinya (khulafa') memang dipasang di kantor2 Ahmadiyah tapi tidak di masjid. Di masjid-masjid Ahmadiyah hanya ada syahadat dan ayat-ayat al Quran, tidak ada foto Mirza Ghulam atau ucapan-ucapannya.
Anda yg mau mengetahui ajaran Ahmadiyah bacalah dari buku-buku aslinya bukan kutipan-kutipan dari musuh-musuh mereka :)
Kesimpulan saya : rukun iman dan Islam Ahmadiyah sama dengan mayoritas Islam, bedanya Mesias & Imam Mahdi bagi mereka sudah datang, sedangkan bagi yang lain belum.
Ibadat Ahmadiyah sama dgn umat Islam yang lain, secara madzhab fiqh mereka ikut Imam Hanafi (Imam fiqh pertama dlm 4 Madzhab). Ada kaidah fiqh yang sering dikutip GusDur qawl al-mujtahidi 'an khashmihi laa yu'khadz (pendapat mujtahid tentang lawannya tak bisa diambil). Oleh karena itu, pendapat MUI, FPI, FUI,HTI atau siapapun yg memusuhi Ahmadiyah  tidak bisa diandalkan, karena mereka punya bias-permusuhan. Ada kaidah fiqh yang lain juga untuk tidak mudah menghakimi, "idra'uu al-syubhaat" (hindari perkara-perkara yang belum jelas).
Semoga saya dijauhkan dari keangkuhan menganggap diri bisa menghakimi orang lain dalam soal iman.
Saya telah melihat tata-cara ibadah Ahmadiyah sampai pemimpin tertinggi mereka yg dipanggil "hudhur", masjid-masjid mereka, tidak ada perbedaan. Isi dari 'Jalsah Salanah' adalah ceramah-ceramah dan shalat tahajud, tidak ada ritual dan ibadat baru yang tidak dikenal Islam. Saya menyimpan foto-foto masjid-masjid Ahmadiyah di inggris dari luar hingga bagian dalam. Di luarnya ada kalimat syahadat dan di dalamnya ada ayat-ayat Qur’an. Tidak ada foto Mirza Ghulam dan kutipan kata-katanya di masjid-masjid Ahmadiyah, tidak ada kultus luar biasa padanya di jemaat #ahmadiyah. Setiap masjid Ahmadiyah ada kalimat syahadat "Tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad Rasulullah", tidak benar ada tambahan Mirza Ghulam nabi Allah. Kalau ada yang bilang: syahadat Ahmadiyah itu beda, shalatnya beda, puasanya beda, zakatnya beda, hajinya beda: ini fitnah besar!
Orang Ahmadiyah dari Pakistan memang tidak bisa naik haji ke Mekkah, karena di paspor mereka dipaksa ditulis agama mereka Ahmadi bukan Islam. Orang-orang Ahmadiyah Pakistan kalau mau naik haji pakai paspor Inggris atau India yang tak cantumkan agama di paspor mereka.
Apakah mayoritas umat Islam di Indonesia memusuhi Ahmadiyah? Tidak benar, kalau benar mereka takkan hidup di sini sejak tahun 20-an. Benar kalau mayoritas umat Islam di Indonesia berbeda dalam beberapa poin ajaran dengan Ahmadiyah tapi berbeda bukan berarti memusuhi.
Namun hal yang berkaitan dgn ibadah-ibadah mahdlah, hal yang "al-ma'lum min al-din bi al-dlarurah", Ahmadiyah sama dengan mayoritas umat Islam Indonesia. Perdebatan kelompok Islam yang lain dengan Ahmadiyah sudah terjadi sejak lama, tapi tindakan kekerasan ini fenomena baru. Saya sering ditanya kenapa Ahmadiyah sangat dibenci? Lalu saya balik Tanya, kenapa baru sekarang mereka dibenci? Mereka di Indonesia sejak tahun 20-an lhoo!
Saat ini, seolah-olah sudah jadi parameter-tapi tolol-yang mau dianggap Islamnya bener maka harus membenci dan membubarkan Ahmadiyah. Kalau itu dipakai, maka KH Hasyim Asy'ari pendiri NU bisa dituding Islamnya nggak bener , karena tidak pernah ada fatwa membubarkan Ahmadiyah.
Yang belum pernah shalat, masuk masjid Ahmadiyah atau baca kitab-kitabnya tolong jangan sok tahu dank oar-koar tentang Ahmadiyah, anda cuma nelan fitnah. Siapa yg bilang ini: kebohongan kalau diulang-ulang suatu saat akan jadi kebenaran. Inilah yg terjadi pada #ahmadiyah. Banyak bukti : saksi, rekaman video, foto FPI lakukan aksi-aksi kekerasan, divonis pun sudah. Tapi Ahmadiyah tidak pernah lakukan kekerasan.
Kata siapa orang Ahmadiyah tidak bisa shalat dengan muslim yang lain?Atau muslim yang lain dilarang shalat di masjid Ahmadiyah? Buktikan dulu. ‘ala kulli hal Ahmadiyah sudah ada zaman Hadlratu Syekh Hasyim Asy'ari, tidak ada fatwa bubarkan ahmadiyah, saya manut beliau. Kalau memang Ahmadiyah boleh dibubarkan, sudah bisa sejak zaman KH Hasyim Asy'ari atau KH Wahid Hasyim yang jadi Menteri Agama yang pertama.
Kalau ada orang NU yang mau bubarkan Ahmadiyah, berarti ia anggap dirinya lebih dari Hadlratu Syaikh Hasyim Asyari. Seharusnya Surya Darma Ali Menteri Agama sekarang mengikuti KH Wahid Hasyim Menteri Agama pertama yang melindungi Ahmadiyah. Kiai-kiai NU yg ikut2an mau bubarin Ahmadiyah itu kiai-kiai baru yang amalannya "kursi fulitik" bukan "ayat kursi" :)
Pertanyaan yg harus dijawab, mengapa baru sekarang Ahmadiyah dimusuhi padahal mereka sudah ada di negeri ini sejak tahun 20-an? Kenapa baru Menteri Agama sekarang Surya Darma Ali yang mau bubarkan Ahmadiyah  sementara Menteri Agama pertama KH Wahid Hasyim lindungi mereka? GusDur tegas membela Ahmadiyah  sebagai hak konstitusional, sebagai warga-negara bukan sebagi ajaran. Jadi, sikapi Ahmadiyah  sebagai warga-negara. Bagi anda yang tak setuju ajaran Ahmadiyah, tanamkan tasamuh (toleransi) sikapi mereka seperti GusDur menyikapinya sebagai warga-negara.
Anda kalau mau belajar NU, mau tahu NU ya ke GusDur, sanad beliau nyambung,msh bertemu KH Hasyim Asyari,KH Wahid Hasyim,KH Wahab, KH Bisyri. Ajaran, tafsir dan tradisi NU yg otoritatif menurut saya melalui #GusDur,yg punya darah,ideologi&karamah tokoh2 NU,tolong jgn sebut yg lain
Selama KH Hasyim Asy'ari, KH Wahid Hasyim, KH Wahab, KH Bisyri, dan KH Abdurrahman Wahid tidak berfatwa bubarkan Ahmadiyah saya pun tidak! GusDur pernah ditanya, Gus Ahmadiyah  sesat karena ngaku terima wahyu Respon GusDur "gitu aja kok sesat, gimana Wahyu Sihombing"
Kesimpulan saya dr bacaan, amatan & pengalaman langsung, rukun Islam Ahmadiyah  sama persis! Nama Mirza Ghulam Ahmad tidak disebut dalam syahadat atau shalat hanya dalam bay'at (ikrar masuk jemaat) Ahmadiyah. Orang mau yg masuk tarekat saja ada bay'at untuk taat pada Allah, Rasululullah, Syaikh Pendiri Tarekat dan Syaikh yang bai’at dia, begitu pula Ahmadiyah. Ahmadiyah  tidak bisa dikafirkan karena mereka syahadat, shalat, puasa, berhaji, zakat, ikuti Qur’an & Sunnah Nabi. Mereka muslim. Sekali lagi anda yang tidak bisa terima ajaran Ahmadiyah (meskipun mayoritas sama) tasamuhlah (toleran) sikapi mrka sbgai warga-negara. Tak sedikit yang benci Ahmadiyah karena tidak tahu, seperti pepatah: al-nasu a'da'u ma jahilu (manusia cenderung memusuhi yang tak diketahuinya).
Informasi tentang Ahmadiyah yang dianggap kebenaran sebenarnya tak lebih kebohongan yang diulang-ulang. Sekian sekedar berbagi informasi tentang Ahmadiyah yang berasal dari bacaan, amatan dan pengalaman pribadi saya langsung berinteraksi dgn mereka.
Kalau ada yang sibuk ngurusin keyakinan Ahmadiyah, emang siapa Yang punya surga dan neraka? Kuu anfusakum wa ahlikum nara (jaga dirimu dan keluargamu dari neraka).

-Guntur Romli-
Penulis, Aktivis, dan Kurator di Komunitas Salihara, Jakarta

Tuesday, April 30, 2013

[Video] Penjara Masjid - Part 1

         30 - 04 - 2013
         10 : 17 PM




         Hmm berhubung saat ini saya sedang banyak tugas dan sedang mengurus skripsi, ditambah komputer yang suka error dan laptop yang keyboardnya sudah ada beberapa yang tidak bisa di pakai tombolnya. Jadi saya singkat saja, hanya ingin memposting sebuah video tentang kondisi orang-orang yang bertahan di dalam masjid Al-Misbah JatiBening yang disegel sejak 4 April lalu. Sampai sekarang sekitar belasan mungkin masih bertahan, Subhaanallah. Semoga Allah membalas niat baik mereka berlipat-lipat aamiin. Sejujurnya saya juga sangat sedih, saya jadi tidak bisa shalat jum'at disana lagi sejak ditutup, benar-benar buruk sekali perbuatan orang-orang yang menyegel itu menurut saya. Hmm ya sudah baiklah langsung saja ini videonya :





Sunday, April 7, 2013

[Berita] Kisah Heroik Para Ahmadi di Cikeusik


         07 - 04 - 2013
         02 : 14 PM





5 Pebruari 2011, Mln. Ismail Suparman dan keluarga meminta bantuan pihak kepolisian agar dilindungi. Dirinya telah diancam dan diberi kabar bahwa akan ada penyerangan ke rumah Missi yang ia tempati bersama keluarganya.

Beberapa saudara-saudara ruhaninya pergi ke Desa Umbulan, Cikeusik, Pandeglang, Banten Selatan untuk menjenguk Mln. Suparman dan mempertahankan rumah missi milik Jemaat Muslim Ahmadiyah. Mereka sudah siap mental apapun yang terjadi.

Mereka memahami sabda yang Mulia Rasulullah saw bahwa mempertahankan harta benda dan jiwa raga adalah merupakan salah satu bagian Jihad yang hadiahnya adalah tunai, yaitu Surga.

Jadi tidak berdasar, jika dikatakan bahwa kedatangan para Ahmadi yang akan mempertahankan rumah missi itu yang memprovokasi massa untuk datang menyerbu. Massa berjumlah ribuan tidak bisa dikumpulkan dalam waktu singkat. Apalagi jelas para penyerang memakai pita biru maupun hijau sebagai tanda bahwa mereka terkoordinir secara professional.

Pagi, 6 Pebruari 2011, sampailah rombongan pemuda Ahmadi di Cikeusik sekitar 08.00 WIB. Awalnya, mereka bersantai, bercanda dan berfoto bersama. Datanglah sarapan pagi, langsung saja disambut dengan gembira.

Dalam keadaan santai itu, mereka dikejutkan dengan kedatangan aparat kepolisian yang jumlahnya cukup banyak. Itu terjadi pukul sembilan atau setengah sepuluh pagi. Anehnya, para polisi yang tadinya terlihat banyak, raib entah kemana. Mereka hanya sedikit bersisa. Pasukan Dalmas yang awalnya ada di Jalan sebelah Utara rumah missi, namun tiba-tiba berpindah di arah selatan rumah missi.


Pukul sepuluh pagi, massa yang sangat banyak itu tiba-tiba muncul dari arah Utara rumah missi, dimana pasukan Dalmas saat itu ada di sebelah Selatan Rumah missi. Maka mereka pun dengan leluasa menyerobot  aparat yang jumlahnya tidak sebanding.

Tiba-tiba mereka menyerang! Tidak ada mediasi terlebih dahulu! Seakan-akan mereka tidak punya mulut untuk berbicara. Terjadilah adu jotos antara Deden Sujana dengan salah seorang penyerang. Akibatnya, sang penyerang tadi roboh.

“Serang…!”, teriak salah seorang penyerang.

