Showing posts with label Agama. Show all posts
Showing posts with label Agama. Show all posts

Thursday, October 24, 2013

[Catatan] Ayat Al-Qur'an 1

         25 - 10 - 2013
         09 : 34 AM



         Sudah lama sekali tidak ada postingan baru sejak saya mulai menyusun skripsi saya, jadi saya memutuskan untuk posting yang simple dan ringan saja, tapi penting. Yaitu kumpulan potongan ayat-ayat suci Al-Qur'an yang menurut saya penting untuk orang-orang ketahui. Dahulu saya sering mencatat ayat-ayat suci Al-Qur'an yang menurut saya penting di buku catatan, sekarang saya memutuskan untuk memulainya lagi dengan mencatatnya di blog agar yang lain bisa tahu juga. Tetapi saya akan mulai tidak dari awal (Al-Fatihah), karena bacaan saya saat ini sudah sampai tengah, jadi saya akan mulai dari dimana saya saat ini membaca saja. Nanti kalau sudah sampai akhir surat, maka akan kembali lagi ke awal. Ok, mari kita mulai catatan part 1.


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ
Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.(surat 49 ayat 6)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَىٰ أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِنْ نِسَاءٍ عَسَىٰ أَنْ يَكُنَّ خَيْرًا مِنْهُنَّ ۖ وَلَا تَلْمِزُوا أَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ ۖ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإِيمَانِ ۚ وَمَنْ لَمْ يَتُبْ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ
Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.(surat 49 ayat 11)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ
Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.(surat 49 ayat 12)   

بَلْ عَجِبُوا أَنْ جَاءَهُمْ مُنْذِرٌ مِنْهُمْ فَقَالَ الْكَافِرُونَ هَٰذَا شَيْءٌ عَجِيبٌ
(Mereka tidak menerimanya) bahkan mereka tercengang karena telah datang kepada mereka seorang pemberi peringatan dari (kalangan) mereka sendiri, maka berkatalah orang-orang kafir: "Ini adalah suatu yang amat ajaib".(surat 50 ayat 2)
 
نَحْنُ أَعْلَمُ بِمَا يَقُولُونَ ۖ وَمَا أَنْتَ عَلَيْهِمْ بِجَبَّارٍ ۖ فَذَكِّرْ بِالْقُرْآنِ مَنْ يَخَافُ وَعِيدِ
Kami lebih mengetahui tentang apa yang mereka katakan, dan kamu sekali-kali bukanlah seorang pemaksa terhadap mereka. Maka beri peringatanlah dengan Al Quran orang yang takut dengan ancaman-Ku.(surat 50 ayat 45)

إِنَّكُمْ لَفِي قَوْلٍ مُخْتَلِفٍ
sesungguhnya kamu benar-benar dalam keadaan berbeda pendapat, 
يُؤْفَكُ عَنْهُ مَنْ أُفِكَ
dipalingkan daripadanya (Rasul dan Al-Quran) orang yang dipalingkan. 
قُتِلَ الْخَرَّاصُونَ
Terkutuklah orang-orang yang banyak berdusta,  
الَّذِينَ هُمْ فِي غَمْرَةٍ سَاهُونَ
(yaitu) orang-orang yang terbenam dalam kebodohan yang lalai, 
(surat 51 ayat 8-11)

كَذَٰلِكَ مَا أَتَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ مِنْ رَسُولٍ إِلَّا قَالُوا سَاحِرٌ أَوْ مَجْنُونٌ
Demikianlah tidak seorang rasulpun yang datang kepada orang-orang yang sebelum mereka, melainkan mereka mengatakan: "Dia adalah seorang tukang sihir atau seorang gila".  
أَتَوَاصَوْا بِهِ ۚ بَلْ هُمْ قَوْمٌ طَاغُونَ
Apakah mereka saling berpesan tentang apa yang dikatakan itu. Sebenarnya mereka adalah kaum yang melampaui batas. 
(surat 51 ayat 52-53)

أَمْ يَقُولُونَ شَاعِرٌ نَتَرَبَّصُ بِهِ رَيْبَ الْمَنُونِ
Bahkan mereka mengatakan: "Dia adalah seorang penyair yang kami tunggu-tunggu kecelakaan menimpanya". 
قُلْ تَرَبَّصُوا فَإِنِّي مَعَكُمْ مِنَ الْمُتَرَبِّصِينَ
Katakanlah: "Tunggulah, maka sesungguhnya akupun termasuk orang yang menunggu (pula) bersama kamu". 
(surat 52 ayat 30-31) 

Sunday, May 19, 2013

[Review] Tentang Ahmadiyah


         11 : 40 PM
         19 - 05 - 2013



         Halo, sudah lama sekali tidak ada post baru ya. Ngomong-ngomong ini adalah postingan saya yang ke 100 lho (walau sebenarnya ini yang ke 93, tapi ada 7 yang di draft, tidak terasa ya). Ya, tapi pada postingan kali ini saya ingin mengkopas (copy paste) sebuah tulisan yang saya temukan pada blog seseorang yang beralamat disini :
http://nihayaelka.blogspot.com/2010/09/tentang-ahmadiyah_14.html

         Postingan lama sih, tapi sepertinya worth enough untuk dibaca kembali. Ok, jadi langsung saja ya. Berikut postingannya, selamat membaca :

Pak Guntur Romli kemarin habis berkunjung ke markas Ahmadiyah di London.
Saudara-saudara, saya ingin membagi informasi tentang ajaran Ahmadiyah yang saya baca langsung dari kitab karangan pendirinya: Mirza Ghulam Ahmad (MGA). Kitab yang menjadi rujukan saya adalah "al-khazain al-ruhiyah", "al-mawahib al-rahman" yang merupakan terjemahan dari bahasa Urdu Ahmadiyah. Saya akan membagi pembahasan jadi dua, yaitu ajaran-ajaran apa dari mereka yang sama dan ajaran-ajaran apa dari mereka yang berbeda.
Ajaran Ahmadiyah sama dgn mayoritas umat Islam dalam:
1.       Agama mereka adalah Islam, syahadat mereka adalah La ilaaha illahu wa muhammad rasulullah. Penegasan agama Islam dan syahadat ini ditulis oleh Mirza Ghulam Ahmad di Juz 19 al-Khazain al-Ruhiyah-Kitab Mawahib al-Rahman. "Tidak masuk dlm Jemmat kami,kecuali yg memeluk Islam,mengikuti Kitab Allah,sunnah manusia terbaik (Muhammad saw).. dst (MGA). Maka tidak benar kalau menganggap Ahmadiyah adalah agama baru seperti Bahai, Sikh, dst. Ahmadiyah adalah nama ormas keagamaan bukan agama. Ahmadiyah  seperti Muhammadiyah, atau NU, atau Persis, dll (nama ormas keagamaan bukan agama, bukan madzhab fiqh atau firqah).
Penegasan ini brasal dr pendirinya Mirza Ghulam Ahmad bahwa tidak seorang pun yang boleh masuk jemaat kami (#ahmadiyah) kecuali dia muslim. Penghakiman terhadap Ahmadiyah bersumber dari sas-sus, fitnah untuk tujuan di luar dakwah Islam, tpi soal kekuasaan. Saya telah mengunjungi dua masjid Ahmadiyah di London, yang pertama London Mosque (al-fadl) mesjid tertua di Inggris (thn 20-an) dan Baytul Futuh. Tidak benar kalau pengikut Ahmadiyah hajinya ke Qadian-India atau ke London, ini fitnah besar. Pengikut Ahmadiyah yg ke London atau ke Qadian untuk mengikuti "Jalsa Salanah" annual meeting 'pertemuan tahunan' di Indonesia pun ada.

2.       Ahmadiyah percaya Muhammad SAW sebagai "Khatam al-Nabiyyin" ('penutup nabi2')-sprti ditegaskan oleh MGA dalam "Mir'ah Kamalat Islam".

3.       Ahmadiyah percaya tidak ada kitab suci selain al-Quran yang di dalamnya Kalam Ilahi, syariat sempurna & terakhir. Oleh karena itu, yg menuduh Ahmadiyah punya kitab suci selain al-Qur’an yang disebut-sebut tadzkirah adalah fitnah & dusta besar. Tadzkirah yang berasal dari ucapan, catatan, dan ilhamat Mirza Ghulam Ahmad dibukukan 27 tahun setelah MGA wafat bukan kitab suci Ahmadiyah.

4.       Rukun Islam Ahmadiyah ada (5): syahadat, shalat, puasa, zakat & haji ke baitullah di Mekkah. Dlm ibadat Ahmadiyah  ikut madzhab Hanafi.