“keluar…!”, teriak Ferdiaz kepada teman-temannya yang ada di dalam rumah Missi. Maka keluarlah para Pemuda Ahmadi. Senjata tajam diacung-acungkan untuk menakut-nakuti para Ahmadi. Ternyata hal itu tidak berpengaruh sama sekali. Menyusul batu yang menghujani para Ahmadi. Mereka menangkis dengan alat-alat seadanya. Bahkan para pemuda Ahmadi berusaha menghalau penyerang dengan bambu-bambu yang berasal dari atap yang sudah dirusak massa.
Mereka terus menyerang dengan ganas….! seakan-akan para Ahmadi itu binatang buruan yang harus mati saat itu juga.

Para pemuda Ahmadi terdesak. Para penyerang tanpa ampun terus merusak rumah missi dan menyerang para pemuda Ahmadi. Hingga para Ahmadi terdesak mundur sampai ke dalam rumah missi.

Di bagian belakang rumah tersebut, Belasan penyerang mengeroyok Deden Sujana dengan berbagai senjata tajam. Sabetan parang ditangkis tangan pak Deden Sujana, sehingga tangannya hampir putus separuhnya. Pahanya pun terkena sabetan parang. Kontan Deden rebah ke tanah. Meski dirinya terjatuh, para penyerang dengan wajah beringas, mengayunkan bacokan-bacokan parang dan terus berusaha keras menusuk Deden.


Ferdias yang melihat hal itu, ia segera melindungi Deden dengan ditelungkupi. Diaz membisikkan kata kata lirih kepada Deden yang sedang dipeluknya di tanah, “Doa saja pak Deden, kita mati bersama”. Diaz pasrah, ia mengaduh menerima bacokan, akibatnya ia harus dijahit sebanyak 45 jahitan di punggungnya. Batu-batu besar juga selalu diarahkan ke kepalanya yang memakai helm. Beruntung, ia pun hanya mengalami gegar otak ringan. Ferdiaz masih ditakdirkan selamat. Ada seorang Ahmadi yang berperawakan tinggi besar yang mencegah para penyerang untuk terus menyiksanya. “Sudah..sudah.. dia sudah tidak berdaya!” Tak lama kemudian datanglah Dalmas yang mengangkutnya pergi untuk dievakuasi.

Di tempat lain, Beberapa Ahmadi dihajar dan terdengar rintihan yang menyayat hati. Karena banyaknya massa, para Ahmadi selangkah-demi selangkah mundur dengan tetap mempertahankan diri. Rumah missi yang targetnya dipertahankan, kini hancur lebur. Tidak hanya itu, Dua mobil habis dibakar. Satu mobil APV Silver milik Jemaat Ahmadiyah, dan satu mobil lagi milik Deden Sujana. Satu motor milik Mln. Abdur Rahim YHBM diseret layaknya sampah dan kemudian dibakar.

Beberapa pemuda Ahmadi bisa meloloskan diri dan beberapa lagi dibantai habis layaknya binatang. Anggota yang tidak melawan pun terus diserang hingga syahid!

Para Ahmadi yang sudah terkulai lemah, batu-batu terus dirajamkan kepadanya. Tidak hanya itu, pukulan kayu terus diarahkan massa tanpa ada belas kasihan. Massa yang melihat itu bahkan bertepuk tangan & bersorak sorai. Terlihat seorang Ahmadi sudah syahid namun, penyerang masih merasa belum puas, Kepala dan badan Syuhada itu terus dipukuli dengan tongkat dan dirajam dengan batu hingga bersuara.


Setelah tiga Ahmadi syahid ditempat, Massa masih belum terpuaskan dahaga akan darah. Para penyerang menghentikan aksi brutalnya setelah beberapa polisi & Dalmas datang menyelamatkan & mengevakuasi korban ke RSUD Malingping.
Massa terus menyisir para Ahmadi yang sempat meloloskan diri. Dari satu rumah persembunyian, Salah seorang korban melihat dengan mata kepala sendiri bahwa orang-orang yang telah menyerang dirinya, sambil pulang, massa sempat bersalaman dengan polisi yg ada disana sambil tersenyum-senyum. Kemudian ada juga saksi yang melihat, para penyerang keluar dari satu rumah dan terlihat telah dibagi-bagikan amplop berwarna coklat.
Selasa 8/2/2011 pukul 07.00 WIB dua syuhada diberangkatkan ke Gondrong-Kenanga untuk disemayamkan. Tubagus Chandra Mubarak & Roni Pasaronikini tenang bersemayam di bumi Tangerang. Kedua syuhada itu di antar kepergiannya oleh 1500-an Ahmadi yang cinta sekaligus bangga kepada mereka.
Satu syuhada lagi, Warsono telah dibawa ke Cirebon untuk disemayamkan.
Rabu, 9/2/2011, Deden Sujana yang kini berada di RS Pertamina, ia terlihat kuat, tenang, tdk tampak Depresi, masih bisa tersenyum, dan tentu saja ada raut sedih di mukanya.
“saya kok dianggap provokator oleh Polisi kami ke Cikeusik justeru mau mengurusi Muballigh #ahmadiyah yg ada ditahan & menjaga mesjid serta aset-aset jemaat. kami tdak menyangka akan ada penyerangan itu, kami tdk bawa apa-apa & tidak menyiapkan apa-apa”, ungkap Deden kepada Guntur Romli.
“Masa sih kami menantang dan memprovokasi? Dari sisi jumlah saja kami sudah kalah. Ketika saya sedang ngobrol dgn Kapolsek, kami diserang. Karena tiba-tiba diserang, kami melindungi diri dgn melawan, tidak ada tantangan & provokasi,” tambah Deden.
Ferdiaz menuturkan dengan nada menyesal, “Kenapa saya masih hidup! Saya sering ikut yang kayak gini, di Cisalada, di Manislor, dll, tapi pulang selalu membawa nyawa. Ada apa dengan saya?”
========
Selamat jalan wahai para pejuang agama. Darahmu akan mengharumkan negeri; Mempercepat kesuksesan bagi Islam, dan segera membawa petaka bagi para kaum penganiaya.
Semoga para pejuang kita yang masih terluka, bisa segera diberikan kesehatan yang sempurna.
[peristiwa ini didapat dari para Saksi kejadian dan akan terus berkembang sesuai fakta. Saksi sementara tidak dimunculkan namanya]


Sumber : 
http://isamujahidislam.wordpress.com/2011/02/08/kisah-heroik-para-ahmadi-di-cikeusik/


[Review] Nabi Palsu, Sikap Nabi, dan Ahmadiyah)*


         07 - 04 - 2013
         02 : 12 PM

         

TEMPO Interaktif, Pada tahun kesepuluh Hijriah, Nabi Muhammad SAW menerima surat dari seseorang yang mengaku jadi nabi. Namanya Musailamah bin Habib, petinggi Bani Hanifah, salah satu suku Arab yang menguasai hampir seluruh kawasan Yamamah (sekarang sekitar Al-Riyad). Dalam suratnya, Musailamah berujar: “Dari Musailamah, utusan Allah, untuk Muhammad, utusan Allah. Saya adalah partner Anda dalam kenabian. Separuh bumi semestinya menjadi wilayah kekuasaanku, dan separuhnya yang lain kekuasaanmu….”
Seperti dituturkan ahli tafsir dan sejarawan muslim terkemuka pada abad ketiga Hijriah, Imam Ibn Jarir Al-Tabari (838-923), dalam kitabnya Tarikh al-Rusul wa al-Muluk (Sejarah Para Rasul dan Raja) atau yang dikenal sebagai Tarikh al-Tabari, Musailamah bukanlah sosok yang sepenuhnya asing bagi Nabi. Beberapa bulan sebelum berkirim surat, Musailamah ikut dalam delegasi dari Yamamah yang menemui beliau di Madinah dan bersaksi atas kerasulannya. Delegasi inilah yang kemudian membawa Islam ke wilayah asal mereka dan membangun masjid di sana.
Menerima surat dari Musailamah yang mengaku nabi, Rasul tidak lantas memaksanya menyatakan diri keluar dari Islam dan mendirikan agama baru, apalagi memeranginya. Padahal gampang saja kalau beliau mau, karena saat itu kekuatan kaum muslim di Madinah nyaris tak tertandingi. Mekah saja, yang tadinya menjadi markas para musuh bebuyutan Nabi, jatuh ke pelukan Islam. Yang dilakukan Rasul hanyalah mengirim surat balasan ke Musailamah: “Dengan Nama Allah Yang Maha Pemurah dan Pengasih. Dari Muhammad, utusan Allah, ke Musailamah sang pendusta (al-kazzab). Bumi seluruhnya milik Allah. Allah menganugerahkannya kepada hamba-Nya yang Dia kehendaki. Keselamatan hanyalah bagi mereka yang berada di jalan yang lurus.” Rasul menempuh dakwah dengan cara persuasi dan bukan cara kekerasan. Musailamah memang dikutuk sebagai al-Kazzab, tapi keberadaannya tidak dimusnahkan.
Namun, setelah Nabi wafat, ceritanya jadi lain. Umat Islam yang masih shocked karena ditinggal pemimpinnya berada dalam ancaman disintegrasi. Sejumlah suku Arab menyatakan memisahkan diri dari komunitas Islam di bawah pimpinan khalifah pertama, Abu Bakr al-Shiddiq. Sebagian dari mereka mengangkat nabi baru sebagai pemimpin untuk kelompok mereka sendiri. Musailamah dan sejumlah nabi palsu lain, seperti Al-Aswad dari Yaman dan Tulaikhah bin Khuwailid dari Bani As’ad, menyatakan menolak membayar zakat, suatu tindakan yang pada masa itu melambangkan pembangkangan terhadap pemerintah pusat di Madinah. Abu Bakr lalu melancarkan ekspedisi militer untuk menumpas gerakan pemurtadan oleh para nabi palsu tersebut, yang menurut dia telah merongrong kedaulatan khalifah dan membahayakan kesatuan umat. Perang Abu Bakr ini dikenal sebagai “perang melawan kemurtadan (hurub al-ridda).”
Tampaknya, “perang melawan kemurtadan” inilah yang diadopsi begitu saja oleh para pelaku kekerasan terhadap Ahmadiyah tanpa disertai pemahaman yang mumpuni terhadap duduk perkaranya. Penyerangan brutal di Banten minggu lalu, yang menewaskan tiga warga Ahmadiyah, secara luas memang telah dikecam bahkan oleh banyak kalangan muslim sendiri, entah dengan alasan menodai citra Islam yang damai, merusak kerukunan beragama, atau melanggar hak asasi kaum minoritas. Tapi bagi para pelaku penyerangan dan yang membenarkannya, seperti FPI, apa yang mereka lakukan semata-mata demi membela Islam dari noda pemurtadan. Jemaah Ahmadiyah dianggap telah murtad karena mengakui Mirza Ghulam Ahmad sebagai nabi, dan karena itu mesti dikeluarkan secara paksa dari Islam.
Ironisnya, Majelis Ulama Indonesia (MUI), Menteri Agama, dan pihak-pihak yang mengaku tidak menyetujui anarkisme terhadap Ahmadiyah, yang terus memaksa agar Ahmadiyah menjadi agama baru di luar Islam, sebenarnya juga memakai pendekatan “perang melawan kemurtadan” secara gegabah. Dalam hal ini, perbedaan MUI dan Menteri Agama dengan kaum penyerang Ahmadiyah hanya terletak dalam hal metode, tapi tidak dalam tujuan. Saya sebut ironis karena majelis ulama, yang berlabel “Indonesia” di belakang, ternyata merubuhkan prinsip kebinekaan Indonesia. Ironis karena seorang menteri yang merupakan hasil pemilu demokratis ternyata mempunyai pandangan yang melenceng dari konstitusi demokratis yang menjamin hak setiap warga menjalankan agama sesuai dengan keyakinannya. Yang paling ironis, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono membiarkan saja semua itu terjadi.
Lepas dari itu, kalau kita tinjau dari sudut doktrin dan sejarah Islam pun, pemakaian kerangka “perang melawan pemurtadan” untuk menyikapi Ahmadiyah sejatinya sama sekali tak berdasar. Patut diingat, sebutan “perang melawan kemurtadan” bukanlah kreasi Abu Bakr sendiri, melainkan penamaan belakangan dari para sejarawan muslim. Disebut demikian barangkali karena yang diperangi saat itu memang arus pemurtadan yang terkait dengan munculnya sejumlah nabi palsu. Dan gerakan nabi palsu pada masa itu berjalin berkelindan dengan upaya menggembosi kedaulatan kekhalifahan. Penolakan membayar zakat bukan hanya pelanggaran terhadap rukun Islam, tapi juga sebentuk aksi makar. Ini karena, berbeda dengan ibadah salat yang hanya melulu menyangkut hubungan hamba dan Tuhannya, urusan zakat berkaitan dengan negara. Tambahan pula, para nabi palsu tersebut juga membangun kekuatan militernya sendiri. Musailamah, misalnya, menggalang tidak kurang dari 40 ribu anggota pasukan untuk melawan pasukan muslim dalam perang Yamamah, sampai-sampai armada muslim di bawah Khalid bin Walid sempat kewalahan pada awalnya. Karena itu, perang Abu Bakr melawan kemurtadan mesti dibaca sebagai sebuah tindakan yang lebih bersifat politis ketimbang teologis, yakni berhubungan dengan penumpasan terhadap kelompok pemberontak.
Karena itu, “perang melawan kemurtadan” versi khalifah Abu Bakr tidak bisa begitu saja diterapkan dalam konteks Indonesia sekarang. Taruhlah memang jemaah Ahmadiyah telah murtad karena mempercayai Mirza Ghulam Ahmad sebagai nabi. Tapi bukankah sejauh ini mereka belum pernah membangun kekuatan militer untuk merongrong umat Islam dan pemerintahan yang sah seperti Musailamah pada masa khalifah Abu Bakr? Bukankah sejauh ini warga Ahmadiyah hanya menuntut untuk diberi ruang menjalankan ibadah sesuai dengan keyakinannya? Kalau memang begitu, apakah tidak keliru kalau mereka diperlakukan seperti para pemberontak?
Ditinjau dari perspektif kaidah fiqh “hukum berporos pada alasan”, gerakan pemurtadan oleh para nabi palsu pada masa Abu Bakr memang wajib diperangi, karena saat itu kemurtadan identik dengan pemberontakan yang mengancam kedaulatan khalifah dan integrasi umat. Adapun kalau sekadar murtad saja tanpa dibarengi pemberontakan, hukum yang berlaku tentu tidak sama. Pada titik inilah kita bisa mengacu pada peristiwa korespondensi antara Nabi Muhammad dan Musailamah seperti saya paparkan di awal tulisan.
Di sinilah pemahaman tentang metodologi hukum Islam mutlak diperlukan dalam melihat pokok soalnya. Tanpa pengetahuan yang mumpuni tentang metodologi hukum Islam, keputusan yang muncul dan tindakan yang diambil mungkin saja tampak sesuai dengan ajaran syariat, tapi bisa jadi esensinya bertentangan dengan maqashid al- syari’ah (tujuan-tujuan syariat) yang lebih bersifat universal, seperti perlindungan terhadap hak-hak dasar manusia.
Lagi pula, satu-satunya dalil Al-Quran tentang kemurtadan sama sekali tidak menyeru kaum muslim untuk memerangi kaum murtad semata-mata karena kemurtadannya. Simaklah Surat Ali Imran ayat 90. Ayat ini tidak menyinggung soal perlunya menggunakan cara-cara kekerasan dan paksaan terhadap si murtad, karena Tuhanlah yang akan menjadi hakim atas perbuatannya di akhirat nanti.
Dalam kerangka Qurani semacam inilah kita bisa mengerti kenapa Nabi tidak menghukum Musailamah, yang tanpa tedeng aling-aling mengaku sebagai nabi. Bukan karena beliau mendiamkannya--toh Nabi melabelinya dengan gelar “Al-Kazzab”. Menurut saya, nabi bersikap seperti itu karena, dalam Al-Quran, hukuman terhadap si murtad memang sepenuhnya menjadi hak prerogatif Allah SWT. Nabi Muhammad hanyalah seorang manusia biasa yang bertugas menyampaikan risalah Ilahi. Beliau bukan Tuhan yang turun ke bumi. Itulah sebabnya Al-Quran menegaskan tidak ada paksaan dalam agama.
Kalau Nabi saja demikian sikapnya, alangkah lancangnya Front Pembela Islam (FPI), MUI, dan Menteri Agama yang merasa punya hak untuk mengambil alih wewenang Tuhan untuk mendaulat diri mereka sebagai hakim atas orang-orang yang dianggap murtad seperti terlihat dalam sikap mereka terhadap jemaah Ahmadiyah. Di sinilah saya kira umat Islam mesti memilih dalam bersikap, mau mengikuti cara-cara FPI, MUI, dan Menteri Agama, atau meneladan sikap Rasulullah.
*) 
Akhmad Sahal, Kader NU, kandidat PhD Universitas Pennsylvania 





Sumber :
http://www.tempo.co/read/kolom/2011/02/16/324/Nabi-Palsu-Sikap-Nabi-dan-Ahmadiyah

Friday, April 5, 2013

[Video] Masjidku Rumahku


         09 - 04 - 2013


         10:01 AM




Kronologi 8 maret 2013 lalu.




Sumber :
http://www.youtube.com/watch?v=iZy52SgO3EE&feature=youtu.be

[Video] Bekasi Mayor Shuts Down Ahmadiyah Mosque











Sumber :

http://www.youtube.com/watch?v=a7kg6364Lyw&feature=share

[Berita] Masjid Ahmadiyah Bekasi Dipagari Seng, Jamaah Salat di Rumah

         09 - 04 - 2013
         09:16 AM






Jakarta - Setelah upaya menggembok Masjid Al-Misbah tidak menghentikan ibadah Ahmadiyah, pemerintah Kota Bekasi memutuskan untuk memagari sekeliling masjid tersebut dengan seng untuk mencegah jamaah masuk ke dalam masjid.
“Semalam masjid kami dipagari dengan seng oleh Satpol PP pemerintah kota, karena menurut pemerintah kota kita masih terus melaksanakan kegiatan walaupun pintu masjid sudah mereka gembok,” kata imam masjid, Rahmat Rahmadijaya, pada Beritasatu.com, Jumat (4/4).
Menurut Rahmat, mereka selama ini hanya menjalankan aktivitas peribadahan biasa seperti salat Jumat dan dakwah internal bagi anggota masjid yang berjumlah sekitar 400 orang.
“Mereka menyatakan berpegang pada peraturan gubernur, fatwa MUI dan peraturan walikota yang melarang Ahmadiyah, padahal aturan-aturan tersebut hanya melarang penyebaran ajaran dan tidak melarang kegiatan. Mereka menganggap bahwa ibadah itu adalah kegiatan.”
Masjid yang sudah dibangun sejak tahun 1998 ini memiliki hubungan baik dengan jamaah di sekitar masjid. Namun sejak Front Pembela Islam (FPI) membuka cabang di Pondok Gede dan berlokasi di dekat masjid, pemerintah kota Bekasi terus ditekan untuk menutup masjid Ahmadiyah.
Pada tanggal 14 Februari, pemerintah kota Bekasi menempelkan pemberitahuan penyegelan di tembok masjid dan menginformasikan bahwa Ahmadiyah dilarang melakukan kegiatan.
Sebulan kemudian, pada 8 Maret silam, gerbang masuk menuju masjid digembok oleh Satpol PP. Beberapa anggota Ahmadiyah yang masih terjebak di dalam masjid setelah salat Jumat, termasuk beberapa orang berusia lanjut, terpaksa dikeluarkan dengan menggunakan tangga di bawah guyuran air hujan.
Rahmat mengatakan bahwa tim pengacara dari LBH Jakarta dan YLBHI yang semalam ada di lokasi berupaya melakukan dialog dengan pejabat pemerintahan dan kapolsek sebelum penutupan masjid. Namun mereka menolak untuk berdiskusi.
Sudiana, bagian hukum pemerintah kota Bekasi mengatakan bahwa pemagaran dilakukan agar jamaah masjid patuh pada larangan kegiatan yang dikeluarkan dalam bentuk peraturan walikota tahun 2011.
Namun Rahmat mengatakan bahwa Satpol PP beralasan bahwa mereka hanya berusaha untuk menghindari terjadinya bentrok antara ormas Islam dengan Ahmadiyah setelah ada permintaan dari ormas Islam untuk menghentikan aktivitas.
“Mereka semata-mata takut sama FPI,” kata Rahmat.
“Kalau memang mereka menegakkan peraturan, mereka harusnya tahu bahwa di peraturan-peraturan tersebut hanya pelarangan penyebaran ajaran, dan tidak menyebutkan pemagaran, penggembokan dan pelarangan ibadah. Dakwah di dalam dan pendidikan untuk anak-anak kami kan tidak melanggar peraturan.”
Rahmat mengatakan tim pengacara Masjid Al-Misbah akan mensomasi walikota.
Sementara waktu, jamaah akan beribadah di rumah-rumah anggota Ahmadiyah.
“Kami akan beribadah di rumah-rumah anggota kami karena memang tidak ada satu celah pun disisakan untuk kami bisa masuk ke dalam masjid,” kata Rahmat.
“Sudah digembok, sekarang ditutupi seng. Aparat juga terus mengawasi masjid. Anggota kami yang datang disuruh pulang.”
Walikota Bekasi Rahmat Effendi tidak menjawab ketika dihubungi oleh Beritasatu.com.


Penulis: Camelia Pasandaran/FEB


Sumber :

http://www.beritasatu.com/nusantara/106113-masjid-ahmadiyah-bekasi-dipagari-seng-jamaah-salat-di-rumah.html

[Berita] Dikepung, 22 Jemaah Ahmadiyah Masih Terkurung di Masjid

         09 - 04 - 2013
         09:07 AM




KBR68H, Jakarta – Sebanyak 22 warga Jemaah Ahmadiyah Jatibening, masih terkurung di dalam Masjid al Mizbah, Bekasi, Jawa Barat. Mereka meminta polisi menjamin pengamanan diri dan aset berupa masjid milik mereka. Kuasa hukum Jemaat, Febi Yonesta mengatakan, mereka yang di dalam masjid bersedia ke luar kalau polisi memberikan jaminan tertulis pemenuhan permintaan tersebut.

"Jujur aja, kawan-kawan di dalam kurang percaya dengan itikad dari pemkot. Tapi, mereka sangat percaya dan menaruh harapan pada kepolisian dan kepolisian akan berdiri dan berpihak pada hukum dan kebenaran. Belum ada jaminan karena tidak adanya kepercayaan dari mereka pada perlindungan, baik diri dan aset," kata Febi Yonesta di luar pagar Masjid al Mizbah, Bekasi.

Semalam, Pemerintah Kota Bekasi, Jawa barat memagar dan menggembok masjid Ahmadiyah di Jatibening. Pemkot mengancam akan menahan aset masjid tersebut. Alasannya untuk menegakan peraturan walikota Bekasi terkait larangan aktivitas Ahmadiyah. Namun, jemaah Islam Ahmadiyah memprotes dengan berdiam di masjid mereka.


Sumber :
http://www.portalkbr.com/nusantara/jawabali/2544916_4262.html

Sunday, February 17, 2013

[Review] SEBERAPA GILAKAH KAUM AHMADIYAH ITU? --- Suatu testimoni dan opini sementara.

         17 - 02 - 2013
         06 : 41 PM





         Halo, kali ini saya akan bagikan sebuah tulisan yang saya temukan dari sebuah blog, yang mana tulisan ini cukup menarik menurut saya. Di blog tersebut hanya ada tulisan ini saja, dan nama pemilik blognya pun bukan seperti yang ada pada tulisan itu, itu berarti blog itu hanya membagi saja tulisan itu. Jadi saya mulai mencari sumber aslinya tulisan itu berasal, dan akhirnya saya sampai pada penemuan fanpage penulis tulisan tersebut yang bernama Arief Maulany. Di dalam fanpage tersebut terdapat notes yang tulisannya sama persis dengan yang saya baca di blog seseorang sebelumnya, di notes-notes beliau yang lain juga saya melihat tulisan-tulisan beliau tentang pembahasan-pembahasan keagamaan. Jadi saya mulai dapat simpulkan bahwa dari sinilah sumber sebenarnya. Anda dapat melihat tulisannya yang ada di fanpage beliau di link ini :

https://www.facebook.com/notes/arief-maulany/seberapa-gilakah-kaum-ahmadiyah-itu-suatu-testimoni-dan-opini-sementara/163544190368497

         Sebenarnya saya sudah nemu agak lama tulisan ini dan ingin segera mempostingnya di blog saya, tapi karena saya baru sempat selesai membacanya dan baru dapat sumber aslinya semalam jadi ya baru sekarang saya bisa posting ini. Tulisan ini adalah sebuah laporan atau penilitian sementara dari seorang Non-Ahmadiyah yang meneliti tentang Ahmadiyah. Tulisan maupun pendapatnya sangat bagus menurut saya, tulisannya bersifat netral dan logis sesuai dengan kenyataan yang ada di negara kita tercinta ini, negara Indonesia. Hanya saja yang saya sayangkan, tidak ada kabar kelanjutan dari penyelidikannya tersebut. Padahal tulisan atau penelitian ini ditulis bulan April 2011, sudah 1 tahun lebih bahkan menjelang 2 tahun yang lalu. Sangat di sayangkan sekali menurut saya, entah karena apa tulisan ini tiba-tiba terhenti. Kelak mungkin saya juga akan berkunjung ke kampus Ahmadiyah yang terletak di Parung ini untuk melakukan penyelidikan sendiri. Ok, baiklah saya bagikan tulisan beliau di blog saya, silahkan membacanya dengan hati yang tenang. Bismillah.