5.       Apa yg diharamkan oleh Allah & Rasul-Nya pengikut Ahmadiyah  juga haramkan ini ditegaskan dalam kitab Nur al-Haqq
Kesimpulan, rukun Iman (6) dan rukun Islam (5) pengikuti Ahmadiyah  sama dengan mayoritas umat Islam sedunia.
Ahmadiyah  shalat 5 waktu (bukan 3 waktu seperti Syiah) jumlah rakaat sama, bunyi adzan sama (kalau Syiah beda), dalam subuh tak ada qunut. Dalam shalat Ahmadiyah seperti Muhammadiyah tidak ada zikir setelah shalat, doanya tidak nyaring, tidak ada qunut, tidak ada shalawat di antara 2 khutbah.
1.        Ahmadiyah percaya wahyu itu berlanjut, namun hanya "wahyu tabsyiri wal indzari" (wahyu dakwah) bukan "wahyu tasyrii" (wahyu syariat). Ahmadiyah  percaya Mirza Ghulam Ahmad dapat wahyu, tapi isinya bukan syariat baru, tapi penegasan pada syariat Muhammad SAW. Apakah wahyu bisa diturunkan pada selain Nabi? Jawabnya bisa. Ibu Musa as dapat wahyu di surat al-qashash ayat 8. Selain Ibu Musa, Maryam menerima kalam dari malaikat (al Imran ayat 46), atau al-hawariyun –pengikut setia Isa (al-maidah ayat 112). Wa idz awhaytu ila al-hawariyyina an aminu bi wa bi rusuli  - saat Kuwahyukan pada pengikut setia Isa,untuk beriman pada-Ku & RasulKu" (al-maidah 112).
Kesimpulan dari dalil-dalil tadi wahyu bisa diturunkan Allah pada selain Nabi, Ibu Musa, Maryam, pengikut Isa tapi bukan "wahyu syariat". Benar Mirza Ghulam Ahmad mengaku menerima wahyu, tapi BUKAN WAHYU SYARIAT, wahyu itu tdk membatalkan syariat Muhammad SAW. Mohon anda baca kembali istilah wahyu ayat-ayat Qur’an yang diturunkan selain Nabi, atau bahkan pada tumbuhan dan binatang, tapi bukan wahyu syariat.
2.       Ahmadiyah percaya semua nabi tubuhnya adalah manusia biasa, dan akan berakhir sprti manusia biasa (mati), dmikian jga Isa as. Yang membedakan Ahmadiyah dengan umat Islam yang lain yaitu, bagi ahmadiyah Isa telah wafat, tidak hidup jasmani-rohani nya di langit. Ahmadiyah  dengan argumentasi nalar dan teks menolak bahwa saat ini Nabi Isa masih hidup, berada di langit, tubuh & ruhnya dan akan datang lagi. Ahmadiyah  percaya Nabi Isa as, seperti nabi-nabi yang lain, tubuhnya manusia dan punya ajal, tubuh punya umur. Karena Ahmadiyah percaya nabi Isa telah wafat, maka mesias dan imam mahdi-ratu adil yg dijanjikan-adalah orang lain,bukan Nabi Isa yang wafat. Ahmadiyah  percaya orang yang sudah wafat tidak akan kembali ke dunia ini, sprti halnya Nabi Isa as. Ia tidak akan kembali lagi ke dunia. Keyakinan Ahmadiyah ini lebih rasional dibanding kebanyakan umat Islam yang percaya Isa sebagai manusia masih hidup tubuhnya & berada di langit.
Dibanding Iman Syiah 12 Imam (yang ada di Iran) mereka percaya imam ke-12 yang ada di abad pertengahan masih hidup dan akan kembali ke dunia. Arti "rafa'a" dlm quran untuk Isa as, bukan Allah "mengangkat" jasad  dan ruhnya ke langit, tapi "mengangkat derajatnya" (mulia).
3.       Kalau bagi mayoritas umat Islam, mesias (al-masih) dan Imam Mahdi belum turun, bagi Ahmadiyah sudah turun yaitu Mirza Ghulam Ahmad. Dengan catatan keras: Mesias dan Imam Mahdi ini memperkuat syariat Muhammad SAW, tidak boleh menambah atau mengurangi sedikit pun. Karena nubuat2 ini harus diletakkan dalam doktrin bahwa Mesias itu adalah seorang nabi (tanpa syariat) yg memperkokoh syariat Muhammad saw.
Jadi meski Ahmadiyah percaya Mirza Ghulam Ahmad seorang nabi (Mesias) dan dapat wahyu, tapi TIDAK ADA SYARIAT BARU. Ibadat mereka sama dengan yang lain.
Banyak yang salah paham, dikiranya keyakinan Ahmadiyah, Mirza Ghulam Ahmad sebagai nabi dan mendapat wahyu otomatis mengubah syariat Muhammad? Salah besar itu. Jangan menutup mata, bahwa keyakinan Ahmadiyah terhadap Mirza Ghulam Ahmad ada landasan teks dan rasional, mereka berhak untuk percaya. Keyakinan Mirza Ghulam Ahmad sebagai nabi tidak mengubah syahadat, hanya diucapkan dlm bay'at unt masuk jemaat Ahmadiyah. Nama Mirza Ghulam Ahmad dan wahyunya tidak disebut dalam bacaan shalat, tidak pula di masjid-masjid Ahmadiyah. Foto Mirza Ghulam Ahmad dan penggantinya (khulafa') memang dipasang di kantor2 Ahmadiyah tapi tidak di masjid. Di masjid-masjid Ahmadiyah hanya ada syahadat dan ayat-ayat al Quran, tidak ada foto Mirza Ghulam atau ucapan-ucapannya.
Anda yg mau mengetahui ajaran Ahmadiyah bacalah dari buku-buku aslinya bukan kutipan-kutipan dari musuh-musuh mereka :)
Kesimpulan saya : rukun iman dan Islam Ahmadiyah sama dengan mayoritas Islam, bedanya Mesias & Imam Mahdi bagi mereka sudah datang, sedangkan bagi yang lain belum.
Ibadat Ahmadiyah sama dgn umat Islam yang lain, secara madzhab fiqh mereka ikut Imam Hanafi (Imam fiqh pertama dlm 4 Madzhab). Ada kaidah fiqh yang sering dikutip GusDur qawl al-mujtahidi 'an khashmihi laa yu'khadz (pendapat mujtahid tentang lawannya tak bisa diambil). Oleh karena itu, pendapat MUI, FPI, FUI,HTI atau siapapun yg memusuhi Ahmadiyah  tidak bisa diandalkan, karena mereka punya bias-permusuhan. Ada kaidah fiqh yang lain juga untuk tidak mudah menghakimi, "idra'uu al-syubhaat" (hindari perkara-perkara yang belum jelas).
Semoga saya dijauhkan dari keangkuhan menganggap diri bisa menghakimi orang lain dalam soal iman.
Saya telah melihat tata-cara ibadah Ahmadiyah sampai pemimpin tertinggi mereka yg dipanggil "hudhur", masjid-masjid mereka, tidak ada perbedaan. Isi dari 'Jalsah Salanah' adalah ceramah-ceramah dan shalat tahajud, tidak ada ritual dan ibadat baru yang tidak dikenal Islam. Saya menyimpan foto-foto masjid-masjid Ahmadiyah di inggris dari luar hingga bagian dalam. Di luarnya ada kalimat syahadat dan di dalamnya ada ayat-ayat Qur’an. Tidak ada foto Mirza Ghulam dan kutipan kata-katanya di masjid-masjid Ahmadiyah, tidak ada kultus luar biasa padanya di jemaat #ahmadiyah. Setiap masjid Ahmadiyah ada kalimat syahadat "Tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad Rasulullah", tidak benar ada tambahan Mirza Ghulam nabi Allah. Kalau ada yang bilang: syahadat Ahmadiyah itu beda, shalatnya beda, puasanya beda, zakatnya beda, hajinya beda: ini fitnah besar!
Orang Ahmadiyah dari Pakistan memang tidak bisa naik haji ke Mekkah, karena di paspor mereka dipaksa ditulis agama mereka Ahmadi bukan Islam. Orang-orang Ahmadiyah Pakistan kalau mau naik haji pakai paspor Inggris atau India yang tak cantumkan agama di paspor mereka.
Apakah mayoritas umat Islam di Indonesia memusuhi Ahmadiyah? Tidak benar, kalau benar mereka takkan hidup di sini sejak tahun 20-an. Benar kalau mayoritas umat Islam di Indonesia berbeda dalam beberapa poin ajaran dengan Ahmadiyah tapi berbeda bukan berarti memusuhi.
Namun hal yang berkaitan dgn ibadah-ibadah mahdlah, hal yang "al-ma'lum min al-din bi al-dlarurah", Ahmadiyah sama dengan mayoritas umat Islam Indonesia. Perdebatan kelompok Islam yang lain dengan Ahmadiyah sudah terjadi sejak lama, tapi tindakan kekerasan ini fenomena baru. Saya sering ditanya kenapa Ahmadiyah sangat dibenci? Lalu saya balik Tanya, kenapa baru sekarang mereka dibenci? Mereka di Indonesia sejak tahun 20-an lhoo!
Saat ini, seolah-olah sudah jadi parameter-tapi tolol-yang mau dianggap Islamnya bener maka harus membenci dan membubarkan Ahmadiyah. Kalau itu dipakai, maka KH Hasyim Asy'ari pendiri NU bisa dituding Islamnya nggak bener , karena tidak pernah ada fatwa membubarkan Ahmadiyah.
Yang belum pernah shalat, masuk masjid Ahmadiyah atau baca kitab-kitabnya tolong jangan sok tahu dank oar-koar tentang Ahmadiyah, anda cuma nelan fitnah. Siapa yg bilang ini: kebohongan kalau diulang-ulang suatu saat akan jadi kebenaran. Inilah yg terjadi pada #ahmadiyah. Banyak bukti : saksi, rekaman video, foto FPI lakukan aksi-aksi kekerasan, divonis pun sudah. Tapi Ahmadiyah tidak pernah lakukan kekerasan.
Kata siapa orang Ahmadiyah tidak bisa shalat dengan muslim yang lain?Atau muslim yang lain dilarang shalat di masjid Ahmadiyah? Buktikan dulu. ‘ala kulli hal Ahmadiyah sudah ada zaman Hadlratu Syekh Hasyim Asy'ari, tidak ada fatwa bubarkan ahmadiyah, saya manut beliau. Kalau memang Ahmadiyah boleh dibubarkan, sudah bisa sejak zaman KH Hasyim Asy'ari atau KH Wahid Hasyim yang jadi Menteri Agama yang pertama.
Kalau ada orang NU yang mau bubarkan Ahmadiyah, berarti ia anggap dirinya lebih dari Hadlratu Syaikh Hasyim Asyari. Seharusnya Surya Darma Ali Menteri Agama sekarang mengikuti KH Wahid Hasyim Menteri Agama pertama yang melindungi Ahmadiyah. Kiai-kiai NU yg ikut2an mau bubarin Ahmadiyah itu kiai-kiai baru yang amalannya "kursi fulitik" bukan "ayat kursi" :)
Pertanyaan yg harus dijawab, mengapa baru sekarang Ahmadiyah dimusuhi padahal mereka sudah ada di negeri ini sejak tahun 20-an? Kenapa baru Menteri Agama sekarang Surya Darma Ali yang mau bubarkan Ahmadiyah  sementara Menteri Agama pertama KH Wahid Hasyim lindungi mereka? GusDur tegas membela Ahmadiyah  sebagai hak konstitusional, sebagai warga-negara bukan sebagi ajaran. Jadi, sikapi Ahmadiyah  sebagai warga-negara. Bagi anda yang tak setuju ajaran Ahmadiyah, tanamkan tasamuh (toleransi) sikapi mereka seperti GusDur menyikapinya sebagai warga-negara.
Anda kalau mau belajar NU, mau tahu NU ya ke GusDur, sanad beliau nyambung,msh bertemu KH Hasyim Asyari,KH Wahid Hasyim,KH Wahab, KH Bisyri. Ajaran, tafsir dan tradisi NU yg otoritatif menurut saya melalui #GusDur,yg punya darah,ideologi&karamah tokoh2 NU,tolong jgn sebut yg lain
Selama KH Hasyim Asy'ari, KH Wahid Hasyim, KH Wahab, KH Bisyri, dan KH Abdurrahman Wahid tidak berfatwa bubarkan Ahmadiyah saya pun tidak! GusDur pernah ditanya, Gus Ahmadiyah  sesat karena ngaku terima wahyu Respon GusDur "gitu aja kok sesat, gimana Wahyu Sihombing"
Kesimpulan saya dr bacaan, amatan & pengalaman langsung, rukun Islam Ahmadiyah  sama persis! Nama Mirza Ghulam Ahmad tidak disebut dalam syahadat atau shalat hanya dalam bay'at (ikrar masuk jemaat) Ahmadiyah. Orang mau yg masuk tarekat saja ada bay'at untuk taat pada Allah, Rasululullah, Syaikh Pendiri Tarekat dan Syaikh yang bai’at dia, begitu pula Ahmadiyah. Ahmadiyah  tidak bisa dikafirkan karena mereka syahadat, shalat, puasa, berhaji, zakat, ikuti Qur’an & Sunnah Nabi. Mereka muslim. Sekali lagi anda yang tidak bisa terima ajaran Ahmadiyah (meskipun mayoritas sama) tasamuhlah (toleran) sikapi mrka sbgai warga-negara. Tak sedikit yang benci Ahmadiyah karena tidak tahu, seperti pepatah: al-nasu a'da'u ma jahilu (manusia cenderung memusuhi yang tak diketahuinya).
Informasi tentang Ahmadiyah yang dianggap kebenaran sebenarnya tak lebih kebohongan yang diulang-ulang. Sekian sekedar berbagi informasi tentang Ahmadiyah yang berasal dari bacaan, amatan dan pengalaman pribadi saya langsung berinteraksi dgn mereka.
Kalau ada yang sibuk ngurusin keyakinan Ahmadiyah, emang siapa Yang punya surga dan neraka? Kuu anfusakum wa ahlikum nara (jaga dirimu dan keluargamu dari neraka).