----
SEORANG KAWAN yang sebenarnya hatinya baik ngajak chat, langsung nembak: "Orang Ahmadiyah itu gila ya?"... O-o-o, kujawab singkat: "Hm justru karena penasaran sebagai jurnalis-sarjana-muslim, aku yang dari Bekasi ke kampus Ahmadiyah di Parung Bogor. Jauuuh, maklum dari Pondok Gede ke Pondok Udik....Usai klarifikasi (tabayyun) Kesimpulan sementara: tampaknya orang Ahmadiyah tidak gila."....
Tapi mungkin sebenarnya memang ada sejenis kegilaan. Nah, seberapa gila kaum Ahmadiyah itu?  
Inilah kisah, laporanku, suatu testimoni dan opini sementara……

LATAR BELAKANG:

Karena aktifnya aku melakukan advokasi atas kaum Ahmadiyah di jejaring sosial Facebook, banyak orang yang menduga aku seorang penganut Ahmadiyah, atau dalam istilah teknis mereka ‘seorang Ahmadi’. Aku bukan Ahmadi, namun mengapa memberikan advokasi? Jawabnya mudah: Kulakukan advokasi karena kulihat mereka menderita kezaliman, akibat seringnya mendapat serangan verbal dan nonverbal. Kekerasan verbal-nonverbal yang belakangan mereka derita itu menurutku berpangkal pada adanya fatwa sesat dan kafir dari MUI th 1984 dan 2005. Bentuk kekerasan itu berlanjut sampai ke tahapan terbitnya SKB yang  nyata-nyata bertentangan dengan prinsip kebebasan yang sudah dijamin dalam konstitusi, UUD 1945. Sayangnya penolakan MK (Ketua: Prof Mahfud MD) atas tuntutan pembatalan atas UU PNPS juga memperkuat nunasa provokatif, karena lalu dijadikan pembenaran bagi kekuatan anti-Ahmadiyah untuk melakukan serangan-serangan berikutnya.

Fatwa MUI itu sendiri berpijak pada rekomendasi sesat dan kafirnya Ahmadiyah yang dikeluarkan Liga Islam Dunia (Rabithah al-‘Alam al-Islami) ketika mengadakan pertemuan th 1974 di Saudi Arabia. Selain itu, di dalam negeri sendiri sudah muncul pula fatwa sesat dan kafir, dikeluarkan oleh organisasi muslim, Muhammadiyah th 1934 dan NU (belum jelas tahun berapa?) Sayangnya, belakangan ini ucapan dan perilaku pejabat di jajaran pemerintahan kita yang terkait juga menunjukkan adanya ‘bias’, dan mengarah kepada langkah lebih gawat-fatal: pembubaran Ahmadiyah, yang justru menunjukkan kedangkalan visi kenegarawanan dan visi kemanusiaan, bahkan visi keagamaan.

Sambil memberikan advokasi semampuku dari sudut nilai-nilai akhlaqul-karimah dalam al-Qur’an dan as-Sunnah terkait perbedaan paham, dan sudut pandang HAM, dan terdorong anjuran untuk amr ma’ruf nahy munkar, menolong yang zalim agar tidak zalim, menolong yang dizalimi agar mendapat perlakuan lebih baik, maka kulakukan 2 (dua) langkah:

1) Kubaca lagi sejumlah buku yang kumiliki dan
2) Kuniyatkan : pada suatu saat aku harus menemui mereka melakukan konfirmasi atas beberapa hal.

Bagiku, yang kulakukan ini bukan semata-mata untuk memenuhi hasrat kepenasaranku saja, tetapi memenuhi sikap jurnalistikku, sikap kesarjanaanku, dan sikap kemuslimanku, agar dapat bersaksi dengan adil, sesuai kemampuanku.

BACA SEJUMLAH LITERATUR:

Secara teologis kasus Ahmadiyah memang menarik. Tentang Ahmadiyah ini saya cuma punya beberapa literatur, al.: 'Ahmadiyah dan Pembajakan al-Qur’an' (M. Amin Djamaluddin, LPPI, 1992), 'Menusuk Ahmadiyah' (Wawan H. Purwanto, CMP Press, 2008), 'Mengapa Saya Keluar dari Ahmadiyah' (Ahmad Hariadi, 2008), 'M irza Ghulam Ahmad dari Qadian' '(Ian Adamson, Pustaka Marwa, 2010) juga beberapa karya orang Ahmadiyah juga, al. : 'Perlukah al-Qur’an Diturunkan' (H. Mirza Bashiruddin Ahmad, Yayasan Wisma Damai, 1992), 'Kristianologi Qur’an' (KH Simon Ali Yasir, Darul Kutubil Islamiyah, 2005). Ada juga, Ensiklopedia Islam, terbitan CV Toko Buku Ichtiar Van Hoeve, Jakarta, 1979, di sana terdapat entri : Ahmad, Mirza Ghulam. Selebihnya saya baca di perpustakaan.

Tuduhan berat yang dilontarkan ke alamat Ahmadiyah adalah ‘sesat’, ‘kafir’ dan ‘bukan Islam’. Dua tuduhan pertama, tidaklah mengherankan, karena klaim kaum Ahmadiyah memang tampak, terasakan oleh kaum Sunni kita sebagai klaim yang ‘keluar’ dari jalur yang umum mereka pahami. Tetapi tuduhan ketiga: ‘bukan Islam’, menurutku justru aneh. Kalau kita baca buku ‘Perlukah al-Qur’an Diturunkan’  (H. Mirza Bashiruddin Ahmad, Yayasan Wisma Damai, 1992), terasalah tuduhan itu aneh, karena tulisan dalam buku itu kental dengan semangat keislaman. Kedua, setiap kali ada serangan ditujukan kepada properti fisik kaum Ahmadiyah seperti madrasah/sekolah, masjid yang nyata dilengkapi kaligrafi kalimah tahlil atau syahadatain, tampak juga al-Qur’an yang berbahasa Arab yang semuanya itu menunjukkan identitas keislaman, yang jelas terekspos dalam setiap pemberitaan dengan gambar visual. Maka bagaimana mungkin muncul tuduhan dari kalangan pembenci di masyarakat dan kalangan pejabat negara bahwa kaum Ahmadiyah itu berada di luar Islam, ‘bukan Islam’, sampai muncul tuntutan untuk tidak menggunakan atribut keislaman, atau agar menyetakan diri agama baru.  Aneh, dan sekilas tampak tuntutan itu mencerminkan kebodohan.

KUNJUNGAN KE KAMPUS AHMADIYAH

 Usaha membuka peluang untuk mengunjungi kaum Ahmadiyah kulakukan melalui kontak kawan-kawan Facebook kalangan Ahmadiyah, namun entah mengapa tidak berbuah. Namun, ketika akan ada pertemuan diskusi di UIN yang diselenggarakan oleh Forum Mahasiswa Semarang di Jakarta, hari Rabu 30 Maret 2011, bung Dildaar Ahmad Dartono aktivis Facebook yang adalah Ahmadi menawarkan undangan untuk hadir. Maka kusambut tawaran itu. Sayangnya, undangan yang ia kirimkan melalui email selalu gagal, entah mengapa. Namun hikmah positifnya adalah aku putuskan menjemput undangan itu: Selasa, 29 Maret 2011 berkunjung ke Kampus Ahmadiyah di Pondok Udik, Kemang, Parung, Bogor.

Kantor Desa Pondok Udik ternyata ada di tepian jalan. Setiba di depannya, mengingat situasi-kondisi yang dialami kaum Ahmadiyah, lantas kupikir tidak langsung begitu saja bertanya-tanya tentang kampus Ahmadiyah kepada orang-orang di sekitar situ. Lagi pula perjalanan jauh tanpa makan dulu membuat badan lelah dan lapar. Bagusnya di depan kantor desa ada warung asinan dan minuman kelapa muda. Maka aku masuk pesan asinan sayur dan buah, dan kelapa muda sebutir. Asinan itu ternyata segar dan enak sekali. Kelapa muda juga sungguh segar alamiah. Bagusnya pula sang penjual suami istri dan anaknya cukup menjadi informan yang ramah. Bang Bisan tinggal di Jl. Empang, Kemang, Parung itu juga. Jalan ke rumahnya terletak di depan kantor desa. Dia sekeluarga sudah bisnis warung itu selama 7 tahun, waktu yang cukup panjang. Dan tentu saja, dia mengalami kasus penyerangan terhadap kampus Ahmadiyah th 2005 lalu. “Oh kalau mau masuk ke kampus bapak jalan kaki saja, menyeberang masuk jalan sebelah sana…” Dia unjukkan dan aku langsung paham. “Kalau dulu sih pas di seberang depan warung saya ini keadaannya terbuka. Dulunya gerbang besar, tiap orang dapat bebas masuk dari situ…” “Ooh bang Bisan menyaksikan kejadian serangan itu…bagaimana ?” “Oh mengerikan…kok orang-orang sampai begitu buas-beringas….”  Hm takperlu kutanya apakah dia sekeluarga penganut Ahmadiyah...

Menjelang habis makanan dan minuman itu, lantas kutelepon bung Dildaar. Kuberitahu posisiku di warung. Lantas dia berbaik hati menjemput. Ternyata dia berjalan kaki. "Assalamu'alaykum...". "Wa'alaykumussalam..". Kami bersalaman, lalu bareng berjalan ke arah kampus melalui jalan samping yang ternyata cukup lebar, sekitar 4-5 meter dan teraspal baik. Dia tunjukkan posisi kampus di mana. Secara keseluruhan tampak kampus tertutup pagar tinggi dan ditumbuhi pohon dan semak-semak hijau segar. Terasa sepi. “Sepi ya….” “Ya kami sedang masa liburan, anak-anak tidak ada di kampus…”   Hm kulayangkan pandangan ke kampus dan sekelilingnya. Posisinya bagus, di tengah daerah yang belum begitu terbuka, penuh pepohonan hijau, terasa susasana sejuk-segar. Suasana alam yang demikian, kiranya mendukung proses belaja-mengajar di kampus itu. “Kenapa gerbang besar di depan, ditutup?”  “Ya tadinya terbuaka bebas… maklumlah setelah kejadian serangan itu, kami tutup saja agar-supaya orang-orang tidak dapat sembarangan masuk. Lagi pula dalam posisi sekarang, ya agar kami merasa aman”.  Aku pun mengangguk. Di belakang ada gerbang masuk seukuran 3-4 meter ditutup pintu setinggi 2 meteran, dan ada pos jaga kecil. “Maaf pak mesti unjuk KTP atau apa, untuk didaftar sebagai tamu…” kata bung Dildaar lembut ”Oh begitu ya…oke.”

Ya aku bisa memaklumi. Apabila suatu komunitas mengalami serangan massal seperti mereka, tentu akibatnya akan lahir sikap waspada terhadap setiap orang ‘asing’ dari luar komunitas itu. Dildaar lalu membawaku masuk. Ooh kampus ini besar. “Ada sekitar 2 hektar”, katanya. Di depan ada lapangan sepak bola. Di arah kanan ada bangunan, agaknya tempat tinggal para petugas kampus. Di ujung lapangan ada bangunan besar. Itu rupanya masjid dan ruang kantor dan ruang belajar, digabung menjadi bangunan dua tingkat. "Tidak kelihatan sebagai masjid ya..."  "Oh tadinya mau pasang kubah dan menara...tapi ada desakan agar kami tidak pasang itu...."  "Oh tidak apa, itu bukan bagian penting masjid...."  Kukatakan demikian, karena teringat kasus polemik di Prancis mengenai larangan membangun gedung dengan menara yang dimaksudkan sebagai penanda bangunan Islam. Sejak itu kuperiksa tulisan mengenai menara dan kubah. Ternyata itu memang bagian arsitektur yang ditambahkan belakangan. Menara lebih dahulu ditambahkan, ketika menbangun masjid di Basra th 665, pada masa Khalifah Bani Umayyah: Muawiyah-I. Konon motifnya: untuk menyaingi menara lonceng gereja. Artinya, menara justru lebih dahulu merupakan budaya Kristiani. Kubah baru ditambahkan sebagai bagian masjid pada abad-XV, masa Kesultanan Utsmaniyah, mengadopsi bagian arsitektur di Anatolia. Ini merupakan pengaruh budaya Bizantium. Ada juga keterangan bahwa kubah berasal dari Iran zaman pra-Islam. Desakan agar kaum Ahmadiyah tidak menggunakan kubah dan menara juga menunjukkan bagaimana masyarakat kita beragama cenderung formalistik.