-Guntur Romli-
Penulis, Aktivis, dan Kurator di Komunitas Salihara, Jakarta

Sunday, April 7, 2013

[Berita] Kisah Heroik Para Ahmadi di Cikeusik


         07 - 04 - 2013
         02 : 14 PM





5 Pebruari 2011, Mln. Ismail Suparman dan keluarga meminta bantuan pihak kepolisian agar dilindungi. Dirinya telah diancam dan diberi kabar bahwa akan ada penyerangan ke rumah Missi yang ia tempati bersama keluarganya.

Beberapa saudara-saudara ruhaninya pergi ke Desa Umbulan, Cikeusik, Pandeglang, Banten Selatan untuk menjenguk Mln. Suparman dan mempertahankan rumah missi milik Jemaat Muslim Ahmadiyah. Mereka sudah siap mental apapun yang terjadi.

Mereka memahami sabda yang Mulia Rasulullah saw bahwa mempertahankan harta benda dan jiwa raga adalah merupakan salah satu bagian Jihad yang hadiahnya adalah tunai, yaitu Surga.

Jadi tidak berdasar, jika dikatakan bahwa kedatangan para Ahmadi yang akan mempertahankan rumah missi itu yang memprovokasi massa untuk datang menyerbu. Massa berjumlah ribuan tidak bisa dikumpulkan dalam waktu singkat. Apalagi jelas para penyerang memakai pita biru maupun hijau sebagai tanda bahwa mereka terkoordinir secara professional.

Pagi, 6 Pebruari 2011, sampailah rombongan pemuda Ahmadi di Cikeusik sekitar 08.00 WIB. Awalnya, mereka bersantai, bercanda dan berfoto bersama. Datanglah sarapan pagi, langsung saja disambut dengan gembira.

Dalam keadaan santai itu, mereka dikejutkan dengan kedatangan aparat kepolisian yang jumlahnya cukup banyak. Itu terjadi pukul sembilan atau setengah sepuluh pagi. Anehnya, para polisi yang tadinya terlihat banyak, raib entah kemana. Mereka hanya sedikit bersisa. Pasukan Dalmas yang awalnya ada di Jalan sebelah Utara rumah missi, namun tiba-tiba berpindah di arah selatan rumah missi.


Pukul sepuluh pagi, massa yang sangat banyak itu tiba-tiba muncul dari arah Utara rumah missi, dimana pasukan Dalmas saat itu ada di sebelah Selatan Rumah missi. Maka mereka pun dengan leluasa menyerobot  aparat yang jumlahnya tidak sebanding.

Tiba-tiba mereka menyerang! Tidak ada mediasi terlebih dahulu! Seakan-akan mereka tidak punya mulut untuk berbicara. Terjadilah adu jotos antara Deden Sujana dengan salah seorang penyerang. Akibatnya, sang penyerang tadi roboh.

“Serang…!”, teriak salah seorang penyerang.

“keluar…!”, teriak Ferdiaz kepada teman-temannya yang ada di dalam rumah Missi. Maka keluarlah para Pemuda Ahmadi. Senjata tajam diacung-acungkan untuk menakut-nakuti para Ahmadi. Ternyata hal itu tidak berpengaruh sama sekali. Menyusul batu yang menghujani para Ahmadi. Mereka menangkis dengan alat-alat seadanya. Bahkan para pemuda Ahmadi berusaha menghalau penyerang dengan bambu-bambu yang berasal dari atap yang sudah dirusak massa.
Mereka terus menyerang dengan ganas….! seakan-akan para Ahmadi itu binatang buruan yang harus mati saat itu juga.

Para pemuda Ahmadi terdesak. Para penyerang tanpa ampun terus merusak rumah missi dan menyerang para pemuda Ahmadi. Hingga para Ahmadi terdesak mundur sampai ke dalam rumah missi.

Di bagian belakang rumah tersebut, Belasan penyerang mengeroyok Deden Sujana dengan berbagai senjata tajam. Sabetan parang ditangkis tangan pak Deden Sujana, sehingga tangannya hampir putus separuhnya. Pahanya pun terkena sabetan parang. Kontan Deden rebah ke tanah. Meski dirinya terjatuh, para penyerang dengan wajah beringas, mengayunkan bacokan-bacokan parang dan terus berusaha keras menusuk Deden.


Ferdias yang melihat hal itu, ia segera melindungi Deden dengan ditelungkupi. Diaz membisikkan kata kata lirih kepada Deden yang sedang dipeluknya di tanah, “Doa saja pak Deden, kita mati bersama”. Diaz pasrah, ia mengaduh menerima bacokan, akibatnya ia harus dijahit sebanyak 45 jahitan di punggungnya. Batu-batu besar juga selalu diarahkan ke kepalanya yang memakai helm. Beruntung, ia pun hanya mengalami gegar otak ringan. Ferdiaz masih ditakdirkan selamat. Ada seorang Ahmadi yang berperawakan tinggi besar yang mencegah para penyerang untuk terus menyiksanya. “Sudah..sudah.. dia sudah tidak berdaya!” Tak lama kemudian datanglah Dalmas yang mengangkutnya pergi untuk dievakuasi.

Di tempat lain, Beberapa Ahmadi dihajar dan terdengar rintihan yang menyayat hati. Karena banyaknya massa, para Ahmadi selangkah-demi selangkah mundur dengan tetap mempertahankan diri. Rumah missi yang targetnya dipertahankan, kini hancur lebur. Tidak hanya itu, Dua mobil habis dibakar. Satu mobil APV Silver milik Jemaat Ahmadiyah, dan satu mobil lagi milik Deden Sujana. Satu motor milik Mln. Abdur Rahim YHBM diseret layaknya sampah dan kemudian dibakar.

Beberapa pemuda Ahmadi bisa meloloskan diri dan beberapa lagi dibantai habis layaknya binatang. Anggota yang tidak melawan pun terus diserang hingga syahid!

Para Ahmadi yang sudah terkulai lemah, batu-batu terus dirajamkan kepadanya. Tidak hanya itu, pukulan kayu terus diarahkan massa tanpa ada belas kasihan. Massa yang melihat itu bahkan bertepuk tangan & bersorak sorai. Terlihat seorang Ahmadi sudah syahid namun, penyerang masih merasa belum puas, Kepala dan badan Syuhada itu terus dipukuli dengan tongkat dan dirajam dengan batu hingga bersuara.


Setelah tiga Ahmadi syahid ditempat, Massa masih belum terpuaskan dahaga akan darah. Para penyerang menghentikan aksi brutalnya setelah beberapa polisi & Dalmas datang menyelamatkan & mengevakuasi korban ke RSUD Malingping.
Massa terus menyisir para Ahmadi yang sempat meloloskan diri. Dari satu rumah persembunyian, Salah seorang korban melihat dengan mata kepala sendiri bahwa orang-orang yang telah menyerang dirinya, sambil pulang, massa sempat bersalaman dengan polisi yg ada disana sambil tersenyum-senyum. Kemudian ada juga saksi yang melihat, para penyerang keluar dari satu rumah dan terlihat telah dibagi-bagikan amplop berwarna coklat.
Selasa 8/2/2011 pukul 07.00 WIB dua syuhada diberangkatkan ke Gondrong-Kenanga untuk disemayamkan. Tubagus Chandra Mubarak & Roni Pasaronikini tenang bersemayam di bumi Tangerang. Kedua syuhada itu di antar kepergiannya oleh 1500-an Ahmadi yang cinta sekaligus bangga kepada mereka.
Satu syuhada lagi, Warsono telah dibawa ke Cirebon untuk disemayamkan.
Rabu, 9/2/2011, Deden Sujana yang kini berada di RS Pertamina, ia terlihat kuat, tenang, tdk tampak Depresi, masih bisa tersenyum, dan tentu saja ada raut sedih di mukanya.
“saya kok dianggap provokator oleh Polisi kami ke Cikeusik justeru mau mengurusi Muballigh #ahmadiyah yg ada ditahan & menjaga mesjid serta aset-aset jemaat. kami tdak menyangka akan ada penyerangan itu, kami tdk bawa apa-apa & tidak menyiapkan apa-apa”, ungkap Deden kepada Guntur Romli.
“Masa sih kami menantang dan memprovokasi? Dari sisi jumlah saja kami sudah kalah. Ketika saya sedang ngobrol dgn Kapolsek, kami diserang. Karena tiba-tiba diserang, kami melindungi diri dgn melawan, tidak ada tantangan & provokasi,” tambah Deden.
Ferdiaz menuturkan dengan nada menyesal, “Kenapa saya masih hidup! Saya sering ikut yang kayak gini, di Cisalada, di Manislor, dll, tapi pulang selalu membawa nyawa. Ada apa dengan saya?”
========
Selamat jalan wahai para pejuang agama. Darahmu akan mengharumkan negeri; Mempercepat kesuksesan bagi Islam, dan segera membawa petaka bagi para kaum penganiaya.
Semoga para pejuang kita yang masih terluka, bisa segera diberikan kesehatan yang sempurna.
[peristiwa ini didapat dari para Saksi kejadian dan akan terus berkembang sesuai fakta. Saksi sementara tidak dimunculkan namanya]


Sumber : 
http://isamujahidislam.wordpress.com/2011/02/08/kisah-heroik-para-ahmadi-di-cikeusik/


[Review] Nabi Palsu, Sikap Nabi, dan Ahmadiyah)*


         07 - 04 - 2013
         02 : 12 PM

         