  Di Ujung barat ada bangunan rendah, menyatu ke gedung itu, ruangan kamar mandi dan ruang wudhu yang memanjang sampai bertemu dengan bangunan tempat tinggal petugas kampus itu. Bung Dildaar membawaku ke lobi memanjang sekitar 60-an m dan lebar 20-an m. Di kedua ujung ada pintu besar untuk masuk. Ternyata yang kiri untuk perempuan dan yang kanan untuk kaum lelaki, tetapi tanpa penyekat ruang pembeda lelaki-perempuan itu. “Lelaki-perempuan tidak berjabatan tangan?” “Tidak. Tapi berinteraksi biasa saja”. Aku teringat kondisi serupa di kalangan pesantren Persis di jl Pejagalan Bandung.  Dan teringat juga masa bersekolah agama di Madrasah Muslimin afiliasi ke NU, di sana malah laki-perempuan bersalaman, bersinggungan tidak masalah. Hanya saja kalangan NU menganggap persinggungan kulit lelaki-perempuan itu membatalkan wudhu, tapi orang Persis tidak, juga Muhammadiyah. Berarti dalam hal itu, kaum Ahmadiyah dekat ke Persis dan Muhammadiyah. Kita tahu perkara ini pernah menjadi berita besar ketika Menkominfo Tifatul Sembiring bersalaman dengan Michele Obama, yang menjadi berita utama di media masa nasional, bahan jadi bahan lelucon di media televisi AS..

Aku minta izin mau solat Asar dulu. Bung Dildar menunjukkan ruang wudhu itu. Aku masuk, ternyata bersih, tertata rapih. Airnya sejuk, meresap ke kulit ke otot, membuat rasa segar ke badan dan ke batin. Lalu, aku naik ke ruang solat di atas, masjid. Ruangan hening, karena para santri/siswa sedang liburan pulang kampong. Meskipun gedungnya permanen dengan lantai beton yang luas, sekitar panjang 100-an m dan lebar 60-an m, interior masjid amat sederhana. Kuambil beberapa foto dengan kameraku. Di depan tampak kaligrafi ‘Laa ilaaha illallaah, Muhammadur-Rasuulullaah’, ‘Tiada Tuhan selain Allah, Muhammad Utusan Allah’. Lha kaligrafi semacam inilah yang kita sering lihat ketika ada pemberitaan di televisi tentang masjid atau madrasah mereka mendapat serangan kelompok anti-Ahmadiyah. Padahal para penyerang yang buas-beringas itu menyerang sambil meneriakkan ‘Allahu Akbar’. Aneh sekali, apakah kelompok penyerang buta ajaran yang melarang menyerang kelompok yang sama-sama meyakini ‘Laa ilaaha illallaah, Muhammadur-Rasuulullaah’, ‘Tiada Tuhan selain Allah, Muhammad Utusan Allah’. Ada hadis yang diriwayatkan Imam Bukhari dan Imam Muslim memuat pesan Kanjeng Nabi yang menyebutkan bahwa pengecaman-penghinaan kepada sesama keyakinan demikian itu fasik dan menyebabkan kematiannya adalah perbuatan kafir. Kalaupun penyerangan didasarkan prasangka adanya kesesatan di pihak Ahmadiyah, maka itupun jelas-jelas fasik, karena seharusnya prasangka diklarifikasikan (tabayyun). Apakah mereka buta juga masalah it?  Hmm. Tetapi kita tahu, meskipun mengalami serangan yang kasar demikian, kaum Ahmadiyah tidaklah menunjukkan sikap defensif yang membabi-buta juga. Gila. Mengapa demikian.

Masjid an-Nashr (Pertolongan). Tidak ada gambar Mirza Ghulam Ahmad, bahkan tidak ada kaligrafi namanya di dinding manapun di ruang masjid itu. Ini berbeda dari yang mungkin disangkakan orang. Aku ingat ketika masuk masjid kaum Syi’ah di Singapura. Di dalam ruangan terpampang kaligrafi lima tokoh idola mereka satu paket: Muhammad-Ali-Fathimah-Hasan-Husein, terpampang dalam tulisan Arab mengambil pola lingkaran. Di sini tidak ada kaligrafi Mirza Ghulam Ahmad.

Karena kosong, 'bismillah...' aku langsung saja solat di atas sajadah imam di sisi mimbar. Tahiyatul-masjid dulu, lalu solat Asar. Lalu dzikir. Kemudian berdiri melongok ke dalam mimbar. Kulihat ada dua kitab: al-Qur’an terbitan Yayasan Wisma Damai. Kubuka sekilas, isinya seperti yang kita kenal saja. Lalu, ada kitab Riyadlush-Shalihin, jilid II, penyusunnya Imam Nawawi. Usai solat, kulihat bung Dildaar ada di pintu. Dia sekali lagi memperlihatkan al-Qur’an tadi dan kitab hadis itu. Aku minta kepadanya alamat di mana bisa beli al-Qur’an terbitan Yayasan Wisma Damai itu. Untuk kubaca selanjutnya. Dia berjanji memberitahu, atau mengusahakan aku memperolehnya.

Keluar dari masjid An-Nashr itu, aku menuruni tangga. Di ujung bawah pojok terdapat papan komunikasi dengan beberapa kertas edaran yang ditempelkan. Terdapat di situ Daftar Khatib Jum'at, Daftar Imam Tahajjud. Melihat daftar-daftar itu kok teringat kasus Bupati Kuningan mengunjungi masjid Ahmadiyah di sana. Menurut berita koran, tentu saja kunjungan itu disambut oleh pengurus masjid, yang mengatakan "Ini kunjungan pertama pejabat ke mmasjid kami". Sayangnya, para tamu berusaha untuk tampil menjadi imam solat, yang tentu saja ditolak. Kupikir memang itu buruk. Bukan saja rombongan para tamu itu pertama kali datang, juga sudah ada daftar imam solat. Lagi pula dalam ajaran etika solat juga, cara demikian tidaklah diperkenankan karena diutamakan tuan rumah yang diterima jamaah masjid. Celakanya, rombongan tamu lalu bikin solat dengan jamaah baru, sehingga muncul berita 'solat dua imam'...Padahal apabila ada jamaah solat, dilarang bikin jamaah baru, kecuali harus bergabung. Bagaimana pula ini?

KULIHAT BUKU ‘TADHKIRAH’ YANG MENGHEBOHKAN ITU

Kami lalu turun. Lalu, kuminta izin masuk perpustakaan. Kami masuk. Di situlah bung Dildaar memperlihatkan buku yang menghebohkan, ‘Tadhkirah’. Buku ini tertulis dalam bhs Inggris. Penulisannya ‘Tadhkirah’ (dengan ‘dh’), bukan ‘Tadzkirah’ (dengan ‘dz’). “Ini buku semacam catatan harian Mirza Ghulam Ahmad, bukan kitab suci, apalagi pengganti al-Qur’an”. Bung Dildaar mengunjukkan beberapa kalimat. Aku mengangguk. Jadi rupanya sumber kesalahpahaman terletak di penafsiran atas kalimat-kalimat itu. “Karena isinya juga catatan pengalaman spiritual beliau, orang juga boleh percaya boleh tidak”. Aku mengangguk, lalu kutimpali. “Ya paham. Artinya juga, kalau toh isinya ini dusta, Mirza Ghulam Ahmad pula yang akan kena azab Allah, apalagi bila kedustaan itu diikuti orang-orang lain pengikutnya.”  Kuambil foto beberapa halaman ‘Tadhkirah’ itu. Gila, mengapa pula sampai timbul kehebohan seolah-olah kaum Ahmadiyah membikin kitab suci sendiri.

TIGA POLA SIKAP FUTURISME:

Dalam hati timbul pertanyaan. Kalau berdasarkan bukunya semacam ini, lantas siapa dulu th 1974 yang menyimpulkan kaum Ahmadiyah ‘sesat’ dan ‘kafir’ dalam sidang Liga Islam Dunia itu. Besar kemungkinan semuanya kaum Sunni. Karena rasanya tidak mungkin kaum Syi'ah karena pola nalarnya sebenarnya ada keserupaan dengan kaum Syi’ah. Bedanya kaum Syi’ah member label idola mereka itu Imam, dan rekrutmennya terbatas kepada Ahlul-Bayt dan keturunannya, kaum Ahmadiyah memberi label idolanya itu ‘Nabi biasa’ yaitu Nabi tanpa syariat baru. Artinya kedua kaum ini sejatinya sama saja mengikuti syariat Nabi Muhammad saw. Perbedaan lainnya, kaum Syi’ah dalam posisi menunggu kedatangan Imam al-Mahdi yang juga Isa al-Masih itu, kaum Ahmadiyah meyakini al-Mahdi dan al-Masih itu sudah datang ialah Mirza Ghulam Ahmad itu. Soal terkahir ini biar kudengar nanti.

Namun, sebenarnya kurasa aneh juga kalau kaum NU, yang bagian dari Sunni, ikutan menuduh mereka ‘sesat’ dan ‘kafir’, karena di kalangan NU tumbuh berbagai aliran tarekat kesufian yang mengenal konsep orang-orang suci yang mereka sebut Wali, yang sering juga mengalami mimpi-mimpi ajaib bahkan mengaku bertemu Nabi Muhammad di dalam mimpi. Namun kupahami bila pelabelan ‘sesat’ dan ‘kafir’ itu muncul di forum Liga Islam Dunia bermarkas di Saudi Arabia yang resminya menganut paham Wahhabi, yang tidak menyukai pola keagamaan ala sufi atau tarekat, atau konsep kewalian yang berbau mistis itu. Maka kupahami apabila kaum Muhammadiyah menelurkan fatwa demikian tahun 1933. Pandangan kaum Salafi, di mana termasuk di situ Wahhabi, dan Persis serta Muhammadiyah berada di kelompok ini juga cenderung dinilai oleh kaum Syi’ah dan penganut sufi tarekat sebagai pandangan yang tekstualis, yang menuntut kemurnian dalam paham keagamaan, murni sebagaimana berlangsung di masa hidup Nabi. Mereka beragama dengan tampak saja alias 'zhahiriyyah' saja, padahal perlu juga secara 'bathiniyah' menyelam sampai ke makna di balik yang zhahir itu.  Tetapi di mata kaum Salafi, mereka adalah penganut pandangan agama yang mencampurbaurkan kepercayaan lokal bahkan sampai bernuansa syirik, khurafat dan bidah. Kesamaan lain kaum Syi’ah dengan Ahmadiyah ini, sama-sama menganut paham adanya konsep khilafat dalam Islam. Pada kenyataannya, di Iran berlangsung konsep itu namun karena Imam terakhir ‘menghilang’ dan bakal muncul suatu saat kelak nanti, dalam posisi menunggu ini yang menjalankan Khilafat itu adalah para Imam seperti Imam Khomeini dst. Jadi ada unsur futurism yang mistis di sini. Di lingkungan kaum Ahmadiyah, Khilafat itu tentu dimulai dengan Mirza Ghulam Ahmad, yang lalu generasi berikutnya dipilih dalam suatu pertemuan untuk itu, dan ini bedanya dari kaum Syi’ah, kaum Ahmadiyah tidaklah mengasumsikan imamnya dari kalangan Ahlil-Bayt.

“Menurut ajaran Al-Qur’an, sepeninggal nabi ummat Islam harus dipimpin oleh khalifah-khalifah yang dipilih dari antara orang-orang Islam yang paling tinggi keruhaniannya. Sesudah Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad a.s. Imam Mahdi, Masih Mau’ud wafat, dipilihlah Hadhrat Hakim Nuruddin r.a. sebagai Khalifatul Masih I. Berikutnya, dipilih Hadhrat Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad r.a. sebagai Khalifatul Masih II. Beliau ini adalah putera dari Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad a.s. Kemudian, dipilihlah Hadhrat Mirza Nasir Ahmad M.A.  sebagai Khalifatul Masih III. Lantas, yang dipilih: Hadhrat Mirza Tahir Ahmad sebagai Kalifatul Masih IV. Jika  Kalifatul Masih IV wafat maka akan dipilih pula seorang lain untuk menjadi  Kalifatul Masih V karena khilafat harus tetap ada sampai hari kiamat.”   “ Tujuan didirkannya jemaat Ahmadiyah ialah, sebagaimana dikatakan oleh pendirinya, Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad a.s. : Menghidupkan agama dan menegakkan Syariat Islam.” “Untuk mencapai tujuan itu kami menyebarkan muballigh untuk mengajarkan Islam seluas–luasnya ke seluruh dunia dan memajukan pendidikan dan pengajaran Islam sebesar-besarnya di kalangan kaum Muslimin sendiri. Di luar negeri di Negara Eropa dan Amerika kami merintis pembangunan berbagai masjid dan pusat-pusat keislaman. Bahkan di negeri Fiji, hanya ada satu masjid, dan itu kami yang mendirikannya.”

Kaum Persis, Muhammadiyah dan sejenisnya mempercayai akan datangnya pembaharu yang mengenalkan pandangan-pandangan keagamaan yang memperbaiki paham yang ada, mereka menyebutnya ‘mujaddid’. Meskipun begitu mujaddid ini tidaklah dilekati sifat-sifat bernuansa kewalian, melainkan sifat kecendekiaan, ketinggian dan keluasan wawasan dalam keagamaan. Kaum Persis, Muhammadiyah juga meyakini akan datangnya Isa al-Masih di akhir zaman sebagai Imam Mahdi yang ditunggu-tunggu. Maka di sini kita melihat ada tiga pola sikap futurism yang berbeda, walaupun pada dasarnya basis argumennya hadis kedatangan Isa al-Masih, Dajjal atau Imam Mahdi yang sama juga.

SOLAT BERJAMAAH:

Usai dari perpustakaan, kami duduk mengobrol lagi di lobi. Oh ya, di lobi ini terpampang semboyan “Akan Kusampaikan dakwah sampai ke seluruh pelosok dunia” di atas peta dunia yang terpasang di dinding Timur di belakang punggung. Di depan mata ada ruang-ruang kantor-kantor, di atasnya ada tulisan ‘Dakwah Kepada Allah’…

Tidak berapa lama, beberapa orang berdatangan, baik dari pintu masuk lelaki maupun pintu perempuan. Oh sebentar lagi solat magrib. Tadinya sudah mau pamitan. Tetapi seiring perjalanan waktu, tibalah waktu magrib. Kupikir ini kesempatan menyaksikan bagaimana mereka melakukan solat. Aku naik lagi ke atas, masuk ke ruang solat. Kulihat beberapa orang melakukan tahiyatul-masjid. Aku juga melakukannya. Sementara itu terdengar seseorang tampil mengumandangkan adzan. Masyaallah. Aku yang dulunya muadzin, menyimak, ternyata pengucapannya (makhroj) baik sekali. Langgamnya khas lokal kita tapi bagus juga. Yang penting isi kalimat-kalimat adzannya sama dengan yang kita kenal, termasuk tentu saja ucapan syahadatain itu: “Asyhadu a(n)laa ilaaha illallaah !!!” “Asyhadu anna Muhammadar-Rasuulullaah!!!’ Gila. Sama persis. Tidak ada embel-embel lainnya. Gila. Padahal ada juga isyu, kaum Ahmadiyah punya syahadat tersendiri.

Maka kamipun mulai solat. Jamaahnya tidak banyak karena para santri-siswa sedang liburan itu. Yang hadir Cuma beberapa petugas kampus dan tetangga. Hanya dua saf saja. Ingin kuambil foto selagi solat, tetapi aku terlanjur masuk saf di belakang-kanan Imam solat. Seorang tampil sebagai imam solat, pakaiannya kemeja putih-bersih berpeci hitam. Persis penampilan seorang Persis atau Muhammadiyah. Kalau NU kebanyakan tampil dengan baju koko putih atau gamis panjang dan berpeci haji atau serban. Kusimak betul-betul. Tidak ada bisik-bisik baca password “usholli…..” seperti biasa dilantunkan kaum NU. Bahkan di kalangan NU ada yang berulang-ulang bertakbir sambil mencari posisi khusyu batin… Persislah dengan solatnya kaum Persis dan Muhammadiyah. Orang Jamaah Tabligh mengenal dua cara, yang ‘password’nya keras dan yang berbisik dalam hati. Lalu, imam langsung baca al-Fatihah. Berarti ucapan password ‘bismillahirrahmanirrahim’ di awalnya tidak dikeraskan (tidak zhahr) melainkan dibisikkan saja (sirr). Bacaan al-Fatihah- nya bagus sekali langgamnya dan pelafalannya. Yang menarik, setiba di ujung ayat: ‘walaa dhdhaaalliiiin’ mereka tidak meneriakkan ‘Aaminn’ melainkan Cuma berbisik dan sekejap, tidak panjang-panjang. Pada rakaat kedua juga nantinya begitu. Lalu disusul dengan bacaan surah as-Syamsu. Bacaannya lantang, fasih. Pada rakaat kedua bacaan surahnya al-Fil digabung dengan al-Lahab. Nah, antara dua surah ini bacaan  ‘bismillahirrahmanirrahim’ dikeraskan. Ternyata solat magribnya sama saja dengan yang kita kenal, tiga rakaat, dengan dua tasyahud. Gila, jadi apa yang beda?

Usai solat kusaksikan mereka berdzikir, persis seperti kaum Persis dan Muhammadiyah, mereka lakukan dengan diam-diam dan perorangan. Berbeda dengan cara dzikr kaum NU yang keras-keras dipimpin imam atau petugas lain, paket dzikr dan do’anya pun panjang. Kebiasaan ini terkadang kurasa mengganggu ketika rombongan masbuq, karena mengganggu fokus solat. Parahnya, kalau datang rombongan baru untuk solat jamaah karena bacaan imam seperti balapan dengan bacaan dzikr dan do’a yang keras itu. Bahkan banyak masjid kaum NU yang mengeluarkan bacaan-bacaan dan dzikr dan doa ke luar masjid melalui speakernya, yang bagi sebagian orang bisa menjadi gangguan, terutama bagi nonmuslim Lagi pula, mengapa harus diperdengarkan keras, sampai ke luar masjid, padahal kalau kita pikirkan sama-sekali tidak relevan.

PENGAJIAN HADIS USAI SOLAT MAGRIB:

Ketika akan pamitan, karena untuk pulang masih harus menempuh jarak amat jauh, bung Dildaar memberitahu, usai dzikir-do’a semua orang selesai biasa ada pengajian hadis. “Hm boleh juga…sampai tiba waktu Isya?” “Oh tidak Cuma 10-an menit…” “Oke …” Maka akupun duduk, siap menyimak. Ternyata yang tampil ialah sang imam tadi. Dan yang dibacakan, adalah hadis tentang bagaimana menangani urusan jenazah dan keutamaan mereka yang ikut melibatkan diri dalam penanganan itu. Betul, Cuma sekitar 10 menitan. Sesudah itulah orang-orang banyak menoleh kepadaku dan bersalaman, sambil bertanya “Dari mana nih…” Haha, memang aku orang asing di situ. Kuperkenalkan diri, juga kutanyakan beberapa nama. Lalu sang imampun mundur bergabung, dan begitu saja terbentuklah pola lingkaran kecil. Kami mulai mengobrol yang menjurus ke diskusi. Imam itu bernama Ust Ama Qomaruddin, asal Lombok rupanya. “Oh ustadz yang tadi dibacakan itu Riyadhlush-Shalihin?” “Ya”… Nah, kitab ini sering kita temukan dalam pengajian kaum Persis dan Muhammadiyah. Gila, dalam hal ini mereka sama saja dengan kaum Persis dan Muhammadiyah. Kaum Jamaah Tabligh menyukai baca Fadhilah Amal, juga kaum NU. “Wah selama solat tadi rupanya saya saja yang gak pake tutup kepala…” “Oh iya ya, pakailah, kami mengharuskan pakai peci atau tutup kepala lain…” Kuunjukkan topi yang kuletakkan di atas atas laptop. “Nah pake itu saja, tinggal balik ke belakang, oke”.  Hm dalam hal tutup kepala ini malah mereka dekat ke paham NU yang malah hamper mewajibkan memakai topi haji yang putih. Dalam hal ini justru kaum Persis dan Muhammadiyah amat longgar. Kalau kita melihat orang solat di masjid dengan baju biasa, bukan baju koko atau sejenisnya, dan tanpa peci atau tutup kepala seperti haji dan sejenisnya dapat dipastikan mereka itu kaum Persis atau Muhammadiyah.

DISKUSI SEBELUM SOLAT ISYA

---PERIHAL KENABIAN MIRZA GHULAM AHMAD:

Ustadz Qamaruddin menjelaskan pandangan Ahmadiyah. “Menurut sabda Nabi Muhammad saw. dalam Sahih Muslim, Isa yang akan diturunkan itu berpangkat Nabi, Sesuai dengan itu Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad a.s adalah nabi.” Menurut Al-Qur’an setiap nabi adalah rasul dan sebaliknya setiap rasul adalah nabi. Seoarang dikatakan nabi karena ia mendapat khabar ghaib dari Allah swt. yang mengatakan ia adalah ‘Nabi’. Dan ia disebutkan rasul karena diutus oleh Allah swt, kepada manusia. Selaras dengan itu Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad a.s, adalah nabi dan rasul”.

 “Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad a.s. ialah Imam Mahdi dan Almasihul Mau’ud  (al-Masih yang dijanjikan ). Nabi Muhammad saw. berjanji bahwa di akhir zaman akan datang Imam Mahdi dan Isa Almasih. Dalam hadis Nabi Muhammad saw, juga disebutkan bahwa Imam Mahdi dan Isa Almasih itu hanya satu orang juga dan orang itu dating dari ummat Islam sendiri. Sesuai dengan janji-janji Nabi Muhammad saw itu dan atas perintah Allah swt. Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad a.s mendakwakan diri beliau sebagai  Imam Mahdi dan Al-Masihul al-Mau’ud”.

“Nabi Isa dari Bani Israil, yang disebutkan dalam Al-Qur’an, hanya untuk Bani Israil saja. Beliau dipaku di palang salib oleh kaum Yahudi, tetapi tidak sampai mati, hanya pingsan. Sesudah sembuh beliau menyingkir dari Palestina ke daerah-daerah timur, di mana bertebaran sepuluh suku Israil lainnya. Akhirnya beliau sampai di Kashmir di mana beliau wafat dan dikuburkan di Khan Yar Street, Srinagar. Sampai kini kuburan itu masih ada”  Ooh dulu, aku yang penggila baca buku tentang Kristologi, sempat baca buku kecil 'Nabi Isa meninggal di Kashmir' kalau tidak salah tulisan Safi R. Batuah. Jadi beliau seorang Ahmadi rupanya.  “Menurut Al-Qur’an, nabi atau rasul ada dua macam : Pertama, ‘pembawa syariat baru’ seperti Nabi Muhammad saw. Kedua, ‘pengikut dan pelaksana syariat yang ada’, seperti nabi-nabi dalam Bani Israil  mulai dari nabi Harun a.s. sampai nabi Isa a.s. yang mengikut syriat Nabi Musa  a.s. Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad a.s tergolong dalam nabi atau rasul macam kedua, yaitu yang tidak membawa syariat baru dan hanya mengikuti dan menjalankan syariat  Nabi Muhammad saw, yaitu Islam. Ahmadiyah berpendapat, berdasar pada Al-Qur’an, bahwa mengangkat nabi-nabi adalah salah satu sunnah Tuhan. Siapa dan dimana nabi baru akan diutus, Tuhan sendiri yang mengetahuinya. Sunnah Tuhan itu senantiasa berlaku.”

“Kalau keadaan manusia sudah sangat kalut dan kedatangan seorang nabi dianggap perlu oleh Tuhan, maka Dia akan mengutus seorang nabi. Begitulah halnya sekarang. Karena di waktu ini manusia tidak mementingkan agama lagi, maka Tuhan telah mengutus Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad a.s. sebagai nabi.” “Begitu pula kalau nanti manusia jatuh kembali ke dalam kekacauan sehingga perlu pula kedatangan seorang nabi baru, maka Tuhan akan mengutus lagi seorang nabi baru. Begitulah seterusnya. Tetapi semua nabi itu hanya akan menjalankan syariat Islam dan sebagai pembantu bagi Nabi Muhammad saw, seperti halnya dengan Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad a.s.” “Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad a.s, lahir di Qadian pada tanggal 13 Pebruari 1835. beliau hidup 73 tahun. Sesudah berjuang membela dan menyebarkan agama Islam, menerbitkan sekitar 84 buah buku, beliau wafat pada tanggal 26 Mei 1908 di Lahore dalam keadaan biasa dan dikuburkan di Qadian.”  Hm jadi kaum Ahmadiyah meyakini keberlangsungan pewahyuan, kedatangan nabi atau rasul berapa orangpun sampai kiamat nanti, walaupun tidak membawa syariat baru hanya mengikuti syariat bawaan Nabi Muhammad saw. Sebenarnya konsep ini bagiku juga bukanlah hal yang aneh. Kata kuncinya terletak pada kata 'wahyu'. bagaimana al-Qur'an menggunakan kata ini. Yang jelas ada kata kerja 'mewahyukan' yang diaplikasikan kepada hewan semacam lebah..."Ku-wahyukan kepada lebah agar membuat sarang...." (surah an-Nahl) tetapi terjemahannya justru bukan 'Ku-wahyukan' tetapi 'kuilhamkan', padahal kata 'ilham' senerikat oleh paham 'wahyu sudah berakhir, makadiri ada kemunculan di tempat lain...Hm harus kuburu nanti. Jadi perlu kuburu juga penggunaan kata kerja 'mewahyukan' pada ayat-ayat lain, yang karena penerjemah masa lalu terikat oleh pendapat bahwa 'pewahyuan sudah berakhir pada diri Muhammad saw' lalu menerjemahkannya ke kata lain, dalam contoh lebah tadi 'kuilhamkan'....