TEMPO Interaktif, Pada tahun kesepuluh Hijriah, Nabi Muhammad SAW menerima surat dari seseorang yang mengaku jadi nabi. Namanya Musailamah bin Habib, petinggi Bani Hanifah, salah satu suku Arab yang menguasai hampir seluruh kawasan Yamamah (sekarang sekitar Al-Riyad). Dalam suratnya, Musailamah berujar: “Dari Musailamah, utusan Allah, untuk Muhammad, utusan Allah. Saya adalah partner Anda dalam kenabian. Separuh bumi semestinya menjadi wilayah kekuasaanku, dan separuhnya yang lain kekuasaanmu….”
Seperti dituturkan ahli tafsir dan sejarawan muslim terkemuka pada abad ketiga Hijriah, Imam Ibn Jarir Al-Tabari (838-923), dalam kitabnya Tarikh al-Rusul wa al-Muluk (Sejarah Para Rasul dan Raja) atau yang dikenal sebagai Tarikh al-Tabari, Musailamah bukanlah sosok yang sepenuhnya asing bagi Nabi. Beberapa bulan sebelum berkirim surat, Musailamah ikut dalam delegasi dari Yamamah yang menemui beliau di Madinah dan bersaksi atas kerasulannya. Delegasi inilah yang kemudian membawa Islam ke wilayah asal mereka dan membangun masjid di sana.
Menerima surat dari Musailamah yang mengaku nabi, Rasul tidak lantas memaksanya menyatakan diri keluar dari Islam dan mendirikan agama baru, apalagi memeranginya. Padahal gampang saja kalau beliau mau, karena saat itu kekuatan kaum muslim di Madinah nyaris tak tertandingi. Mekah saja, yang tadinya menjadi markas para musuh bebuyutan Nabi, jatuh ke pelukan Islam. Yang dilakukan Rasul hanyalah mengirim surat balasan ke Musailamah: “Dengan Nama Allah Yang Maha Pemurah dan Pengasih. Dari Muhammad, utusan Allah, ke Musailamah sang pendusta (al-kazzab). Bumi seluruhnya milik Allah. Allah menganugerahkannya kepada hamba-Nya yang Dia kehendaki. Keselamatan hanyalah bagi mereka yang berada di jalan yang lurus.” Rasul menempuh dakwah dengan cara persuasi dan bukan cara kekerasan. Musailamah memang dikutuk sebagai al-Kazzab, tapi keberadaannya tidak dimusnahkan.
Namun, setelah Nabi wafat, ceritanya jadi lain. Umat Islam yang masih shocked karena ditinggal pemimpinnya berada dalam ancaman disintegrasi. Sejumlah suku Arab menyatakan memisahkan diri dari komunitas Islam di bawah pimpinan khalifah pertama, Abu Bakr al-Shiddiq. Sebagian dari mereka mengangkat nabi baru sebagai pemimpin untuk kelompok mereka sendiri. Musailamah dan sejumlah nabi palsu lain, seperti Al-Aswad dari Yaman dan Tulaikhah bin Khuwailid dari Bani As’ad, menyatakan menolak membayar zakat, suatu tindakan yang pada masa itu melambangkan pembangkangan terhadap pemerintah pusat di Madinah. Abu Bakr lalu melancarkan ekspedisi militer untuk menumpas gerakan pemurtadan oleh para nabi palsu tersebut, yang menurut dia telah merongrong kedaulatan khalifah dan membahayakan kesatuan umat. Perang Abu Bakr ini dikenal sebagai “perang melawan kemurtadan (hurub al-ridda).”
Tampaknya, “perang melawan kemurtadan” inilah yang diadopsi begitu saja oleh para pelaku kekerasan terhadap Ahmadiyah tanpa disertai pemahaman yang mumpuni terhadap duduk perkaranya. Penyerangan brutal di Banten minggu lalu, yang menewaskan tiga warga Ahmadiyah, secara luas memang telah dikecam bahkan oleh banyak kalangan muslim sendiri, entah dengan alasan menodai citra Islam yang damai, merusak kerukunan beragama, atau melanggar hak asasi kaum minoritas. Tapi bagi para pelaku penyerangan dan yang membenarkannya, seperti FPI, apa yang mereka lakukan semata-mata demi membela Islam dari noda pemurtadan. Jemaah Ahmadiyah dianggap telah murtad karena mengakui Mirza Ghulam Ahmad sebagai nabi, dan karena itu mesti dikeluarkan secara paksa dari Islam.
Ironisnya, Majelis Ulama Indonesia (MUI), Menteri Agama, dan pihak-pihak yang mengaku tidak menyetujui anarkisme terhadap Ahmadiyah, yang terus memaksa agar Ahmadiyah menjadi agama baru di luar Islam, sebenarnya juga memakai pendekatan “perang melawan kemurtadan” secara gegabah. Dalam hal ini, perbedaan MUI dan Menteri Agama dengan kaum penyerang Ahmadiyah hanya terletak dalam hal metode, tapi tidak dalam tujuan. Saya sebut ironis karena majelis ulama, yang berlabel “Indonesia” di belakang, ternyata merubuhkan prinsip kebinekaan Indonesia. Ironis karena seorang menteri yang merupakan hasil pemilu demokratis ternyata mempunyai pandangan yang melenceng dari konstitusi demokratis yang menjamin hak setiap warga menjalankan agama sesuai dengan keyakinannya. Yang paling ironis, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono membiarkan saja semua itu terjadi.
Lepas dari itu, kalau kita tinjau dari sudut doktrin dan sejarah Islam pun, pemakaian kerangka “perang melawan pemurtadan” untuk menyikapi Ahmadiyah sejatinya sama sekali tak berdasar. Patut diingat, sebutan “perang melawan kemurtadan” bukanlah kreasi Abu Bakr sendiri, melainkan penamaan belakangan dari para sejarawan muslim. Disebut demikian barangkali karena yang diperangi saat itu memang arus pemurtadan yang terkait dengan munculnya sejumlah nabi palsu. Dan gerakan nabi palsu pada masa itu berjalin berkelindan dengan upaya menggembosi kedaulatan kekhalifahan. Penolakan membayar zakat bukan hanya pelanggaran terhadap rukun Islam, tapi juga sebentuk aksi makar. Ini karena, berbeda dengan ibadah salat yang hanya melulu menyangkut hubungan hamba dan Tuhannya, urusan zakat berkaitan dengan negara. Tambahan pula, para nabi palsu tersebut juga membangun kekuatan militernya sendiri. Musailamah, misalnya, menggalang tidak kurang dari 40 ribu anggota pasukan untuk melawan pasukan muslim dalam perang Yamamah, sampai-sampai armada muslim di bawah Khalid bin Walid sempat kewalahan pada awalnya. Karena itu, perang Abu Bakr melawan kemurtadan mesti dibaca sebagai sebuah tindakan yang lebih bersifat politis ketimbang teologis, yakni berhubungan dengan penumpasan terhadap kelompok pemberontak.
Karena itu, “perang melawan kemurtadan” versi khalifah Abu Bakr tidak bisa begitu saja diterapkan dalam konteks Indonesia sekarang. Taruhlah memang jemaah Ahmadiyah telah murtad karena mempercayai Mirza Ghulam Ahmad sebagai nabi. Tapi bukankah sejauh ini mereka belum pernah membangun kekuatan militer untuk merongrong umat Islam dan pemerintahan yang sah seperti Musailamah pada masa khalifah Abu Bakr? Bukankah sejauh ini warga Ahmadiyah hanya menuntut untuk diberi ruang menjalankan ibadah sesuai dengan keyakinannya? Kalau memang begitu, apakah tidak keliru kalau mereka diperlakukan seperti para pemberontak?
Ditinjau dari perspektif kaidah fiqh “hukum berporos pada alasan”, gerakan pemurtadan oleh para nabi palsu pada masa Abu Bakr memang wajib diperangi, karena saat itu kemurtadan identik dengan pemberontakan yang mengancam kedaulatan khalifah dan integrasi umat. Adapun kalau sekadar murtad saja tanpa dibarengi pemberontakan, hukum yang berlaku tentu tidak sama. Pada titik inilah kita bisa mengacu pada peristiwa korespondensi antara Nabi Muhammad dan Musailamah seperti saya paparkan di awal tulisan.
Di sinilah pemahaman tentang metodologi hukum Islam mutlak diperlukan dalam melihat pokok soalnya. Tanpa pengetahuan yang mumpuni tentang metodologi hukum Islam, keputusan yang muncul dan tindakan yang diambil mungkin saja tampak sesuai dengan ajaran syariat, tapi bisa jadi esensinya bertentangan dengan maqashid al- syari’ah (tujuan-tujuan syariat) yang lebih bersifat universal, seperti perlindungan terhadap hak-hak dasar manusia.
Lagi pula, satu-satunya dalil Al-Quran tentang kemurtadan sama sekali tidak menyeru kaum muslim untuk memerangi kaum murtad semata-mata karena kemurtadannya. Simaklah Surat Ali Imran ayat 90. Ayat ini tidak menyinggung soal perlunya menggunakan cara-cara kekerasan dan paksaan terhadap si murtad, karena Tuhanlah yang akan menjadi hakim atas perbuatannya di akhirat nanti.
Dalam kerangka Qurani semacam inilah kita bisa mengerti kenapa Nabi tidak menghukum Musailamah, yang tanpa tedeng aling-aling mengaku sebagai nabi. Bukan karena beliau mendiamkannya--toh Nabi melabelinya dengan gelar “Al-Kazzab”. Menurut saya, nabi bersikap seperti itu karena, dalam Al-Quran, hukuman terhadap si murtad memang sepenuhnya menjadi hak prerogatif Allah SWT. Nabi Muhammad hanyalah seorang manusia biasa yang bertugas menyampaikan risalah Ilahi. Beliau bukan Tuhan yang turun ke bumi. Itulah sebabnya Al-Quran menegaskan tidak ada paksaan dalam agama.
Kalau Nabi saja demikian sikapnya, alangkah lancangnya Front Pembela Islam (FPI), MUI, dan Menteri Agama yang merasa punya hak untuk mengambil alih wewenang Tuhan untuk mendaulat diri mereka sebagai hakim atas orang-orang yang dianggap murtad seperti terlihat dalam sikap mereka terhadap jemaah Ahmadiyah. Di sinilah saya kira umat Islam mesti memilih dalam bersikap, mau mengikuti cara-cara FPI, MUI, dan Menteri Agama, atau meneladan sikap Rasulullah.
*) 
Akhmad Sahal, Kader NU, kandidat PhD Universitas Pennsylvania 





Sumber :
http://www.tempo.co/read/kolom/2011/02/16/324/Nabi-Palsu-Sikap-Nabi-dan-Ahmadiyah

Friday, April 5, 2013

[Video] Masjidku Rumahku


         09 - 04 - 2013


         10:01 AM




Kronologi 8 maret 2013 lalu.




Sumber :
http://www.youtube.com/watch?v=iZy52SgO3EE&feature=youtu.be

[Berita] Masjid Ahmadiyah Bekasi Dipagari Seng, Jamaah Salat di Rumah

         09 - 04 - 2013
         09:16 AM






Jakarta - Setelah upaya menggembok Masjid Al-Misbah tidak menghentikan ibadah Ahmadiyah, pemerintah Kota Bekasi memutuskan untuk memagari sekeliling masjid tersebut dengan seng untuk mencegah jamaah masuk ke dalam masjid.
“Semalam masjid kami dipagari dengan seng oleh Satpol PP pemerintah kota, karena menurut pemerintah kota kita masih terus melaksanakan kegiatan walaupun pintu masjid sudah mereka gembok,” kata imam masjid, Rahmat Rahmadijaya, pada Beritasatu.com, Jumat (4/4).
Menurut Rahmat, mereka selama ini hanya menjalankan aktivitas peribadahan biasa seperti salat Jumat dan dakwah internal bagi anggota masjid yang berjumlah sekitar 400 orang.
“Mereka menyatakan berpegang pada peraturan gubernur, fatwa MUI dan peraturan walikota yang melarang Ahmadiyah, padahal aturan-aturan tersebut hanya melarang penyebaran ajaran dan tidak melarang kegiatan. Mereka menganggap bahwa ibadah itu adalah kegiatan.”
Masjid yang sudah dibangun sejak tahun 1998 ini memiliki hubungan baik dengan jamaah di sekitar masjid. Namun sejak Front Pembela Islam (FPI) membuka cabang di Pondok Gede dan berlokasi di dekat masjid, pemerintah kota Bekasi terus ditekan untuk menutup masjid Ahmadiyah.
Pada tanggal 14 Februari, pemerintah kota Bekasi menempelkan pemberitahuan penyegelan di tembok masjid dan menginformasikan bahwa Ahmadiyah dilarang melakukan kegiatan.
Sebulan kemudian, pada 8 Maret silam, gerbang masuk menuju masjid digembok oleh Satpol PP. Beberapa anggota Ahmadiyah yang masih terjebak di dalam masjid setelah salat Jumat, termasuk beberapa orang berusia lanjut, terpaksa dikeluarkan dengan menggunakan tangga di bawah guyuran air hujan.
Rahmat mengatakan bahwa tim pengacara dari LBH Jakarta dan YLBHI yang semalam ada di lokasi berupaya melakukan dialog dengan pejabat pemerintahan dan kapolsek sebelum penutupan masjid. Namun mereka menolak untuk berdiskusi.
Sudiana, bagian hukum pemerintah kota Bekasi mengatakan bahwa pemagaran dilakukan agar jamaah masjid patuh pada larangan kegiatan yang dikeluarkan dalam bentuk peraturan walikota tahun 2011.
Namun Rahmat mengatakan bahwa Satpol PP beralasan bahwa mereka hanya berusaha untuk menghindari terjadinya bentrok antara ormas Islam dengan Ahmadiyah setelah ada permintaan dari ormas Islam untuk menghentikan aktivitas.
“Mereka semata-mata takut sama FPI,” kata Rahmat.
“Kalau memang mereka menegakkan peraturan, mereka harusnya tahu bahwa di peraturan-peraturan tersebut hanya pelarangan penyebaran ajaran, dan tidak menyebutkan pemagaran, penggembokan dan pelarangan ibadah. Dakwah di dalam dan pendidikan untuk anak-anak kami kan tidak melanggar peraturan.”
Rahmat mengatakan tim pengacara Masjid Al-Misbah akan mensomasi walikota.
Sementara waktu, jamaah akan beribadah di rumah-rumah anggota Ahmadiyah.
“Kami akan beribadah di rumah-rumah anggota kami karena memang tidak ada satu celah pun disisakan untuk kami bisa masuk ke dalam masjid,” kata Rahmat.
“Sudah digembok, sekarang ditutupi seng. Aparat juga terus mengawasi masjid. Anggota kami yang datang disuruh pulang.”
Walikota Bekasi Rahmat Effendi tidak menjawab ketika dihubungi oleh Beritasatu.com.


Penulis: Camelia Pasandaran/FEB


Sumber :

http://www.beritasatu.com/nusantara/106113-masjid-ahmadiyah-bekasi-dipagari-seng-jamaah-salat-di-rumah.html

[Berita] Dikepung, 22 Jemaah Ahmadiyah Masih Terkurung di Masjid

         09 - 04 - 2013
         09:07 AM




KBR68H, Jakarta – Sebanyak 22 warga Jemaah Ahmadiyah Jatibening, masih terkurung di dalam Masjid al Mizbah, Bekasi, Jawa Barat. Mereka meminta polisi menjamin pengamanan diri dan aset berupa masjid milik mereka. Kuasa hukum Jemaat, Febi Yonesta mengatakan, mereka yang di dalam masjid bersedia ke luar kalau polisi memberikan jaminan tertulis pemenuhan permintaan tersebut.

"Jujur aja, kawan-kawan di dalam kurang percaya dengan itikad dari pemkot. Tapi, mereka sangat percaya dan menaruh harapan pada kepolisian dan kepolisian akan berdiri dan berpihak pada hukum dan kebenaran. Belum ada jaminan karena tidak adanya kepercayaan dari mereka pada perlindungan, baik diri dan aset," kata Febi Yonesta di luar pagar Masjid al Mizbah, Bekasi.

Semalam, Pemerintah Kota Bekasi, Jawa barat memagar dan menggembok masjid Ahmadiyah di Jatibening. Pemkot mengancam akan menahan aset masjid tersebut. Alasannya untuk menegakan peraturan walikota Bekasi terkait larangan aktivitas Ahmadiyah. Namun, jemaah Islam Ahmadiyah memprotes dengan berdiam di masjid mereka.


Sumber :
http://www.portalkbr.com/nusantara/jawabali/2544916_4262.html

[Berita] Bahas Soal Gereja dengan Pendeta, Bupati Bekasi Tinggalkan Pertemuan

         06 - 04 - 2013
         09:05 AM







KBR68H, Jakarta - Pertemuan antara puluhan pendeta bersama umat Kristiani dengan Bupati Bekasi Neneng Hasanah Yasin hari ini menemui jalan buntu. Bupati Neneng Hasanah justru meninggalkan para pendeta di tengah pertemuan. Pertemuan itu sedianya akan membahas tentang pelarangan pendirian rumah ibadah umat Kristiani di Bekasi. Salah satu pendeta yang ikut dalam pertemuan tersebut Erwin Marbun mengatakan, dalam pertemuan itu Bupati Bekasi tidak memberikan solusi sama sekali.

"Kami tidak ada dapat apa-apa, hanya beliau bilang hanya seperti itu saja. ketika, kalau dia menjelaskan soal Setu dipertanyakan tentang Setu dia bilang selesaikan dulu itu sesuai dengan aturan mainnya. Tapi ketika dihadapkan dengan Filadelfia yang sudah mempunyai kekuatan hukum tetap dia bilang tentang masyarakat. saya juga tidak mengerti? Tidak ada!," tegas Erwin kepada KBR68H.

Hari ini, puluhan pendeta dan umat Kristiani di Bekasi mendatangi kantor Bupati Bekasi. Pertemuan digelar untuk menyikapi maraknya pelarangan pembangunan gereja dengan dalih tidak memiliki Izin Mendirikan Bangunan IMB. Aksi pelarangan rumah ibadah dengan alasan tanpa IMB, sudah kerap terjadi selama tiga periode Bupati Bekasi yang berbeda.



Sumber :
http://www.portalkbr.com/nusantara/jawabali/2540251_4262.html

[Berita] Gereja Banyak Ditutup, Puluhan Pendeta Datangi Bupati Bekasi

         06 - 04 - 2013
         09:02 AM




KBR68H, Jakarta – Puluhan pendeta dan umat Kristiani di Bekasi siang ini mendatangi kantor Bupati Bekasi. Salah satu pendeta yang ikut dalam pertemuan tersebut adalah Erwin Marbun.