“Menurut kepercayaan Ahmadiyah, berdasarkan ajaran Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad a.s. sendiri, Nabi yang mempunyai kalimat Syahadat hanya Nabi Muhammad saw saja, itulah salah satu keunggulan beliau dibanding dengan seluruh nabi-nabi lain. Selain beliau tak ada nabi lain  yang mempunyai  kalimat syahadat. Di kalangan ummat Islam ada pendapat – pendapat bahwa beberapa  nabi mempunyai pula syahadat. Ahnadiyah menentang pendapat ini. Menurut Ahmadiyah semua nabi lainnya, baik yang dulu maupun yang kemudian, tidak dan tidak akan mempunyai kalimat syahadat sendiri. Jadi,  Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad  tidak mempunyai kalimat syahadat sendiri. Kalimat syahadat beliau ialah kalimat Syahadat Nabi Muhammad saw.”

“Kadangkala ada pertanyaan tentang keimanan Ahmadiyah. Sama saja, kami mempercayai sepenuh-penuhnya rukun iman yang enam : Percaya pada Allah, Percaya pada Malaikat, Percaya pada kitab-kitab Suci, Percaya pada Nabi-Nabi, Percaya pada hari Kiamat, Percaya pada Qada dan Qadar.” “Seluruh rukun Islam yang lima: Syahadat, shalat, puasa, zakat, dan haji dijalankan oleh orang–orang Ahmadiyah. Orang-orang Ahmadiyah yang sanggup diwajibkan pergi haji ke Mekkah. Kalau solat, kami juga berkiblat ke Ka’bah di Makkah.” “Oh kami naik haji juga ke Mekkah. Bukankah para Khalifah kami juga semuanya haji.”  Tapi tidak kukembangkan pertanyaan tentang larangan naik haji oleh pemerintah Saudi Arabia. Toh aku tahu dari buku-buku yang mereka tulis, penulisnya bertitel Haji. Yang kukenal penulis dari kalangan Ahmadiyah misalnya H. Syafii A. Batuah.Ustadz atau H. Saleh A. Nahdi, dsb. Penulis ‘Perlukah al-Qur’an diturunkan”, juga Mirza H. Bashiruddin Ahmad.”

“Salah satu pendapat yang ditentang keras oleh Ahmadiyah ialah pendapat nasikh dan mansukh. Menurut pendapat umum diantara ayat-ayat Al-Qur-an ada yang membatalkan ( nasikh ) ayat-ayat lain dan ada ayat-ayat yang dibatalkan ( mansukh ). Menurut Ahmadiyah tak ada ayat Al-Qur-an yang dibatalkan dan seluruh ayat tetap berlaku, baik tentang bentuk maupun tentang hukumnya.” Dalam hal pendapat nasikh-mansukh ini tampaknya kyai Husein Muhammad dari Cirebon memiliki pandangan yang sama: tidak ada nasikh-mansukh dalam ayat-ayat al-Qur’an.

---TIDAK BERPOLITIK :

Ustadz Qamaruddin menerangkan selanjutnya. “Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad a.s. tidak membawa kitab syariat baru. Kitab syariat beliau ialah Kitab Syariat Nabi Muhammad saw, sendiri yaitu Al-Qur’an Suci yang berisi 114 surah dan terbagi dalam 30 juz. “Salah satu keyakinan Ahmadiyah ialah bahwa Al-Qur-an tidak berubah dan tidak dapat diubah.  Malahan satu-satunya kitab suci diseluruh dunia yang tidak berubah isinya hanyalah Al-Qur-an Suci saja. Al-Qur-an Ahmadiyah tetap bermula dengan surah ‘Al-Faatihah’, berakhir dengan surah An- Naas. Karena itu Ahmaddiyah tidak mempunyai kitab lain selain Al-Qur-anul Hakim.”

Ustadz Qamaruddin menjelaskan soal posisi buku ‘Tadhkirah’ yang menghebohkan itu. “Ini himpunan pengalaman spiritual Mirza Ghulam Ahmad, di antaranya beberapa ayat yang dibacakan dalam mimpinya, lalu beliau tulis semuanya disertai pengalaman lainnya. Beliau sendiri tidak mengetahui ada kitab ini. Ketika semasa hidupnya ada usulan untuk membukukannya, juga beliau menolak takut menjadi fitnah. Tetapi sepeninggal beliau ada beberapa pengikutnya yang merasa perlu menghimpun semua pengalaman yang beliau tulis tersebar dalam 84 jilid buku, namun penghimpunan itu khusus pengalaman mimpi-mimpi yang beliau alami termasuk pengalaman gaib lainnya, dalam satu buku yaitu ‘Tadhkirah’. Dalam hal ini kaum Ahmadiyah Lahore tidak memiliki pemikiran itu, jadi mereka tidak punya buku ‘Tadhkirah’ itu karena mereka tidak menganggap penting. Memang ada kesalahan di antara penyusunnya yang menyatakan itu sebagai kitab suci, namun sebenarnya itu ungkapan ingin menghormati semua pengalaman beliau yang suci.”

Hmh ya, aku bisa memahami psikologi itu. Bukankah kaum Syi’ah juga sangat mengagungkan himpunan hadis yang bersumber dari mulut tokoh Ahlul-Bayt, terutama Ali bin Abi Thalib? Sampai-sampai posisi Ali bin Abi Thalib terkesan melebihi Nabi Muhammad sendiri. Aku maklum juga bagaimana cara kaum NU menghormati para kyai atau ulama sikap dan cara takzim (pengagungan) yang luar biasa itu. Atau juga bagaimana para murid tarekat kesufdian amat mengagungkan guru mursyidnya dengan sikap dan cara takzim yang luar biasa pula. Gila. Bagiku itu sih gejala psikologi yang sama saja. Basis argumennya ya sama saja. Dalam hal ini kaum Persis dan Muhammadiyah atau Wahhabi atau Salafy tampaknya jauh lebih rasional, mereka membenci sikap pengagungan individu berlebihan.

“Isyu mengenai Tadhkirah sebagai kitab suci Ahmadiyah itu cuma ada di Indonesia sini…” “Oh di Pakistan bagaimana?” “Tidak ada masalah itu”  “Lantas mengapa dikategorikan agama minoritas non-Islam?”  “Itu ada kisahnya. Kami dikhianati. Kami sebetulnya tidak berpolitik. Kala pemilihan umum, ada tokoh politisi bernama Zulfikar Ali Bhuto mencalonkan diri dan kampanye, yang pada suatu saat ternyata suaranya kurang dan mendatangi kami meminta suaranya diberikan kepada partainya. Kala itu posisinya imbang dengan lawan politik lainnya, dan suara kami menentukan dia kalah atau menang. Janjinya, apabila suara diberikan dan Ali Bhuto memenangkan pemilu, dia akan memberi perlindungan kepada jemaat Ahmadiyah. Dengan janji itu kami berikan suara, dan dia memenangkan pemilu. Tetapi kemudian dia pulalah yang menetapkanj Ahmadiyah sebagai minoritas non-Islam. Namun, kita lihat nasibnya kelak penuh malapetaka, sampai ke anak keturunannya juga. Dan malapetaka itu sudah teramalkan dalam mimpi Mirza Ghulam Ahmad yang tercatat dalam Tadhkirah. Kami meyakini banyak kasus-kasus serupa dalam Tadhkirah yang akan berulang kembali di masa-masa depan.”   Begitu kata Ustadz Qamaruddin. “Di Indonesia, kami mengalami berbagai serangan itu belakangan saja. Dan kita kemudian tahu peristiwa ini adalah politisasi, kita tahu siapa yang melakukannya". Mungkin maksudnya kelompok FPI atau FUI atau mereka yang mengancam pemerintah apabila tidak membubarkan Ahmadiyah mereka akan menggulingkan pemerintah SBY. Tetapi tidak kukembangkan pertanyaan berikutnya.

Walaupun begitu, aku sih punya pendapat sendiri. Begini, kaum Sunni juga sebenarnya tidak perlu murka seandainya ada juga upaya pembuatan kitab suci lain, sekalipun mencontoh al-Quran. Haha aneh? Yang aneh justru yang marah itu. Al-Qur'an sendiri menantang pembacanya, jinn atau manusia, apabila mampu untuk membikin kitab tandingan, bahkan meskipun cuma satu surah. Nah kalaulah ada kabar bahwa di kalangan Ahmadiyah ada kitab baru, suruh saja mereka menampilkannya. Begitu juga, ada isyu bahwa di kalangan Syi'ah ada al-Qur'an versi Fathimah. Demi kebenaran, sebaiknya tampilkan semua, agar nanti jelas di mana keunggulan al-Qur'an. Pesan penting yang ingin kupegang, mengingat ayat-ayat tantangan dalam al-Qur'an yang begitu terbuka, terbuka tidak membatasi zaman, terbuka tidak membatasi kepada kalangan tertentu, maka kita umat Islam harus siap menerima kemunculan itu apabila memang terjadi. Dan itu jangan diartikan mencela atau menghina al-Qur'an, justru sebaliknya akan merusak martabat si peniru itu sendiri, dan menambah keagungan al-Qur'an.

Yang terjadi justru menyedihkan. gara-gara emosi tidak terkendali, lalu terjadi penyerangan fisik ke madrasah ke masjid kaum Ahmadiyah, al-Qur'an yang sejatinya sama, kaum penyerang campakkan-rusakkan dengan semena-mena. Papan nama dan kaligrafi bertulisan kalimah thoyyibah mereka rusak tanpa membaca-meneliti terlebih dahulu  lebih cermat. Gerangan azab macam apa akan Allah berikan kepada mereka.

”Jemaat Ahmadiyah  sebagai organisasi tidak berpolitik. Jadi jemaat Ahmadiyah bukan partai politik. Jemaat Ahmadiyah tidak boleh berpolitik karena : Pertama, perjuangan Ahmadiyah bukan hanya satu segi saja tetapi melingkupi segala kehidupan, di dunia dan di akhirat. Kedua, Ahmadiyah bukan hanya terdapat dalam satu Negara saja melainkan meliputi seluruh dunia.” Tetapi orang–orang Ahmadiyah sebagai perseorangan  warga negara dapat melakukan tindakan politik atau memilih dalam pemilihan umum. Dengan sendirinya dalam melakukan hak pilih itu seorang Ahmadiyah itu akan mendasarkan tindakannya sesuai dengan ajaran Islam dan untuk kepentingan negara.”  Di sini aku teringat tuduhan bahwa Mirza Ghulam Ahmad itu antek kaki tangan Inggris. Di kala orang berjuang melawan penjajajahan Inggris beliau malah propenjajah. Kini aku paham bahwa masalahnya bukan berarti bahwa karena dia tidak berpolitik lalu beliau itui propenjajah atau lebih buruk lagi menjadi kaki tangan Inggris. Kalau hanya itu, artinya dalam hal pengambilan sikap organisasi misalnyai 'kooperatif' atau 'nonkooperatif'  di dalam sejarah Indonesia juga kita temukan sikap kooperatif Belanda yang ditunjukkan kaum Muhammadiyah pada masa awal berdirinya, apalagi motifnya hanya untuk menjamin perolehan bantuan dana pemerintah masa itu. Memang sikap kooperatif Muhammadiyah itu mengundang juga kritik. Tetapi tidak berarti Muhammadiyah buatan Belanda, atau kaki-tangan Belanda.

Ustadz Qomaruddin yang ternyata pernah sekitar 7 tahunan belajar di pusat Ahmadiyah di India, berkisah tentang perjuangan Mirza Ghulam Ahmad yang sudah sejak remaja menyukai pengkajian agama ketimbang mengurusi harta-kekayaan orangtuanya yang berlimpah seluas beberapa desa. Beliau berceritera juga tentang kasus-kasus mubahalah dengan orang-orang yang membencinya yang berakhir dengan malapetaka di pihak lawan. Kudengar semua sambil merefleksikannya ke bacaan tentang itu, dalam buku “Mirza Ghulam Ahmad dari Qadian” (Ian Adamson, Pustaka Marwa, 2010)

----DANA PERJUANGAN

 Ustadz Qamaruddin melanjutkan. “Tidak aneh soal ini, menurut Al-Qur-an tiap nabi dan rasul selalu minta pengorbanan besar dari para pengikutnya. Lihatlah para sahabat seperti Abu Bakar ra. Dkk.  Demikian pula untuk mencapai tujuan Ahmadiyah – penyaran Islam ke seluruh dunia – Hadhrat Imam Mahdi dan Masih Mau’ud a.s minta pengorbanan harta dan tenaga para pengikut Amadiyah. Setiap Ahmadi berjanji akan membayar iuran  bulanan berkisar dari 1/16 sampai 1/3 dari penghasilannya. Tapi juga, ia berjanji  membayar suatu jumlah tertentu sesukanya untuk setahun yang dapat dicicil. Iuran bentuk ini namanya iuran Tahrik Jadid. Di samping itu dimintakan iuran se- waktu-waktu untuk keperluan tertentu. Dengan aneka pengurbanan inilah kegiatan dakwah dijalankan oleh Ahmadiyah.”  "Apakah para anggota tidak merasakan berat kewajiban iuran seperti itu. Bukankah itu mirip dengan konsep persepuluhan dalam sistem iuran gereja Kristiani. "Ustadz Qamaruddin melanjutkan: " Sebenarnya sepertinya berat, tetapi anehnya gejalanya adalah para anggota justru kehidupan ekonominya membaik sejak menjadi anggota..."