Menurut dia, pertemuan itu digelar untuk menyikapi maraknya pelarangan pembangunan gereja dengan dalih tak ada ijin mendirikan bangunan, IMB. Erwin Marbun menegaskan, aksi pelarangan berdalih IMB sudah berlangsung di tiga periode Bupati yang berbeda.

"Kebanyakan warga jemaat yang memiliki rumah Ibadat yang disegel, dirubuhkan dan dirusak itu masih dalam taraf mengajukan IMB. Gereja-gereja itu antara lain HKBP Philadephia dan terakhir di Setu,” ujar Pendeta Erwin Marbun saat dihubungi KBR68H.

Pendeta Erwin Marbun menambahkan, dalam pertemuan dengan Bupati Bekasi juga bakal dibahas soal nasib pendeta Palti Panjaitan dari HKBP Philadelphia yang dijadikan tersangka oleh Kepolisian. Pendeta Palti dituding melakukan penganiayaan dan perbuatan tidak menyenangkan. Pelapornya adalah pemimpin massa intoleran, Abdul Azis. Salah satu saksi dari HKBP Filadelfia, Hamonangan Manurung mengatakan, Pendeta Palti Panjaitan bersama sejumlah jemaat tidak pernah melakukan penyerangan.



Sumber :

http://www.portalkbr.com/nusantara/jawabali/2539635_4262.html

Saturday, March 23, 2013

[Review] Larangan Untuk Menghalang-halangi Orang Beribadah

         24 - 03 - 2013
         11:19 AM





         Halo semua. Alhamdulillah saya masih dapat memposting lagi. Pada kesempatan kali ini saya ingin membahas sedikit 2 ayat Al-Qur'an. Berhubung kemarin juga saya mendengar khutbah jum'at yang cukup menarik, jadi saya tertarik juga ingin membahasnya sekali lagi tentang khutbah yang saya dengar kemarin di masjid Al-Misbah, Jatibening, Bekasi. By the way, sudah 2 minggu belakangan ini saya shalat jum'at disana, dan pagar depan masih belum di buka, dan pagar dalam juga di gembok rantai besar. Sepertinya sudah semakin parah saja upaya-upaya oknum-oknum tertentu yang ingin menyegel masjid itu. Tetapi walau begitu, alhamdulillah tidak mengendorkan semangat kami untuk beribadah shalat jum'at berjamaah disana. Baiklah, kita langsung saja ya. 2 ayat yang saya ingin bahas adalah berikut ini :


----

Dan siapakah yang lebih aniaya daripada orang yang menghalanghalangi menyebut nama Allah dalam mesjid-mesjid-Nya, dan berusaha untuk merobohkannya? Mereka itu tidak sepatutnya masuk ke dalamnya (mesjid Allah), kecuali dengan rasa takut (kepada Allah). Mereka di dunia mendapat kehinaan dan di akhirat mendapat siksa yang berat. (Al-Baqarah : 114)


 

Dan janganlah kamu mengusir orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan petang hari, sedang mereka menghendaki keridhaanNya. Kamu tidak memikul tanggung jawab sedikitpun terhadap perbuatan mereka dan merekapun tidak memikul tanggung jawab sedikitpun terhadap perbuatanmu, yang menyebabkan kamu (berhak) mengusir mereka, (sehingga kamu termasuk orang-orang yang zalim). (Al-An'am : 52)

----


         Pada kedua ayat itu sekiranya lumayan jelas ya buat kita, bahwa kita tidak layak dan tidak pantas untuk menghalang-halangi seseorang maupun mengusirnya, sedangkan orang itu ingin beribadah menyeru kepada perintah Tuhan dan mencari keridhaan-Nya. Jadi janganlah kita berbuat demikian, melarang orang untuk beribadah di sebuah masjid, menyegel masjid-masjid, apalagi sampai ingin merobohkannya. Dan juga perlu kita perhatikan di ayat Al-Baqarah : 114 ini. Bahwa ayat ini bisa berlaku juga kepada kita yang tidak secara langsung ingin merobohkan masjid-masjid maupun melarang orang-orang untuk beribadah. Bagaimana bisa terkena kepada kita? Yaitu ketika kita menciptakan atau membuat sebuah dinding pada diri kita sendiri, sehingga kita menjadi malas atau enggan untuk beribadah di masjid-masjid Allah maupun untuk mendirikan shalat. Ya, ayat ini bisa berlaku juga kepada orang-orang yang seperti itu menurut saya. Jadi janganlah kita menghalang-halangi diri kita sendiri untuk mendirikan shalat maupun untuk beribadah di masjid-masjid Allah. Karena barang siapa yang tidak mendirikan shalat, maka sama saja dia dengan merobohkan agama itu sendiri. Jadi janganlah kita menghalang-halangi diri kita sendiri maupun diri orang lain untuk beribadah kepada Allah, maupun untuk pergi beribadah berjama'ah di masjid-masjid Allah.
         Yah, sekian sekiranya dari saya. Semoga postingan ini dapat bermanfaat, aamiin. Sampai jumpa lagi.

Wednesday, February 13, 2013

[Berita] Disayangkan, Pemkot Bekasi Tunduk pada Ancaman Ormas


         14 - 02 - 2013
         01 : 42 PM





         Ini beritanya :

         http://www.beritasatu.com/nusantara/96825-disayangkan-pemkot-bekasi-tunduk-pada-ancaman-ormas.html

----
Jakarta - Jaringan Ahmadiyah Indonesia menyayangkan sikap Pemkot Kota Bekasi yang tunduk pada ancaman salah satu organisasi massa (ormas) terkait rencana penyegelan masjid warga Ahmadiyah di Jalan Pangrango Terusan Nomor 44 Kelurahan Jatibening, Kecamatan Pondok Gede, Kota Bekasi, Jawa Barat.

Pernyataan tersebut disampaikan Firdaus Mubarik dari Jaringan Ahmadiyah Indonesia ketika dihubungi, Kamis (14/2).

Pihaknya telah mendengar rencana pembukaan cabang baru dari ormas tertentu yang selama ini memang sering menyerang warga Ahmadiyah. Kalau sebelumnya mereka berada di bawah kendali cabang di Jakarta Timur, kini dibentuk cabang baru di Bekasi.

“Ada kabar mereka buka cabang baru. Kabarnya, sebelum atau sesudah peresmian, mereka akan datang untuk menuntut penutupan masjid dan penghentian aktivitas,” katanya.

Diakui, wali kota Bekasi telah mengeluarkan surat keputusan tentang pelarangan kegiatan Ahmadiyah di Bekasi pada 2011. Ketika itu masjid Al-Misbah sempat ditutup Satpol PP selama beberapa bulan. Tetapi kemudian, warga Ahmadiyah bisa kembali menggunakan masjid tersebut. “Kami menyayangkan sikap Pemkot Bekasi yang bereaksi berlebihan atas tuntutan dan ancaman ormas tersebut. Masjid ini satu-satunya masjid Ahmadiyah di Kota Bekasi. Masjid Ahmadiyah lainnya lebih banyak di Kabupaten Bekasi,” kata Firdaus.

Sementara itu, imam masjid Ahmadiyah, Rahmat Rahmadiyah menyatakan dirinya mendapat informasi dari Polres Bekasi tentang rencana penyegelan masjid. “Intel polisi bilang, penutupan karena ada pembentukan ormas tertentu di Pondok Gede. Kantornya tidak jauh dari masjid kami,” katanya.

Dikatakan, selama ini masjid tersebut hanya digunakan untuk beribadah. “Sebenarnya apa kaitan kami dengan cabang ormas yang baru didirikan? Silakan saja mereka berdiri, selama saling menghormati dan menghargai. Kalau disegel, kami akan buka lagi setelah Jumat. Penyegelan harus dilakukan atas perintah pengadilan,” tegasnya.

----

         Apa-apaan ini? Jika benar karena itu, lantas apa hubungannya dengan mereka buka cabang baru di Bekasi? Benar-benar aneh !!!

Sunday, January 20, 2013

Fakta Mengenai Jema'at Ahmadiyah

         20 - 01 - 2013
         06 : 06 PM



         Baiklah, kali ini saya akan coba membahas atau memposting sebuah kekeliruan mendasar yang sudah mendarah daging di negara kita tercinta Indonesia ini. Harap di ingat bahwa saya tidak mencoba mengkontaminasi, atau mempengaruhi. Apalagi membenarkan suatu pihak maupun menyalahkan suatu pihak. Saya hanya mencoba menampakkan sebuah kebenaran yang sudah di lencengkan. Soal apakah itu?
                  Baiklah, kita langsung mulai saja. Persoalan ini adalah mengenai sebuah pandangan yang mengarah kepada jema'at Ahmadiyah. Apa saja itu? Banyak. Sekarang saya ceritakan dahulu sedikit latar belakang dari kehidupan saya. Saya adalah orang yang sudah di tinggal pergi (meninggal dunia) oleh Ibu kandung saya sejak saya kecil, kira-kira berumur 2 atau 3 tahun. Yang pasti saya tidak ingat wajah atau kenangan apapun tentang Ibu saya. Tidak lama Ayah ku pindah ke bekasi, dan menikah lagi dengan wanita lain. Sehingga aku besar di bekasi, dan bersama oleh Ayah dan Ibu tiri ku. Di komplek rumah ku yang di bekasi, ada 2 masjid yang jaraknya tidak terlalu jauh dari rumah ku.
         Dan ternyata masjid itu adalah masjid dari ormas Islam Nahdatul Ulama ( NU ) dan satu lagi Muhammadiyah. Sejak beranjak SMA, aku mulai menekuni belajar tentang Islam. Mungkin karena aku baru mulai mendapat hidayah di  masa SMA ini. Aku belajar membaca Al-Qur'an, Al-hadits, dan kitab-kitab lainnya. Aku pun mulai paham perbedaan-perbedaan, mahzab-mahzab, maupun dalil-dalil yang membedakan antara ormas NU dan Muhammadiyah. Aku mengenal ajaran kedua ormas tersebut, bahkan bisa di bilang aku belajar Islam dari mereka karena aku sering mengikuti pengajian-pengajian yang rutin mereka adakan tiap minggunya. Akhirnya aku pun mulai mendengar mengenai Ahmadiyah juga dari mereka. Aku pun dahulu berpikiran bahwa Ahmadiyah itu sesat, kalimat syahadat mereka berbeda, panutan mereka Mirza Ghulam Ahmad, kitab suci mereka bukan Al-Qur'an, pergi haji mereka bukan ke Mekah, dan masih banyak lagi. Tak lama setelah itu, aku mulai mengenal keluarga Ibu kandungnya.
         Awalnya aku tidak begitu dekat dengan keluarga Ibu kandung ku, karena memang mungkin karena Ayah ku juga yang sepertinya agak kurang ingin bersilaturahmi dengan keluarga Ibu kandung ku setelah berpisah dengan Ibu ku karena meninggal dunia. Jadi aku mulai mengenal keluarga Ibu kandung ku, dan ternyata aku baru tahu bahwa keluarga Ibu kandung ku itu rata-rata adalah Ahmadiyah. Mulai dari situ aku mencoba untuk tidak terpengaruh, aku bahkan mencoba untuk meluruskan mereka ke jalan yang benar.
         Tetapi begitu aku mengenal mereka, semua yang dikatakan kebanyakan orang maupun alim ulama kepada mereka ternyata tidak benar. Syahadat mereka masih sama, panutan / junjungan maupun syari'at nya pun adalah syari'at nabi Muhammad saw. Pergi haji nya pun ke mekah, kitab suci nya pun adalah Al-Qur'an. Aku sadar kalau ini adalah sebuah fitnah yang besar, yang kalau tidak ada yang mencoba meluruskannya maka pandangan ini akan terus berlanjut mendarah daging ke anak cucu kita. Karena itu aku mohon, ketika ada seseorang yang mengatakan bahwa Ahmadiyah begini begitu dsb, tanyakan kepada dia. 'Apa kamu sudah melihat sendiri mereka melakukan yang seperti itu?'.
         Allah swt dalam Al-Qur'an surat Al-Hujuraat ; 6 berfirman [Tafsir Ibnu Katsir] : 'Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.'. Ini merupakan perintah Allah langsung kepada kita, bahwa ketika ada berita datang kepada kita, maka kita harus memerika kebenaran berita tersebut meskipun berita itu datang dari orang yang fasik. Orang yang fasik adalah orang yang melanggar aturan-aturan agama, bahkan dari orang seperti itu pun kita diharuskan untuk memeriksa kebenaran sebuah berita, apalagi jika berita yang datang adalah dari orang yang sama-sama mengucapkan dua kalimat syahadat yang sama, mendirikan shalat, menunaikan zakat, berpuasa, dan sebagainya.
         Selama ini saya sudah menyelidiki, maupun mengkaji ajaran-ajaran Ahmadiyah. Mengenai ayat khaataman nabiyyin, imam mahdi, dan lain-lain. Dan sepanjang ini, menurut saya ajaran mereka tidak ada yang salah yang sampai bisa di sebut bukan Islam. Tapi saya tidak akan bahas mengenai ajaran mereka di postingan yang ini, mungkin di postingan yang lain. Karena jika saya mengatakan itu, maka itu berarti saya bisa di sebut mengkontaminasi maupun mempengaruhi anda kan? Sedang di posting awal saya tujuan postingan saya ini bukan untuk seperti itu, tujuan posting saya yang ini adalah untuk meluruskan pandangan yang selama ini telah keliru kepada jema'at Ahmadiyah.
         Jadi, aku sangat memohon. Jangan katakan Ahmadiyah itu bukan Islam. Kita sama-sama membaca kitab suci yang sama, menjalankan syari'at yang sama yaitu syari'at nabi Muhammad saw, sama-sama mendirikan shalat, menunaikan zakat, berpuasa, dsb. Ahmadiyah itu tidak ada bedanya dengan ormas-ormas lain yang ada di Indonesia seperti NU, Muhammadiyah, dll. Kita sama-sama Islam, jadi aku sangat memohon jangan saling bermusuhan hanya karena beberapa perbedaan pemahaman antara ayat suci Al-Qur'an dan hadist di antara kita.
         Sangat miris sekali ketika beberapa tahun yang lalu, masjid-masjid tempat ibadah Ahmadiyah di rusak, saling terjadi pertumpahan darah, kegiatan-kegiatan pengajian di larang, dsb. Dan juga ketika beberapa waktu lalu, ketika seorang jema'at Ahmadiyah di sebuah persidangan ingin bersumpah dengan kitab suci Al-Qur'an mereka di larang. Karena di anggap bukan Islam, mereka tidak di perbolehkan bersumpah dengan Al-Qur'an, tetapi mereka hanya di sumpah berdasarkan kepercayaan, miris sekali. Kamu tidak pernah tahu kan rasanya ketika sedang ada pengajian di rumahnya, rumahmu di timpuki batu. Dahulu di rumah nenek ku sering di adakan pengajian rutin, tetapi begitu ada kejadian penimpukan batu pengajian pun di hentikan. Sangat menyedihkan sekali rasanya.
         Baiklah, sebagai penutup, aku akan membagikan beberapa hadist dan ayat suci Al-Qur'an. Semoga postingan ini berguna, dan dapat membuka pandangan kita semua yang telah keliru selama ini tentang jema'at Ahmadiyah, aamiin.

         “Akan datang suatu zaman di mana tidak tersisa dari Islam, kecuali tinggal namanya saja, tidak tersisa dari Alquran kecuali tinggal tulisannya saja, masjid-masjid mereka megah dan semarak, tetapi jauh dari petunjuk Allah, ulama- ulama mereka menjadi manusia- manusia paling jahat yang hidup di bawah kolong langit, dari mulut mereka ke luar fitnah dan akan kembali kepada mereka.” (HR Baihaqi, dari Ali r.a)

         "Dan siapakah yang lebih aniaya daripada orang yang menghalang-halangi menyebut nama Allah dalam masjid-masjid-Nya, dan berusaha untuk merobohkannya? Mereka itu tidak sepatutnya masuk ke dalamnya (masjid Allah), kecuali dengan rasa takut (kepada Allah). Mereka di dunia mendapat kehinaan dan di akhirat mendapat siksa yang berat." (Al-Baqarah : 114)
       
         “Apabila seseorang menyeru kepada saudaranya: Wahai kafir, maka sungguh akan kembali sebutan kekafiran tersebut kepada salah seorang dari keduanya. Bila orang yang disebut kafir itu memang kafir adanya maka sebutan itu pantas untuknya, bila tidak maka sebutan kafir itu kembali kepada yang mengucapkan.” (Shahih, HR. Al-Bukhari no. 6104 dan Muslim no.60, dari Umar r.a)



         Terima kasih.
 
Free Website TemplatesFreethemes4all.comFree CSS TemplatesFree Joomla TemplatesFree Blogger TemplatesFree Wordpress ThemesFree Wordpress Themes TemplatesFree CSS Templates dreamweaverSEO Design