Tiba waktu Isya. Seseorang tampil adzan. Ini kesempatan kedua kusimak adzan mereka. Ternyata sang muadzin itu langsung saja mengumandangkan adzan. Ini seperti muadzin kalangan Persis dan Muhammadiyah. Sering muadzin dari kalangan Nu menambah embel-embel bacaan berupa ayat tentang solawat, bahkan ada  lagi menambahkan bacaan solawat Nariyah. Tambahan-tambahan semacam ini yang dipandang kaum Persis dan Muhammadiyah sebagai bidah. Dalam hal ini lagi-lagi kaum Ahmadiyah seperti kaum Persis dan Muhammadiyah. Kali ini aku solat dengan topi yang kubalikkan arahnya ke belakang. Ustadz Qomaruddin tampil lagi sebagai imam. Bacaannya bagus. Kali ini surah yang beliau baca adalah do’anya Nabi Ibrahim yang berisi harapan agar Negara ini aman-tenteram dan diberkati dengan aneka macam buah-buahan…(Aku terharu mengingat segala perlakuan kaum buas-beringas, termasuk pemasungan hak-hak kemerdekaannya dengan SKB 3Menteri yang secara legalitas dan filsafat hukum sebenarnya melawan HAM, dan bahkan melawan semangat pluralism dan toleransi dalam al-Qur’an dan as-Sunnah…). Rakaat ke dua, surah lanjutannya, do’a berisi harapan kemuliaan bagi para anak-keturunan pada generasi-generasi berikut. (Hm ayat-ayat do’a yang sungguh relevan). Dan, akhirnya solat Isya selesai, sama dengan yang kiita kenal, 4 rakaat. Dua rakaat peryama dengan bacaan keras, ada tasyahud, lalu dua rakaat berikutnya tanpa bacaan keras, sunyi-senyap, semua terasa fokus, khusyu.

Akhirnya akupun pamitan. Oh, ternyata bung Dildaar menyediakan hidangan kecil: bubur kacang hijau dengan roti sekepal. Kunikmati itu sambil berseloroh, “Wah ini bubur kacang ijo Pondok Udik’? atau ‘bubur kacan ijo Ahmadiyah?” Bung Dildaar orang serius, hanya senyum saja. Lalu aku berjalan ke gerbang jaga di belakang ditejmani Ustadz Qomaruddin. Kuterima kembali KTP yang dititipkan di sekuriti. Lalu usai salaman dengan Ustadz Qoamaruddin kuucapkan salam kepada semua yang ada di sekitar situ. “Assalamu’alaykum”…dan kembalilah jawaban lengkap “Wa’alaykumussalam warahmatullah wabarokaatuhu!”.

RENUNGAN DI JALAN PULANG

Di perjalanan pulang,aku teringat obrolan lain di perpustakaan. "Jumlah kami sedikit sebenarnya, cuma sekitar 200,000~ 250,000 orang..."   "Oh lebih sedikit dari jemaatnya Persis..."  "Oh mereka berapa? "Hm gak tahu pasti, tapi mungkin sekitar 2 jutaan juga kurang..."  Itulah, populasi sedikit itu. Nampaknya penyebabnya ada beberapa faktor: Pertama, mungkin faktor paham kenabiannya tokoh bernama Mirza Ghulam Ahmad itu, yang jelas berbeda dengan paham yang umum diterima. Kedua, faktor etnisitas sang tokoh itu yang lebih kental nuansa India atau Persia, ketimbang Arab. Kita kenal tokoh Walisongo itu banyak yang berdarah Arab. Ketiga, persyaratan keanggotaan yang berat. Betul berat.

Kubuka prospectus atau liflet yang kuterima dari bung Dildaar tentang prosedur seseorang menjadi anggoat Jemaat Ahmadiyah. Aku membelalakkan mata. Gila, persyaratannya ketat sekali. Bahkan para anggota DPR yang konon menyusun kode etik, niscaya keberatan dalam memenuhi persyaratan itu. Memang, gila. Setahuku persyaratan masuk NU atau Muhammadiyah, dua organisasi besar kita, juga tidaklah seberat itu. Akupun merasakan betapa dahsyat dan beratnya persyaratan itu. Lihat saja, isinya selengkapnya kukutipkan di sini :

Orang yang masuk Ahmadiyah harus berjanji dengan hati yang jujur bahwa:

1. Di masa yang akan datang hingga masuk ke dalam kubur, senantiasa akan menjauhi syirik (mempersekutukan Allah Taala dengan sesuatu yang lain)

2. Senantiasa akan menghindarkan diri dari segala corak bohong, zina, pandangan birahi terhadap bukan muhrim, perbuatan fasiq, kejahatan, aniaya, khianat, mengadakan huru hara, dan memberontak: serta tidak akan di kalahkan oleh hawa nafsunya meskipun bagaimana juga dorongan terhadapnya. (Jadi, dalam hal tidak akan memberontak, sikap ini bukan hanya dalam konteks kooperatif dengan pemerintah jajahan Inggris dulu.)

3. Senantiasa akan mendirikan sembahyang lima waktu dengan tidak ada kecuali sesuai dengan perintah AllahTaala dan Rosul_Nya dengan sekuar tenaganya berikhtiar senantiasa akan mengerjakan sembahyang tahajjud (sholat tengan malam sesudah tidur, berlanjud hingga azan subuh) danmembaca salawat terhadap junjungan-Nya yang mulia Rasullah Muhammad saw, (perhatikan ini!) dan setiap saat akan membiasakan memohon ampun bagi dosa-dosa dan mengucapkan pujian dan sanjungan terhadap Allah Taala dengan mengingat kurnia-kurnia-Nya dengan hati yang penuh rasa cinta.

4. Tidak akan mendatangkan kesusahan apapun yang tidak pada tempatnya terhadap makhluk Allah seumunnya dan kaum Muslimin khususnya, karena dorongan hawa nafsu biar dengan lisan atau dengan tangan atau dengan cara apapun juga.  (perhatikan semangat pasifisme, sikap damai ini!)

5. Akan tetap setia terhadap Allah Taala dalam segala keadaan susah, ni'mat atau senang duka atau suka, ni'mat atau musibah: pendeknya akan ridha atas putusan Allah Taala dan senantiasa akan bersedia menerima segala kehinaan, kesusahan di dalam jalan Allah Taala ketika ditimpa suatu musibah bahkan akan terus melangkah ke muka.

6. Akan berhenti dari adat yang buruk dan dari menurutkan hawa nafsu dan betul-betul akan menjunjung perintah Qur-an Suci. (Perhatikan ini!)  Firmah Allah dan Rosul itu akan jadi pedoman baginya dalam tiap langkah.

7. Betul-betul akan meninggalkan takabbur dan sombong, akan hidup dengan merendah diri, beradat lemah lembut, berbudi pekerti yang halus dan sopan santun.

8. Akan menghargai agama,kehormatan agama dan mencintai Islam lebih dari pada jiwanya, harta bendanya, anak-anaknya dan dari segala yang dicintainya.

9. Akan selamanya menaruh belas kasihan terhadapmakhluk Allah seumumnya, dan sebisa-bisanya akan mendatangkan faedah kepada ummat manusia dengan kekuatan dan ni'mat yang dianugrahkan Allah Taala.

10. Akan mengikat tali persaudaraan dengan Masih Mau'ud a.s  semata mata karena Allah dengan pengakuan thaat dalam hal ma'ruf (segala hal yang baik) dan akan berdiri di atas perjanjian ini hingga mautnya. Dalam tali persaudaraan ini begitu tinggi hendaknya sehingga tidak akan diperoleh bandingannya, baik dalam ikatan persaudaraan dunia, maupun dalam kekeluargaan atau dalam segala macam hubungan antara hamba dengan tuannya.”

Akhirnya, tertulis sbb. : "Seseorang yang telah memeriksa segala pendakwaan Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad  a.s. Dan kemudian membenarkan harus menggabungkan diri pada jemaat yang beliau dirikan yaitu Jemaat Ahmadiyah Indonesia, ia harus melakukan baiat di tangan pemimpin Jemaat Ahmadiyah pada masanya (dewasa ini Khalifatul Masih IV  Hadhrat Mirza Tahir Ahmad atba). Baiaat  itu boleh pula di lakukan dengan perantara orang orang yang bertugas:  para Mubaliqh dan para pengurus Ahmadiyah. Baiaat (perjanjian) di lakukan secara lisan dan tulisan di  muka orang yang berwewenang itu, dan boleh pula hanya secara tulisan dengan mengisi formulir yang di tentukan untuk itu, kalau muballiqh dan pengurus jauh dari tempat orang yg akan baiaat."

PENUTUP:

Kini, setelah beberapa hari berlalu, usai kususun laporan sementara ini, aku teringat  tiga status yang kutulis dalam facebook:

“SERING karena semangat lalu org berlebihan, seperti status ini: ‘Menurut ulama sedunia, Ahmadiyah itu 'Kafir' lebih berat dari Kristen, Hindu, Budha, Katholik, dll.”. Hmm berapa sih jumlah orang ulama dari umat Islam yang sekitar 2 milyar-an orang ini ?... Kala Liga Islam Dunia (1974) bikin rekomendasi 'sesat', yg hadir cuma 200-an orang ulama, jadi cuma 'segelintir ulama'. Pembandingan tingkat kesesatan-kekafiran dengan agama lain pun tidak ada.  Berlebihan itu, buruk.”

“KONGRES AS dilanda isyu 'diskriminasi kepada kaum muslim yg minoritas'...Eits stop ribut, stop reaksi emosional...Yuuk mawas diri dulu, sudahkah mayoritas kita tulus-ikhlas-bersih-murni melepaskan sikap anti diskriminasi terhadap minoritas? Konon, sikap simetris: 'adil kpd pihak lain dan pihak diri sendiri' itu nilai luhur penting dalam al-Qur’an (QS.004:135) emosi benci pun tidak boleh menjadi penyebab ketidak-adilan (QS.005:008)”

“SEORANG pemudi cantik, berbulu mata lentik: “Gmn kabar Ahmadiyah?" “Kok tanya aku?” “Mereka sebaiknya terbuka kalo diajak dialog, membaur saja jika yakin aqidahnya sama kita. Banyak orang menilai mereka ngeyel, susah dibaca jalan pikirannya, tidak seperti faham/ pemikiran lain. Selalu menjengkelkan” ”Hm kalau emosi, berarti kamu tidak bisa kendali diri. Yakinilah agama/ keyakinanmu, apapun yang mereka lakukan, takkan menjadikanmu emosi...”...

Dan kini, dalam hati aku berkata: akankah bung Dildaar memenuhi janjinya: memberi tahu di mana bisa kubeli ‘al-Qur’an’ terbitan Yayasan Wisma Damai’, dan mau juga memberikan ‘Tadhkirah’ selain soft copy-nya ? Aku menunggu dengan penuh harap.

Kutulis tadi ini adalah ‘;laporan sementara’, karena masih ada beberapa pertanyaan yang harus kutemukan jawabannya, atau klarifikasinya, dan itu baru terjawab antara lain bila aku sudah baca ‘al-Qur’an’ terbitan Yayasan Wisma Damai’, dan  ‘Tadhkirah’ itu, secara lebih leluasa.

----

         Bagaimana? Bagus bukan tulisan ataupun penelitian beliau? Kalian pun harus meneliti sendiri untuk mencari kebenarannya. Saya pun ingin sekali pergi kesana juga untuk melihat langsung seperti apa yang dituliskan di penelitian ini. Mungkin nanti saat liburan semester ganjil, setelah ujian terakhir hari Selasa minggu ini. Apa ada seseorang yang ingin pergi meneliti bersama saya? Karena saya kurang begitu berani bepergian-bepergian jauh sendirian dengan kendaraan umum. Haha.
         Ok, sekian dari saya. Semoga tulisan ini dapat bermanfaat, aamiin.
 
Free Website TemplatesFreethemes4all.comFree CSS TemplatesFree Joomla TemplatesFree Blogger TemplatesFree Wordpress ThemesFree Wordpress Themes TemplatesFree CSS Templates dreamweaverSEO Design